Bung Verdi, Sebuah poin yg sangat menarik. Banyak org yg memang menganggap proses menjadi Indonesia itu dengan dramatis, bahkan terkesan gampang.
Indonesia adalah negara kepulauan yg terdiri atas belasan ribu pulau, salah satu negeri dgn garis pantai terpanjang di dunia, & dihuni oleh ratusan kelompok etnis. Proses membuat angan-angan tentang Indonesia sangat sulit. Banyak org yg tdk sadar akan hal itu. CMIIW, menyoal kerangka di luar bangsa yg membentuk identitas, bukankah bangsa Amerika Serikat juga mengalaminya? Brp byk dari mrk yg menyebut 'Chinese-American', 'Afro-American', dst. Salam, Patrick Hutapea --- In [email protected], verdi adhanta <verdiadha...@...> wrote: > > Salam pak Edy. > > Yang saya bicarakan adalah proses kultural, dan 350 tahun (ternyata) belum > cukup untuk membangun pemahaman kolektif yang dibutuhkan. > Perlu juga di ingat bahwa Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun. VOC > datang ke wilayah yang sekarang disebut Indonesia ini atas hubungan bisnis > dengan penguasa-penguasa lokal. Para penguasa lokal tersebut tidak punya > konsep tentang Indonesia. Wilayah ini bukan berupa sebuah political unit, > atau cultural unit, apalagi race unit, yang disebut Indonesia. Konsep tentang > "Indonesia" juga bukan produk pikiran orang "Indonesia", melainkan produk > Antropolog/penulis Inggris pada pertengahan abad 19, untuk menyebut "Indian > Archipelago", yang meliputi wilayah Indonesia sekarang + Filipina. > > Para pendiri republik Indonesia belajar dari konsep "Indonesia" ini, dan > mulai dapat membangun gagasan tentang sebuah entitas sendiri, yang > independen, yang dapat digunakan untuk memberi identitas pada komunitas etnis > yang berada dalam wilayah sesuai konsep antropolog Inggris itu, yang kemudian > dijadikan dasar dalam mendirikan negara Indonesia. Tapi identitas ini tidak > datang begitu saja, dan sosialisasinya pun tidak selesai seketika (dan dalam > derajat tertentu, kita bisa lihat bahwa proses itu bahkan belum dapat > dikatakan sepenuhnya selesai bahkan sampai saat ini). Kesadaran "hardship" > yang layak dijadikan common ground untuk membangun perasaan senasib yang > penting untuk lebih dulu mapan sebelum digunakan untuk dapat mendefinisikan > "siapa kami" dan "apa yang menjadi kesulitan kami", belum (atau bahkan > mungkin tidak?) pernah terjadi di Indonesia. Segala pemahaman tentang "sebuah > entitas bernama Indonesia" yang dapat kita observasi dari orang-orang > Indonesia selalu berada dalam taraf gagasan, tapi tidak pernah dalam taraf > pengalaman. Artinya, untuk sebagian besar orang Indonesia, pengalaman (yang > amat fundamental bagi memahami identitas -- siapa saya) selalu datang dalam > kerangka-kerangka lain DI LUAR kerangka Indonesia. Misalnya, orang Islam > Indonesia cenderung merasakan hardship sebagai orang Islam, bukan orang > Indonesia. Atau melalui kerangka lain; etnisitas, misalnya. Orang Padang > merasakan hardship sebagai orang Padang, bukan orang Indonesia. Ini terjadi > pada setiap agama atau ras di Indonesia. Sejarah postingan di milis fpk ini, > yang menyangkut kecurigaan rasial dan sebagainya, sudah cukup self evident > untuk mengatakan bahwa hal ini masih belum juga selesai bahkan sampai > sekarang. > > Jadi, pengalaman manusia Indonesia dalam mengalami hardship tidak bisa > disebut 350 tahun, 60 tahun saja mungkin belum. Tapi setelah reformasi 1998, > saya lihat bahwa proses ini BARU SAJA dimulai. > > Saya juga ingin mengatakan bahwa hardship bukanlah sesuatu yang obyektif. > Hardship adalah sesuatu yang terjadi ketika kebutuhan sulit terpenuhi, dan > karena kebutuhan bersifat kultural, maka Hardship pun adalah kutural. Untuk > orang Yahudi, yang terjadi lain lagi. Selama ribuan tahun punya tanah saja > tidak, dan ini berada pada skala yang jauh berbeda dengan orang Indonesia, > yang obviously sudah punya tanah sebagai tempat untuk meng-ada. Saya lihat > pengalaman orang Yahudi berada dalam skala Nietzchean hardship, di mana > seseorang dapat menumbuhkan sesuatu dari penderitaan luar biasa dengan cara > TIDAK BERUSAHA MENGHINDARI penderitaan tersebut, tapi justru > mengkonfrontir-nya. Dibanding mereka, maka orang Indonesia benar-benar tampak > seperti anak manja. > > Thx.
