Sip...sip Opung NDH....
   
  Tabik dari tanah air
  Kukuh Kumara

Naek Djaoloan Hutabarat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          NDH
Nimbrung
Dalam Diskusi FPK Tampilan Pak: JS-BS
Tema : [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Anggota DPR dan Presiden Harus Sarjana
KAPAN KITA BUTUHKAN INFO DATA PRIBADI
Bukan Tapsiran Arogansi

Kita hidup dalam Medan Dual Ambivalent Antagonistis Konvergentip.
Dasar Pendidikan Formal dg Indikator Titel Memang demi Standar BBB (Bersama 
Bekerjasama Bekerjabersama) perlu cepat dipahami demi pragmatisma walau itu 
harus dilengkapi pemahaman The Truth is in the Making, kesanggupan 
pragamartisme orang itu.
.

Dan Hidup itu dalam Pertumbuhan Waktu dan Kontemporer Budayanya (KBP = 
Kulturbudayaperadaban)
.

SDM Umur Panjang akan involvir di dalam beberapa Era. Saya Era 
Belanda-Jepang-Indonesia Berjuang-NKRI sampai sekarang. Umur 11 th kena musibah 
di PD II, umur 12 th Involvir Informan Voluntir Pejuang RI-45 Waktu Penjual 
Rokok Ketengan Keliling dll dst dst dst dan sejak 1971 mukin di Dunia I mulaui 
1980-an lagi Voluntir Tulen Independen Mencerah KBP Globalis Teori dan Praxis / 
Implementasi, langsung on the spot Indonesia atau di dari Dunia I Medan 
Interkontinental.
.

Saya terrmasuk lebih senang mulai dahulu di Surabaya 1959 memakai nama NDH, 
kini juga di LN dan dalam memilis Masyarakat Internet-Internet.
.

Namun saya perlu telaten data dan pengalaman empiri tiap Rekan Pemilis dalam 
Masyarakat Diskuasan Interkontinental: umur, pendidikan formal, kesanggupannya, 
dll. 
.

Dalam menyebut predikat-predikat titel dan pangkat lembaga dalam Diskusi saya 
sendiri tak sinis geram mencela mereka, justeru ucapan dalam milis kombinasi 
data tertera bisa saya sillogisasi. Saya suka ingat Rekan Tua Kita Socrates, 
benci mendengar suara-suari tapi senang dia turut diskusi. Lamalama rekan 
diskusan itu akan meningkat juga bantuan kontribusi persuasi juga dari saya 
(sabar aktip).
.

Nah mohon konsiderasi konfirmasi konvergentip bagaimanamestinya juga ingat 
dalam 3 dimensi eksistensi: pemahaman penghayatan pengamalan ! Dan konztribusi 
kita pada rekan muda / beklum tuntas pengalaman perlu persuasi dengat sinis 
mereka lalu kontribusi serum premekarnysa !
.

Untuk melengkapi pengalaman di Dunia I, stelah Kongres ILO 1970 di Geneva, juga 
saya ke Belanda di Utrecht dan Driebergen serta bertemu di Istana Pribadi 
Keluaerga Mev van Buiningen (Begawan Sosial Belanda menminsentip Damai KMB 
Belanda-Indonesia 27 Des 1949, beserta Keluarga Philip Eindhoven (Pemilik 
Ralin). Philips mengusulkan saaya masuk di Mangement Philip Tarining dulu di 
Eindhoven, saya tolak. EDemikian juga Cyba Geygi Basel makasud saya traingi di 
Management Mereka. Juga tidak. Karena saya sengaja Tekad 1969 Jakatrta harus 
hiduop integrasi orientasi di Dunuiai I mematangkan apa mengapa 
bagaimanamestinya KBPP Dunia ini = HAM HAA Pancasila. Th 1970 itu Kalangan 
Organisasi Massa Belanda sendiri banyak heran mujtu opini saya cerah karena 
mereka tanyak saya membandingkan Indonesia dan Belanda (Dg Tim Trade Unionists 
Belanda).

Salam Sugeng Pangestu Horas Jala Gabe !
.

NDH
ln hh

---------------------------------

Lampiran JS/BS:
.
JS:
Mas Bambang Yth,
Saya sependapat dengan opini anda. Memang yang membuat gelar "sarjana" begitu 
di-"perlukan" yaa sikap mental masyarakat kita yang - mohon maaf - masih 
mengagungkan ke"priyayi"an tempo doeloe.

Kalau dahulu orang bergelar bangsawan sudah pasti dihormati masyarakat. 
Sekarang tidak usah bergelar bangsawan, cukup mencantumkan gelar S1 - S3, 
masyarakat sudah "silau".
Tapi - good news - yang saya dengar, di perusahaan asing maupun joint venture, 
gelar sarjana kini tidak lagi begitu signifikan dalam menentukan karir 
seseorang. Bisa terjadi seorang salesman yang cakap walaupun tidak menyandang 
gelar S1, dipromosikan menjadi seorang Sales Manager.

Di bidang entrepreneur "sami mawon". Banyak pebisnis sukses yang tidak pernah 
mengenyam bangku kuliah, namun bisa mempimpin anak buah yang nota bene 
mayoritas bergelar "sarjana". Kita bisa belajar dari Pak Joe (boss Datascript), 
Pak Joenaedi Joesoef (boss Konimex) atau Pak Andri Wongso (motivator top). 
Mereka semua sukses, walaupun tidak bergelar "sarjana".

Entah ya, kalau kasus seperti itu bisa terjadi di perusahaan domestik?

Salam.



         

 
---------------------------------
Bored stiff? Loosen up...
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke