setuju pak zugarsonic - pembelajaran formal dan informal perlu jadi kebutuhan 
primer masyarakat.....
  yang saya kurang setuju adalah gerakan anti sinetron 
  karena sinetron kan media 
  jadi isinya saja yang perlu diolah lebih berbobot gitu
   
  sinetron yang cukup berbobot juga ftv (film televisi) yang mengangkat tema 
edukatif sebenarnya masih 'ada' , ditayangkan televisi kita
  seperti dunia tanpa koma, kiamat sudah dekat, si unyil, dll..
  tapi ratingnya memang gak setinggi yang mistik, 'kejar tayang', 'khayalan', 
dan sejenisnya
   
  dan karena yang lebih banyak nonton sinetron adalah ibu-ibu, anak muda, anak 
kecil, dan yang punya banyak waktu di rumah...
  memang pembelajaran informal lewat sinetron tuh paling efektif
   
  salam,
  yolanda

zugarsonic <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Saya sangat setuju dan sangat mendukung GERAKAN ANTI SINETRON, tapi...
kalau melihat banyaknya stasiun TV yg menayangkan, dan banyaknya 
iklan...
Berarti mayoritas rakyat Indonesia memang sangat menyenangi sinetron.
Stasiun2 TV kan berusaha memenuhi selera pasar, spy dpt iklan banyak, 
walaupun (mungkin) ada sedikit idealisme (mudah2an)
Dan dalam alam DEMOCRAZY suara minoritas harus mengalah pada suara 
terbanyak (?!) Atau harus ada UNDANG-UNDANG ANTI SINETRON?? :-)
Mungkin harus mulai dari dasar: Meningkatkan MUTU PENDIDIKAN di 
Indonesia, shg:
1. lambat laun Mayoritas masyarakat tidak suka sinetron yg tidak 
berbobot
2. pembuat sinetron pun makin berbobot

TRIMS
PSB

Kirim email ke