Oleh Azyumardi Azra 
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif 
Hidayatullah, Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/13/utama/3377616.htm
===========================

Sepanjang ingatan kolektif kita, agaknya sedikit sukar menemukan 
zaman di mana keadaan sosial, ekonomi, dan psikologis bangsa 
Indonesia lebih sulit daripada masa akhir- akhir ini. Jelas kian 
banyak kesulitan yang dihadapi masyarakat kita; kesulitan itu 
merupakan akumulasi dari berbagai masalah sejak dari kesulitan 
ekonomi yang kian meningkat, deprivasi sosial yang kian luas, sampai 
kepada trauma sosial dan psikologis akibat bencana berkepanjangan. 
Dampak lebih lanjut dari semua masalah itu adalah meningkatnya sikap 
pasrah dan apatis atau putusnya asa dalam masyarakat. 

Bahwa Indonesia kini berada dalam masa yang kian sulit, hal itu tidak 
hanya dirasakan warga negeri ini; banyak pengamat asing juga 
mencemaskan Indonesia. Salah satunya adalah Andre Vitchek, novelis 
dan senior fellow di Oakland Institute Amerika Serikat, seperti 
terlihat dalam tulisannya yang dimuat dua koran internasional, The 
International Herald Tribune dan The Financial Times pada 12 Februari 
2007. Judul tulisan itu cukup dramatis, "Indonesia: Natural Disasters 
or Mass Murder", dengan isinya yang membuat miris. Artikel ini 
diterjemahkan secara sukarela oleh beberapa penerjemah ke dalam 
bahasa Indonesia dan tersedia dalam banyak situs internet dan milis. 

Bisa dipastikan, artikel Vitchek itu bisa bernada lebih miris lagi 
jika dia melakukan pemutakhiran data dengan terjadinya berbagai 
bencana pascapenerbitan tulisan tersebut. Lihatlah, sejak tulisan itu 
terbit, masih ada sederet bencana, sejak karamnya kapal Levina I, 
tanah longsor di Manggarai (Flores) dan beberapa tempat lain, gempa 
di Sumatera Barat, terbakarnya GA-200, angin puting beliung di 
sejumlah daerah, dan—meski tidak kita harapkan—agaknya masih akan ada 
lagi. 

Maka, tulis Vitchek, Indonesia kini sudah menggantikan Banglades dan 
India sebagai negara yang paling rentan di dunia dalam hal bencana 
alam yang memakan begitu banyak korban manusia. Menurut dia, 
Indonesia kini menjadi "ladang pembantaian massal" karena sejak 
bencana tsunami di Aceh pada Desember 2004, Indonesia telah 
kehilangan lebih dari 200.000 warganya dalam berbagai bencana alam; 
angka ini belum termasuk mereka yang tewas di jalan raya dan konflik 
komunal, seperti di Poso. Dengan angka sebesar itu, korban bencana di 
Indonesia dalam waktu tiga tahun terakhir lebih banyak daripada 
mereka yang tewas selama Perang Irak, atau perang saudara di Sri 
Lanka, atau di Peru. 

Namun, kita mungkin masih bisa bersyukur bahwa bagi masyarakat—
khususnya kalangan bawah dan menengah—kesulitan yang cenderung 
meningkat itu tidak atau belum mereka alirkan ke kancah politik. 
Memang, belakangan ini terlihat gejala peningkatan "kegelisahan" di 
kalangan elite politik yang menuntut pencabutan mandat kepemimpinan 
nasional atau kembali naskah asli UUD 1945. Akan tetapi jelas belum 
terlihat adanya gerakan politik dalam skala massal dan besar, yang 
dapat memunculkan masalah politik dan keamanan serius. Memang ada 
gejala kekerasan yang terjadi dari waktu ke waktu, tetapi umumnya 
bersifat lokal dan sporadis; belum menjadi gerakan sosial berskala 
luas yang dapat berujung pada biaya-biaya sosial, ekonomi, dan 
politik sangat mahal. 

