http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-789%7CX
Selasa, 13 Maret 2007
Angka Kekerasan Akibat Poligami di Yogya Tinggi
Jurnalis Kontributor: Latifah
Jurnalperempuan.com-Yogyakarta. Di negeri ini posisi perempuan dan anak dalam
keluarga secara kultural cukup rentan terhadap kekerasan. Kerentanan ini
semakin terlihat saat suami memutuskan untuk berpoligami. Banyak perempuan dan
anak yang lantas menjadi korban dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam hal
pemenuhan kebutuhan fisiologis maupun psikologis. Data Rifka Annisa menunjukkan
bahwa pada tahun 2006 terdapat 102 kasus kekerasan yang diakibatkan oleh
poligami. Nukman Firdusie, dari IHAP (Institut Hak Asasi Perempuan),
mengungkapkan data tersebut dalam seminar Hari Perempuan Sedunia 2007 di
University Center UGM, Yogyakarta, pada Kamis (8/3).
Meskipun terbukti mengakibatkan banyak penderitaan bagi perempuan dan anak,
masyarakat masih menganggap poligami sebagai sebuah kelaziman. Sri Natin,
peneliti di PSW UGM, melihat bahwa para orang tua yang mempunyai anak pempuan
yang dinikahi secara poligami umumnya tidak keberatan, bahkan terkadang justru
berharap mendapatkan ?tuah? dari pelaku poligami yang berasal dari kelas sosial
dan ekonomi yang lebih tinggi. ?Di masyarakat adat sepertinya ada pandangan
sah-sah saja orang yang melakukan poligami karena ada ukuran kepantasan atau
kelayakan jika seseorang itu melakukannya, yaitu jika mereka merupakan orang
terpandang dan mempunyai banyak kelebihan.?
Menurut Nukman, sebagian besar kasus kekerasan tersebut adalah pemalsuan
identitas ketika melakukan poligami. Di luar itu masih banyak dampak lain yang
terjadi pada perempuan yang baru dinikahi, istri terdahulu, dan anak pelaku
poligami, baik secara fisik maupun psikologis. Namun, yang banyak berkembang di
masyarakat justru keluarga perempuan menganggap perkawinan seperti itu dapat
mengangkat derajat keluarga sehingga mengabaikan akibat-akibatnya yang sangat
merugikan perempuan tersebut.*