Selamat Nyepi dan Selamat Tahun Baru Caka 1929

----- Original Message ----
From: Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, March 17, 2007 3:57:51 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Sepi Sunyi yang Menerangi



    
            Oleh Gede Prama 

Penulis Sejumlah Buku, Tinggal di Desa Tajun, Bali Utara

http://www.kompas. co.id/kompas- cetak/0703/ 17/utama/ 3383769.htm

============ ========= ===



Ketika seorang guru ditanya evolusi jiwa manusia ratusan tahun 

terakhir, dengan diam sebentar, menatap mata lalu menjawab, "dari 

gelap ke gelap". Dari ketidakpuasan satu ke ketidakpuasan lain. Dari 

konflik satu ke konflik lain. 



Melihat kehidupan bergerak begini, sejumlah orang desa yang polos 

bertanya, mengapa kemajuan iptek harus seperti ini? Maafkanlah 

keluguan. Andaikan keluguan ini dijawab dengan data, angka, logika, 

mungkin sinyalemen "dari gelap ke gelap" akan tambah panjang. Angka 

dilawan angka. Logika mengundang serangan balik logika. 



Karena demikian keadaannya, izinkan sekali-sekali bukan angka, bukan 

logika yang bicara, tetapi sepi sunyi. Tidak dalam posisi menyebut 

sepi benar, yang berbeda salah. Sekali lagi tidak. Serupa dengan 

mulut manusia, gigi wujudnya keras karena tugasnya memotong dan 

menghancurkan. Lidah bentuknya lembut karena panggilan hidupnya bukan 

untuk menghancurkan, tetapi merasakan. Keduanya punya tugas lain. 

Dengan spirit seperti inilah, sepi sunyi dalam tulisan ini mohon izin 

bicara. 



Sejak dulu, pencinta sepi selalu tidak banyak. 0rang yang bertapa di 

kesunyian selalu lebih sedikit dibanding mereka yang mencari di 

keramaian. Keduanya bertumbuh. 0rang-orang keramaian menyukai 

bertumbuh ke luar (dengan ukuran kekaguman pujian orang), sedangkan 

pencinta kesunyian menyukai bertumbuh ke dalam. Kekaguman dan pujian 

orang dihindari karena penuh godaan ego. 



Melihat bulan dengan lampu 



Satu contoh yang amat menerangi di jalan sunyi adalah pertapa suci 

Ramana Maharshi. Sampai umur 16 tahun tidak ada tanda ia akan jadi 

pertapa. Begitu berkenalan dengan perjalanan ke dalam diri, tiba-tiba 

badannya panas. Ini membuatnya lari ke Bukit Arunachala. Lebih dari 

sekadar panasnya menghilang, ia menikmati kesunyian di tempat ini. 

Bahkan selama puluhan tahun menghabiskan hidup yang sepenuhnya diam. 



Saat mengakhiri diamnya, Ramana menjawab pertanyaan orang secara 

mengagumkan hanya dengan segelintir kata. Dari situ didirikan ashram 

oleh banyak pengikutnya di sekitar tempat ia bertapa. Tiap kali 

ditanya siapa gurunya, ia menggeleng sambil bergumam, "The ultimate 

consciousness is the only teacher" (Kesadaran yang mahautama itulah 

gurunya). 



Serupa dengan ini, di sejumlah perenungan dengan judul agama yang 

berbeda-beda, banyak murid diminta diam. Awalnya percakapan ke luar 

menghilang, diganti percakapan ke dalam. Akhirnya percakapan ke dalam 

pun menghilang. Dan yang tersisa hanya satu, yakni kesadaran. 0rang-

orang yang sudah disinari cahaya kesadaran, akan bergumam, untuk 

melihat bulan tidak memerlukan lampu! 



Kata-kata, logika, angka mirip lampu luar. Manusia membutuhkan saat 

gelap. Namun, dalam terang cahaya kesadaran, manusia tidak memerlukan 

lampu luar. Salah satu founding father kehidupan spiritual Bali (Dang 

Hyang Dwijendra) menulis Kakawin Dharma Sunya. Ia bertutur, jika 

batin yang tenang-seimbang adalah sumber keindahan. Bila sumber 

keindahan sudah di dalam, masihkah manusia memerlukan lampu penerang 

dari luar? Dalam bahasa provokatif seorang guru, "When you still have 

some one who can make you happy or sad, you are not a master, you are 

a slave!" (Jika sumber kebahagiaan/ kesedihan masih dari luar, itu 

tandanya seseorang belum menjadi master, masih jadi budak). 



Apresiasi akan sepi memang bukan monopoli Bali. Lama Surya Das 

(Awakening the Buddha Within) pernah menulis bahwa puncak perjalanan 

menemukan perkataan yang benar adalah hening. Eckhart Tolle 

(Stillness Speaks) juga serupa, "wisdom comes with the ability to be 

still. Just look and just listen... let stillness direct your words 

and actions" (Kearifan datang dari keheningan. Lihat dan dengar 

saja... biar keheningan yang menjadi pembimbing). Thomas Merton 

(Thoughts in Solitude) menambahkan, "My knowledge of myself in 

silence... opens out into the silence... of God" (Pengetahuan diri 

dalam keheningan membuka rangkaian keheningan yang berujung pada 

Tuhan). 



J Krishnamurti (The Light in Oneself) menyarankan, meditation is 

absolute silence of the mind (meditasi adalah keadaan batin yang 

sepenuhnya hening). Dainin Katagiri (Returning to Silence) menulis, 

Shakyamuni is some one who practice tranquil silence (Siapa saja yang 

mempraktikkan kesempurnaan keheningan, ia menjadi Buddha). Murid-

murid Zen yang perjalanannya suka menekuni latihan silent 

illumination. Penyair sufi Rumi bertumbuh jauh dalam sepi. Perhatikan 

salah satu syairnya (The Rumi Collections) : when you know your own 

definition, flee from it, that you may attain to the 0ne who cannot 

be defined (Saat Anda dipagari kata-kata, cepat-cepatlah menjauh. Ia 

menghalangi mencapai yang Satu yang tidak terucapkan). 



Dengan cerita ini, terlihat banyak manusia yang terterangi rapi oleh 

sepi sunyi. Ia melewati banyak sekat tradisi. Dari Sufi, Nasrani, 

Buddha, sampai Hindu. Jenis manusia-manusia ini memiliki pola 

pertumbuhan serupa. Logika dan kata-kata ibarat kulit dan batok 

kelapa. Di awal manusia membutuhkan. Namun, begitu dikupas dan 

dibuka, kelapa dimakan, airnya diminum, kulit dan batoknya dibuang. 



Mikhail Naimy (The Book of Mirdad) lebih terang lagi. Kata, logika 

serupa tongkat, berguna bagi mereka yang kakinya bermasalah. Bagi 

jiwa yang kakinya sehat, tongkat hanya beban. Lebih-lebih jiwa yang 

bisa terbang, tongkat adalah beban berat. 



Selamat hari raya Nyepi dan Selamat Tahun Baru Saka 1929. 



Kirim email ke