Sering mengklaim Indonesia sebagai bangsa "religius", para agamawan 
dan pemimpin politik hampir selalu menyatakan, di balik setiap 
masalah dan bencana ada hikmahnya. Namun, sementara bencana demi 
bencana terus terjadi, hikmah yang diharapkan itu tidak juga terlihat 
dan disadari manusia-manusia Indonesia, seperti gambaran karikatur 
Kompas (Sabtu, 9 Maret 2007). Agaknya, jika hikmah yang ditunggu-
tunggu itu tidak muncul juga, bukan tidak mungkin asa bagi perbaikan 
keadaan semakin menipis pula, sehingga dapat mendorong orang menempuh 
cara mereka sendiri dalam mengatasi berbagai impitan yang mendera 
masyarakat. 

Kajian-kajian tentang gerakan sosial (social movement) di Indonesia, 
seperti banyak dilakukan sejarawan terkemuka senior Sartono 
Kartodirdjo menunjukkan, berbagai keresahan sosial (social unrest) 
karena bertubi- tubinya impitan sosial, ekonomi, dan politik sangat 
berpotensi memunculkan gejala-gejala lanjutan tidak kondusif lainnya. 
Pertama, dapat menimbulkan perlawanan dan bahkan "pemberontakan" 
terhadap otoritas politik yang dipandang tidak berbuat apa-apa, atau 
dianggap membuat keadaan kian sulit. Kedua, mencari perlindungan dan 
pertolongan eskatologis yang diyakini dapat membalikkan keadaan, 
daripada yang sangat sulit menjadi lebih baik. 

Gejala kedua (eskatologisme) ini kelihatan meningkat di Tanah Air 
sejak masa pasca-Soeharto, dengan terbukanya "kotak pandora" yang 
terus mengeluarkan banyak kesulitan. Gejala ini terlihat misalnya 
dalam berbagai bentuk seruan dan aksi seperti "taubat 
nasional", "istigosah", zikir massal pada tingkat lokal dan nasional, 
atau "ruwatan" berdasarkan tradisi masyarakat Jawa, dan tradisi 
spiritual lokal lainnya. Bahkan, berikutnya acara "taubat" dan "zikir 
nasional" di Masjid Istiqlal, Jumat pekan lalu, yang dihadiri 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan 
pejabat tinggi lainnya. Departemen Agama akan menyelenggarakan acara 
semacam itu tiga kali sebulan. Semua ini pada dasarnya merupakan 
upaya menggantungkan asa pada kekuatan eskatologis di luar diri 
manusia dan masyarakat; dan, karena itu, dalam logika murni, sulit 
diharapkan dapat memperbaiki keadaan. 

Agama dan tradisi spiritualitas memang mendorong manusia agar 
senantiasa memiliki asa dengan memanjatkan banyak doa, zikir, atau 
ibadah dan ritual lainnya. Sebaliknya agama melarang mereka berputus 
asa. Namun jelas, penumbuhan asa dengan sandaran kerohanian belaka 
hanya dapat mendatangkan ketenangan psikologis sesaat; karena agama 
tidaklah memberikan solusi instan terhadap berbagai masalah yang 
secara aktual dihadapi manusia. Agama pun menekankan pentingnya upaya 
dan ikhtiar sesuai dengan kemampuan maksimal anak manusia. 

Oleh sebab itu, asa yang tidak ilusif harus ditumbuhkan dengan upaya 
dan ikhtiar yang terencana, dan terpadu, yang dijalankan dalam 
semangat dan etik disiplin nasional baik oleh pemimpin, masyarakat, 
maupun individu. Pihak paling bertanggung jawab dalam hal ini tentu 
saja adalah pemerintah yang berkewajiban melindungi warga negara 
untuk tidak terus menjadi korban bencana yang semestinya bisa 
dihindari atau dikurangi, jika tidak dapat dihilangkan sama sekali. 
Karena itu, sudah saatnya elite pemerintah dan politik meninggalkan 
retorika politik yang penuh basa-basi, dan sebaliknya mengambil 
langkah dan kebijakan lebih desisif dan afirmatif. Jika tidak, asa 
dan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan elite politik 
pastilah terus merosot. Kalau sudah begitu, Indonesia tetap kian 
terpuruk. 

 



Kirim email ke