Saya setuju dan senang para pemimpin mo berdoa/berdzikir bersama tapi 
seharusnya hal ini dilakukan juga dari tingkat lurah s/d gubernur dan seluruh 
jajaran staf di semua kantor kementerian dan seluruh pegawai, staf dan pimpinan 
MPR, DPR dan DPRD. Yang muslim melaksanakannya di Mesjid setempat, yang 
Kristen/Katholik di Gereja setempat serta yang Hindu di Pura, yang Budha di 
Vihara dll.

Kalo perlu ditingkat RT/RW juga mengajak para warganya untuk melakukan hal yang 
sama, tapi ribet kali ya untuk pelaksanaannya....


  ----- Original Message ----- 
  From: Christovita Wiloto 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, March 10, 2007 4:03 AM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] berzikir (doa) nasional


  semoga contoh yang sangat baik ini bisa juga direspon & dicontoh oleh 
  kita, seluruh bangsa Indonesia dari berbagai lapisan, sesuai agama & 
  kepercayaannya masing2....dan semoga tidak hanya dibibir saja...

  salam
  christovita wiloto

  Kompas Sabtu, 10 Maret 2007 

  Pemimpin Diminta Mawas Diri 

  Jakarta, Kompas - Presiden, wakil presiden, dan hampir semua menteri 
  berzikir nasional seusai shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, 
  kemarin. Dalam khotbah dan uraian atas doa, dua ulama meminta para 
  pejabat yang datang berzikir itu untuk mawas diri (melihat, 
  memeriksa, dan mengoreksi diri secara jujur). 

  Dua ulama yang didatangkan itu adalah Direktur Jenderal Bimbingan 
  Masyarakat Islam Departemen Agama Nazaruddin Umar yang membawakan 
  khotbah dan pemimpin Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, KH 
  A Mustofa Bisri, yang memimpin zikir, Jumat (9/3). 

  "Mari kita semua mawas diri. Lihat kesalahan-kesalahan. Sudah banyak 
  terjadi bencana dan musibah, banyak dari kita (pejabat) yang merasa 
  tidak bersalah. Kita selalu melihat kesalahan orang lain sehingga 
  tidak melihat kesalahan diri sendiri," ujar Mustofa Bisri. 

  Sebelum zikir, Mustofa meminta semua pejabat, baik presiden, wakil 
  presiden, sejumlah menteri, maupun pejabat negara lain meletakkan dan 
  melupakan sejenak jabatan yang disandang. Dia mengajak semua pejabat 
  menunduk dan berzikir hanya sebagai hamba Allah. 

  Hampir semua menteri Kabinet Indonesia Bersatu hadir. Bahkan, karena 
  menilai zikir nasional itu penting, Menteri Koordinator Kesejahteraan 
  Rakyat Aburizal Bakrie hari itu batal berangkat ke Manggarai, Flores, 
  Nusa Tenggara Timur, untuk menengok korban banjir dan longsor. 
  Musibah di NTT sudah terjadi satu pekan sejak akhir pekan lalu. 

  Mustofa meminta, setelah mawas diri dan menemukan kesalahan, para 
  pejabat meminta maaf. "Selama ini, meskipun para pejabat telah 
  dislentik (disentil) berkali-kali oleh bencana dan musibah, perubahan 
  sikap belum juga terlihat," katanya. 

  Nazaruddin meminta para pejabat melihat amal kebajikan dan prestasi 
  spiritual yang telah dilakukan untuk rakyat. Amal kebajikan dan 
  prestasi spiritual dapat menjadi penolak atas bala atau malapetaka 
  dan cobaan. 

  "Amal kebajikan bisa menjadi referensi untuk menolak bala. Karena 
  itu, tidak perlu mistik. Menghadapi musibah, pertanyaannya adalah 
  punya prestasi spiritual apa kita untuk mengatasinya?" ujarnya. 

  Selain dihadiri para pejabat negara yang duduk di barisan depan, 
  zikir nasional juga dihadiri banyak perwira TNI yang datang 
  menggunakan bus. Tamu Presiden, yaitu rombongan delegasi yudikatif 
  Iran yang dipimpin Ayatollah Sayed Mahmoud Hashemi Shahrudi dan 
  Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam Irwandi Yusuf dan Wakil Gubernur M 
  Nazar turut berzikir. 

  Tentang prakarsa Presiden menyelenggarakan zikir nasional itu, Juru 
  Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng melihatnya sebagai hal biasa. 
  Biasanya selama ini Presiden shalat Jumat di masjid Istana 
  Kepresidenan. Wapres juga biasanya shalat Jumat di masjid Istana 
  Wapres. 

  Rakyat agar tenang 

  Menjawab pertanyaan pers seusai memimpin rapat koordinasi di Kantor 
  Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah di Jakarta, 
  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, kalaupun kabinet 
  mengalami pergantian, tujuannya untuk memperbaiki keadaan, bukan 
  karena adanya keinginan pihak-pihak tertentu. 

  Menurut dia, pergantian kabinet juga bukan karena adanya surat yang 
  masuk yang menyatakan dirinya siap untuk menjadi menteri bidang 
  tertentu, apalagi karena adanya titipan dari pihak-pihak tertentu. 

  Presiden yang didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah 
  menteri ekonomi terkait itu mengatakan, "Reshuffle, tentu, banyak 
  dinamikanya." 

  Dia mengajak semua pihak mengikuti norma demokrasi dan pemerintahan 
  yang baik agar rakyat tidak bingung. 

  "Saya minta rakyat tenang, pemerintah terus bekerja. Ada atau tidak 
  ada reshuffle, kita akan bekerja terus untuk mengatasi masalah," 
  katanya. 

  Presiden Yudhoyono meminta rakyat Indonesia dan masyarakat luas untuk 
  tidak menggaduhkan soal pergantian kabinet. 

  "Pemerintah memerlukan situasi agar bisa bekerja dengan baik. 
  Reshuffle dimungkinkan apabila mempunyai tujuan yang oleh saya, itu 
  dipandang perlu untuk dijalankan," kata Presiden. 

  Nasib Hatta 

  Tentang pergantian kabinet, Wapres Kalla menyatakan, kapan pun, 
  sesuai dengan hak prerogatif yang dimiliki Presiden, pergantian 
  kabinet bisa dilakukan. Pergantian itu, katanya, akan 
  mempertimbangkan banyak faktor, di antaranya kinerja, kemampuan, dan 
  kondisi menteri. 

  "Dengan reshuffle, tentunya Presiden ingin agar pemerintahan berjalan 
  efektif. Jika tidak efektif karena ada masalah-masalah, kementerian 
  kita harus diefektifkan dengan berbagai cara. Kalau memang dibutuhkan 
  reshuffle, maka akan dilakukan reshuffle," katanya. 

  Ditanya tentang pergantian Menteri Perhubungan Hatta Rajasa, Wapres 
  mengungkapkan, Presiden masih mempertimbangkannya. 

  "Tentu, soal pergantian itu menjadi keputusan Presiden, dan bukan 
  keputusan Wapres, karena Presiden yang bisa mengganti menteri. Kalau 
  soal itu (pergantian Hatta), tentunya hal itu masih dipertimbangkan," 
  katanya. (INU/HAR) 




   

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke