> Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/12/utama/3376612.htm > ======================= > Menurut Darmaningtyas, kasus bunuh diri menunjukkan makin merosotnya > kepedulian dan solidaritas sosial di masyarakat. Selain itu, bukti > ketidakpedulian aparat pemerintah terhadap warga miskin. Kasus bunuh > diri berlatar belakang kemiskinan harus dicegah dengan memberantas > kemiskinan. (DIA/RWN)
~ Kalau melihat ilustrasi secara keseluruhan dari keluarga ini, (yg menempati rumah dilahan seluas 15x25 meter,-rumah pibadi kan?-) dan melihat kemampuan keluarga ini menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah swasta di Malang, maka saya kurang sependapat kalau alasan kemiskinan yg dijadikan sbg alasan untuk bunuh diri. Whatever, yg meninggal meninggal, semoga arwah mereka diterima di sisi Tuhan, cuma bagi kita yg masih hidup, kasus2 seperti ini bisa kita jadikan pelajaran. Bahwasanya SETIAP manusia memiliki persoalan mereka masing-masing adalah hal yg mutlak, kalau kita cukup punya harta misalnya, tetapi godaan/cobaan datang dari anak, adik, istri, suami,ayah,ibu, atau bahkan tetangga atau kolega kita, yg pada prinsipnya orang2 yg dekat dgn kita membuat hidup kita ´terasa´ bermasalah. Saya kasih tanda kutip pada kata ´terasa´ karena masalah ini ada hanya ada di lingkup "rasa" kita yg mana karena kita terlalu fokus pada diri sendiri, sehingga apapun yg terjadi pada kita atau sekitar kita akan kita rasakan sebagai tanggung jawab atau masalah bagi kita. Saya percaya hal-hal seperti ini masuk dalam lingkup psikologis manusia. Soal kemiskinan di Indonesia, kalau hal ini yg dijadikan alasan untuk "bunuh diri massal" maka datangnya BUKAN dari kelurga macam ini (Kelurga Mercy),masih banyak dan banyak lagi keluarga yg hidup tanpa rumah atau hidup di rumah kontrakan atau ikut mertua atau numpang tetangga/ teman dekat atau yg nekat hidup di pinggiran jalan atau stasiun kereta api, mereka-mereka ini akan "lebih pantas" menjadikan kemiskinan sebagai alasan untuk bunuh diri. Pendek kata,saya tidak sependapat dgn analisa Darmaningtyas soal akibat bunuh diri ini, saya percaya bahwa alasan psikologis (kejiwaan)lah yg menyebabkan kenekadan ibu muda Mercy yg malang. Melihat tingginya gaya hidup masyarakat Indonesia yg gila-gilaan dalam soal konsumtif-nya, saya percaya siapa saja yg tidak kuat untuk besaing merebut "gengsi" akan terjebak dalam persoalan kejiwaan yg bisa menyebabkan mereka stress dan akhirnya ambil jalan pintas "bunuh diri", krisis moral dan mental yg melanda masyarakat Indonesia akhir-akhir ini jauh lebih mengerikan dari pada krisis ekonomi dalam amatan saya. Kalau soal ekonomi, akan relatif mudah untuk mencari jalan keluarnya,asal ada upaya serius,terpadu, terkonseo dan dijamin oleh UU, tapi kalau yg bermasalah (krisis) adalah moral dan mental mereka, maka CARA apapun akan dilakukan demi "pemuasan diri" termasuk dgn cara bunuh diri ini. Krisis moral dan mental ini akan menghancurkan semua upaya untuk perbaikan ekonomi dan kesejahteraan rakyat, Jaman ORBA banyak juga orang miskin, tapi setidaknya mereka damai dan guyup dalam kemiskinan mereka, tidak seperti sekarang ini, jangan kata yg miskin, yg sudah kaya dan jadi pejabat negara-pun malah lebih besar terkena virus krisis moral dan mental ini, akibatnya mereka berlomba-lomba "mengejek" kemiskinan rakyat dgn cara pamer kekayaan dan kemewahan, ini yg membuat rakyat semakin tenggelam dalam krisis yg multi demensional ini. Saya percaya, semua masyarakat Indonesia harus mulai calm down, harus mulai mawas diri dan memulai membudayakan sikap "rendah diri", jangan terus2an saling kecam dan hujat antar kelompok, jangan lagi kecam para pahlawan yg jelas2 pernah membawa Indonesia ke jaman keemasan (Pak Harto maksud saya), sejak jaman reformasi tsb, emosi dan nafsu masyarakat Indonesia ada di ubun-ubun, namanya emosi, maka yg namanya "otak" (pikiran jernih) jarang lagi dipakai,akibatnya adalah atmosfir di bumi Indonesia yg panas dan tata sosial masyarakat yg chaos. Semoga tidak akan ada lagi keluarga yg jatuh menjadi korban dari panasnya atmosfir bumi pertiwi dan kelamnya harapan masa depan negara dan bangsa ini. Kita butuh penyatuan VISI untuk menjaga eksitensi negara dan bangsa kita. Salam prihatin,
