http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=2866&c_id=6&g_id=18


(berpolitik.com):: Pilkada Jakarta kembali dihangatkan adanya kandidat Gubernur 
yang tebar 'gizi'. Isu ini kembali menyeruak menyusul terjadinya pertikaian 
internal di dalam Partai Damai Sejahtera. Dari perselisihan itulah,terkuak 
kabar, Fauzi Bowo menebar "gizi" ke partai ini sebesar Rp 10 milyar yang 
dibayar bertahap.

Pengakuan adanya sogokan politik itu diungkapkan oleh Robert Dede Bangun, wakil 
ketua PDS Jakarta. Robert dan sejumlah pengurus PDS Jakarta lainnya terancam 
dipecat karena masih ngotot mengusung nama Agum Gumilar, selain Fauzi, ke DPP 
PDS.

Dalam wawancaranya dengan Kantor Berita Radio 68 H, Robert menyatakan, "Pak 
Ninno (Constantin Ponggawa, Ketua DPD PDS Jakarta--red) di dalam rapat pleno, 
dia mengatakan demikian, bahwa Rp 2,5 milyar akan diberikan kepada PDS, kalau 
cuma Fauzi Bowo saja yang didukung PDS. Jadi Fauzi Bowo akan memberikan Rp 2,5 
milyar sesudah Rakerwil selesai, dengan ketentuan satu nama diusung ke DPP."

Tak berhenti di situ, kucuran uang juga akan mengalir ketika kampanye dan 
setelah Fauzi terpilih sebagai Gubernur."Sesudah gitu, Rp 2,5 milyar lagi, pada 
saat kampanye. Sudah gitu Rp 2,5 milyar lagi setelah Pak Fauzi Bowo menjadi 
gubernur. Tapi rapat pleno terakhir, diberitakan oleh Pak Ninno, bahwa itu 
(dananya.red) ditambah lagi Rp. 2,5 milyar, jadi seluruhnya Rp 10 milyar," 
ujarnya. 

Adanya dugaan sogokan politik ke PDS ini tak ayal membumbungkan pertanyaan 
nakal, seperti berapa yang diterima PPP dan Golkar, dua parpol yang juga sudah 
membulatkan dukungan kepada satu nama, Fauzi Bowo.

Pertanyaan ini mengemuka lantaran perolehan kursi kedua partai hampir dua kali 
lipat dari yang diperoleh PDS. Sebagaimana diketahui, PPP dan Golkar sama-sama 
meraup 7 kursi, sedangkan PDS hanya 4 kursi saja di DPRD Jakarta. Namun, sejauh 
ini, belum beredar kabar adanya sogokan politik ke dua parpol tersebut.

Sebelumnya, Foke, begitu sapaan Fauzi Bowo, juga dihubung-hubungkan dengan 
informasi yang beredar mengenai adanya 'kesepakatan' seorang kandidat dengan 
sebuah partai politik besar. Menurut info yang diteruskan dari satu sms ke sms 
itu, parpol itu meminta "gizi" yang nilainya terbilang fantastis, Rp 500 
milyar. Setelah ditawar, konon, disepakati pada harga Rp 300 milyar yang 
dibayar dalam 2 termin. 

Dalam sebuah diskusi tentang banjir yang berlangsung pekan lalu di Jakarta, 
pengamat politik Sukardi Rinakit menyatakan angka sebesar itu tidaklah 
fantastis buat ukuran Jakarta. "Lihat saja APBD-nya yang mencapai 20-an 
trilyun. Kalau tiap tahunnya dibancak 100 milyar, sudah kembali modal kan?" 
ujarnya menjawab pertanyaan seorang peserta diskusi.

Tapi, tak hanya mantan bendahara Golkar ini saja yang diserempet isu sogokan 
politik (istilah yang lebih tepat untuk money politics). Adang Daradjatun pun 
sempat disebut-sebut memberikan "mahar" sebesar Rp 2 juta dollar AS ke PKS. 
Transaksinya, konon, dilakukan melalui bank Century. Belakangan, Adang dan 
pihak PKS membantahnya tatkala diwawancarai MBM Tempo (edisi September 2006).

Menarik ditunggu, siapa lagi yang bakal terserempet isu panas ini.***


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke