Pak Suprijodio(maaf kalau salah sebut)
Walau anda sudah lama tidak membuka FPK, tapi pandangan anda tentang
kehidupan kususnya kehidupan sosial masih sangat realistis dan relevant seperti
dulu. Saya juga punya pandangan mirip pak Suprijodio, akan hal sinetron
Indonesia, bosan melihat karena sampai hari ini belum ada sinetron yang membuat
kisah tentang pejabat yang korup. Saya juga belum pernah melihat sinetron yang
menceritakan tentang perkampungan kumuh atau sinetron tentang gubug2 di sekitar
rel kereta api. Kapan TV2 di indonesia akan membawa cerita nyata di layar TV ?.
Ataukah ini adalah sebuah gambaran bahwa masyarakat kita masih suka menghayal
daripada melakukan hal yang nyata.
memang benar bahwa sinetron adalah dongeng tapi dongeng yang paling baik
adalah dongeng yang dapat menggambarkan kenyataan dalam kehidupan, bukankah
demikian?
Di lain pihak kita harus akui kemajuan media2 cetak di indonesia, pelan tapi
pasti para pelaku korupsi akan di keluarkan-nya dari lubang persembunyian-nya.
Seharusnya di Indonesia ada sebuah wadah/badan yang dapat memayungi dan
mendorong wartawan2 media cetak untuk lebih berani menerobos ke lobang2
per-korupsi-an dan bagi yang berhasil membuka tabir lingkaran korupsi akan di
berikan piagam(dan atau piala kehormatan) dan juga uang tunai sebagai insentiv.
saya setuju dengan ajakan untuk tidak nonton sinetron, lebih baik gunakan
waktu pergi bermain cangkul di kebun atau tanam sayur di pekarangan. Kalau
tidak ada kebun dan pekarangan, gunakan waktu untuk baca2 koran, kalau tidak
ada uang untuk beli koran, baca yang bekas-pun boleh.
tanah air-ku aku sayang kau
suprijodio <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya sudah lama sekali nggak mbuka FPK. Pada salah satu posting saya
dulu saya pernah sampaikan bahwa sebaiknya kita memang TIDAK USAH
NONTON SINETRON SAMA SEKALI. Mbak dinda bener, kita bisa jadi BODOH.
Apalagi sinetron2 yg sepertinya berlatar belakang keagamaan seperti
HIDAYAH dan semacamnya. Justru isinya malah MENDANGKALKAN AKIDAH.
Makanya di rumah saya MELARANG siapa pun (termasuk tamu) untuk nonton
sinetron2 yang TIDAK MEMBERI NILAI TAMBAH malah memperBODOH.
Belum lagi yg berisikan MISTIS, kenakalan anak sekolah,
materialistik, dsb.
Kita memamng gak habis pikir. Apa stasiun2 TV itu gak punya NALAR
alias AKAL SEHAT ya?
Kalo penulis skenario sinetron kita memang BUKAN SENIMAN PENULIS.
Semuanya cuman jadi2an yg asal nulis, makanya TIDAK NYENI dan
dialognya pun TANPA BOBOT.
Kalau perlu kita buat GERAKAN ANTI SINETRON! Gimana?
Trims
MASPRI
--- In [email protected], "Edy P"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mbak Dinda,
>
> Memang sangat memprihatinkan apa yang selama ini banyak
dipertontonkan kepada masyarakat melalui layar kaca, khususnya dalam
berbagai sinetron, yang cenderung mengangkat masalah-masalah
kasuistik untuk dijadikan konsumsi umum yang pada gilirannya akan
mematri dalam pikiran dan pandangan pemirsa bahwa fenomena seperti
itu sudah biasa dan menjadi kebiasaan masyarakat kita.
>
> Kalau mbak Dinda menyebutnya itu sebagai pembodohan, saya
mendukung. Bahkan itu proses pendunguan (menjadikan orang menjadi
dungu). Memang orang boleh saja komentar, "ya kalau tidak suka tidak
usah menonton" atau "kalau memang tidak pengen terpengaruh ya jangan
menonton"; tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Banyak di antara
pemirsa kita tidak memiliki kekuatan daya saring (filtering) terhadap
apa yang disuguhkan di layar kaca atau di bergai media lainnya.
>
> Maka saya usul, hendaknya para produsen sinetron dan acara publik
itu menggunakan logika sosial yang tepat sehingga tidak mengambil
kesimpulan tanpa premis-premis minor yang mencukupi untuk ditarik
kesimpulan yang lebih umum.
>
> Makasih.
Lodovikus Sintus
VisitMyWebAndBlog
http://www.cottagesfortwo.com
http://www.phillipisland-accommodation.com
http://english-indonesian.blogspot.com
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.
[Non-text portions of this message have been removed]