PADANG, KOMPAS.com - Almarhum mantan presiden RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus 
Dur, merupakan tokoh yang sering  membela kaum terindas. "Gus Dur mempunyai 
keberanian dan pembelaan yang tinggi terhadap kamu tertindas. Bahkan, berani 
mengambil resiko untuk membantu orang lain," kata tokoh muda Sumbar, Chardinal 
Putra ketika diminta pandangannya tentang sosok Gus Dur, di Padang, Rabu.

Menurut Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Batusangkar itu, Gus Dur 
adalah sosok pemimpin yang kharismatik setelah Bung Karno, Bung Hatta dan Agus 
Salim. Perjuangannya untuk rakyat tertindas, lahir dari nuraninya tanpa 
mengharapkan suaru imbalan dibalik upaya yang dilakukanya.
     
"Kepergian Gus Dur, jelas meninggalkan duka bagi Indonesia. Tapi, momentum bagi 
generasi calon pemimpin mendatang sehingga muncul Gus Dur baru, Bung Hatta Baru 
dan lainnya yang berjuang tulus untuk kepentingan rakyat," katanya.

Kendati demikian, ada yang merasa tersinggung ketika Gus Dur bicara atau 
melahirkan gagasan semasa hidupnya, Chardinal menilai, itu dikarenakan 
orang-orang tersebut merasa terhalang langkahnya. "Sebab, apa yang di bicarakan 
Gus Dur memang sesuai kondisi riilnya sehingga sebagian orang merasa 
tersinggung," ujarnya.

Justru itu, kata dia, dalam perjalanan bangsa ini di masa mendatang semoga 
lahir pemimpim yang selalu memberi manfaat terhadap rakyat."Harus ada kesadaran 
kolektif bagi generasi muda yang akan memimpin bangsa ini, supaya menjauhkan 
pola pemimpin yang pragmatis. Sebaliknya meniru pola, cara pikir dan 
keberpihakan terhadap rakyat yang kharismatik seperti Gus Dus, Bung Hatta dan 
lainnya,"katanya.
 
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid meninggal dunia pada usia 69 tahun karena 
sakit di RSCM Jakarta, Rabu pukul 18.40 WIB. Abdurrahman Wahid menjabat 
Presiden RI keempat mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Putra pertama 
dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 
Agustus 1940.
     
Gus Dur menikah dengan Shinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa 
Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan 
Inayah Wulandari.

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/12/31/00455115/Gus.Dur.Sosok.Pembela.Kaum.Tertindas

Kirim email ke