Yah.. Andi, dunia binatang dipakai lagi. Monyet-monyet itu kalau bisa ngomong "Gue lagi kena" sembari bete mukanya. Sudah dibilang berkali-kali lo sama saya dan lainnya kalau kita ini manusia looo. Manusia yang harkatnya lebih tinggi dari binatang. Kok herannya banyak ya dari antara kita mau-maunya disamakan dengan binatang. Sekalipun saya penyayang binatang lo.
Jadi ingat keponakan saya yang masih kecil kalau dikasih tahu ya ngeyel pisan. "Popo jangan begitu itu kalau mau bobo dikasur dong masa di ubin. kan kotor." kata mamanya. Mau tahu dia jawab apa? "Ah mama pilih kasih! Itu si Pompom tidur dimana aja boleh! Mau pipis di pohon juga boleh! Mau ngorek-ngorek tanah juga boleh! Kok Popo, mama larang sih?" Pompom itu nama anjingnya. Pertanyaan saya selanjutnya kita mau jadi manusia apa mau jadi monyet, hayooooo?? Aku sih pilih jadi manusia ah. Biar bisa shopping ke mall gitu lo. Mana ada monyet shopping? Paling banter pergi ke pasar bareng Sarimin. Heheheheh! [Laura] ----- Original Message ---- From: si_andi <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, March 13, 2007 2:29:24 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RELATIVITAS GENDER-untuk si Andi Tega itu kan ungkapan kasih sayang, Mbak (juga buat Mbak Laura). Jangan dipolitisir begitu. Saya juga mana tega melihat isteri ngepel, tapi kalau sudah gilirannya ya mesti tega. Kalau tidak, karena sayang bisa-bisa semua kerjaan rumah tangga saya semua ngerjain. Saya percaya dia juga begitu melihat saya. Gitu lho. Balik lagi, biar diskusi enggak kemana-mana, premis saya masih sama, perempuan itu lebih senang pasangannya yang memimpin dan itu bukan cuma salahnya Mas Konstruksi Sosial tadi (kasian disalahkan melulu). Ini sudah sejak zaman manusia dan monyet masih susah dibedakan. Kalau nonton discovery channel, singa atau monyet yang punya harem banyak selalulah yang dominan, yang badannya besar dan selalu menang berkelahi. Sementara yang jantan kelas dua akhirnya hidup menjomblo tidak punya keturunan. Nah, padahal para hewan betina ini kan punya pilihan untuk kawin dengan si kelas dua yang bakal lebih penurut ini. Tapi mengapa mereka mau dipoligami sama si jantan yang dominan coba? Karena sifat-sifat dominan ini dari sononya sudah terbukti menghasilkan keturunan yang dominan juga dan berarti survival ratenya lebih tinggi. Jadi biar anak-anaknya survive, hewan betina harus mencari pasangan yang dominan. Tidak bisa yang kelas dua. Berhubung 98% gen kita dan gen monyet itu sama, yang seperti ini sudah terprogram juga dalam naluri manusia yang perempuan. Kalau tidak ada informasi lain, maka pilihan pertamanya adalah lelaki yang dominan; kulit luarnya tentu dari bentuk tubuh (tinggi besar) dan kelakuan (percaya diri, jelas apa maunya). CUMA, ada cumanya, berhubung manusia itu sudah lebih maju dari hewan, maka faktor pandangan pertama itu lantas harus disuplemen dengan pandangan kedua: apa orang ini bisa diandalkan, apa karena ganteng terus jadi s3 (selingkuh sana sini), apa orang ini egois? Ini yang menyebabkan pilihan logis jatuh pada orang mungkin dari luar tidak kelihatan memimpin. Kalau tidak begitu ya kasian orang-orang yang seperti saya ini... Andi
