Hehehe...apalagi kalau kita pilih yang sudah S3 ya pak Kukuh? Itu artinya dalam 
bahasa Jawa kromo Inggil: S (ampun) S (epuh) S (anget) = Sampun sepuh sanget 
atau sudah tua sekali!
  Gitu saja kok repot!
  Salam,
  Yuli

kukuh kumara <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Rekan2 FPK Yth,

Tanpa niat untuk pro dan kontra Sarjana untuk Calon Presiden....saya hanya 
ingin berbagi saja bahwa soal S1, S2,S3 atau SMU atau apa sajalah....itu kan 
hanya salah satu tolok ukur saja. S1 atau bahkan S9 (kalau ada) bukan jaminan 
keberhasilan seseorang dalam melakukan tugas/pekerjaannya didunia nyata. Apa 
jadinya kalau tidak ada sama sekali tolok ukurnya? Apa mau tanya ke dukun? Si A 
atau Si B bakal berhasil atau mampu mengemban tugasnya.

Latar belakang/tingkat pendidikan kan hanya salah satu dari sekian banyak 
persyaratan untuk menduduki jabatan2/pekerjaan2 tertentu. Semakin penting suatu 
jabatan/pekerjaan semakin ketat pula persyaratannya. Bisa dibayangkan kalau 
untuk sebuah posisi yg begitu kritis, hanya disyaratkan yg penting bisa baca 
tulis. 

Beberapa tahun belakangan kita saksikan bersama betapa amburadulnya sebuah 
lembaga manakala orang2nya ternyata tidak diseleksi dengan baik. Tingkat 
pendidikan salah satunya yg biasanya diwakili dengan bentuk "ijazah", ternyata 
juga terjadi banyak kebobolan disana-sini. "Ijazah" apa sih yg tidak bisa 
dibeli di negara kita ini???

Orang tidak lagi sungkan memajang gelar akademiknya....padahal banyak yg tahu 
dia tidak pernah kuliah/sekolah alias Sekolah tidak ijasah ada....sehingga 
"pendidikan" bukan dipahami sebagai "proses" tetapi hanya sekedar jalur untuk 
dapat ijasah atau paspor untuk mendapatkan posisi2 atau pekerjaan.

Intinya adalah "ijasah" alias tingkat pendidikan hanyalah salah satu syarat 
agar "kita2" ini lebih punya kepastian akan kinerja seseorang yang akan dipilih 
untuk menempati posisi tertentu apakah di perusahaan, pemerintahan, atau 
dilingkungan kita. Ada takaran2 lain yg bisa dan seyogyanya juga digunakan 
dalam proses pemilihan itu misalnya "rekam jejak". Nah kalau tata-cara atau 
aturan2 ini tidak diperlukan ya tidak masalah kalau misalnya kita lebih percaya 
tanya ke Mak Lampir ....misalnya....)*

Salam
Kukuh Kumara

Kirim email ke