MTI dan rekan miliser FPK,
Selamat jalan Pak Koes ke dunia yang abadi. Amor ring Acintya, kembali rohnya 
bersatu dengan Sang Pencipta. Hasil2 karya monumental, umpamanya: terbentuknya 
MTI, BIAK (Badan Independen Anti Korupsi) yang menghasilkan KPK, 
revisi/pengguguran KEPPRES bermasalah 1993-1998, dll.
Ada satu persepsi saya pribadi, dengan pertanyaan, mengapakah nilai tukar 
rupiah tetap rendah (Rp 9.000 - rp 9.200 per US $?) selama bertahun2? Karena 
nilai rupiah yang rendah, berarti daya beli masyarakat juga rendah. Kenapa hal 
yang satu ini, yaitu penguatan nil;ai rupiah tak pernah menyentuh dibawah Rp 
8.000,- apalagi mau mencapai seperti beberapa dekade yang lalu yaitu 
Rp 2.200 per US$? Berarti secara kasar, kemampuan daya beli masyarakat telah 
menurun 4 - 5 kali lipat. Suatu pemiskinan terstruktur yang telah berlangsung 
belasan tahun. Siapakah yang bertanggung jawab akan lemahnya nilai rupiah ini?  
Apakah BI sebagai Bank Sentral, para ekportir yang meraup dolar, atau yang 
lainnya? Adakah info atau pencerahan?
Salam damai
I. B. Arka
  ----- Original Message ----- 
  From: MTI 
  To: [email protected] 
  Sent: Wednesday, March 14, 2007 7:08 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Kesaksian Anak Muda, Mengenang Almarhum Prof. 
Koesnadi Hardjasoemantri


  Kesaksian Anak Muda, Mengenang Almarhum Prof. Koesnadi Hardjasoemantri
  http://www.transparansi.or.id/index.php?pilih=lihatberita&id=3342

  Bangsa Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaiknya. Dia adalah Koesnadi
  Hardjasoemantri, seorang intelektual dan ahli hukum lingkungan. Semasa
  hidupnya pria kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 9 Desember 1926, ini sarat
  dengan karya-karya, prestasi dan penghargaan. Dalam usia 80-an tahun dan
  sebelum akhirnya beliau meninggalkan kita untuk selama-lamanya, penerima
  bintang mahaputra ini masih terus mengabdikan dirinya. Dia masih aktif
  mengajar dan mengikuti berbagai kegiatan sosial, serta menjadi pembicara
  diberbagai seminar.

  Siapapun yang berjumpa dengan Profesor Koesnadi, akan maninggalkan banyak
  kesan mendalam. Selain karena kepintarannya, pribadi beliau adalah santun
  dan ramah kepada siapapun. Apalagi bila perjumpaan itu tidak sekedar
  bertatap muka atau bertemu di forum-forum ilmiah, melainkan perjumpaan yang
  intensif semisal duduk dan bekerja sama dalam suatu kegiatan, maka semakin
  tampaklah kualitas pribadi dan intelektual beliau. Setidaknya begitulah
  yang kami rasakan di Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI), sebuah
  lembaga, yang Pak Koes, begitu kami biasa memanggilnya, adalah salah satu
  pendirinya dan duduk sebagai Wakil Ketua Dewan Penyantun MTI.

  Kehadiran Pak Koes di MTI bukan sekedar simbol atau pelengkap nama-nama
  besar pendiri lembaga. Di banyak kegiatan MTI beliau turut terlibat aktif
  dan mengambil peran, bahkan diataranya menjadi koordinator kegiatan.
  Beberapa kegiatan penting yang perlu kami sebutkan disini adalah, beliau
  pernah menjadi ketua tim kajian Hukum MTI tentang Keppres bermasalah tahun
  1993-1998. Menurut Pak Koes selaku ketua tim, Keppres-Keppres tersebut
  dinilai tidak konsisten dengan tata aturan perundangan yang ada. Proses
  pembuatannya pun diragukan obyektivitasnya karena banyak kerabat dekat
  Presiden yang diuntungkan dalam pelaksanaan Keppres itu. Melalui tim Kajian
  hukum tersebut MTI merekomendasikan agar segera dilakukan tindakan perbaikan
  dengan mencabut, menata ulang atau meninjau kembali Keppres bermasalah
  tersebut.

  Keterlibatan Pak Koes di MTI bukan hanya dalam kajian keppres bermasalah.
  Pak Koes juga turut membidani pembentukan Badan Independen Anti Korupsi
  (BIAK), yang belakangan turut mencetuskan lahirnya Komisi Pemberantasan
  Korupsi (KPK). Selain itu, Pak Koes juga terlibat dengan pernik-pernik
  kegiatan di MTI lainya, salah satunya adalah aktif memberikan sumbang saran
  dalam pelaksanaan Forum Rembug Nasional (FRN) yang di motori MTI. FRN itu
  sendiri sangat fenomenal karena dalam acara tersebut menghadirkan banyak
  elemen penting bangsa mulai dari presiden, menteri kabinet, tokoh partai
  politik, pimpinan ormas-ormas besar, tokoh cendikiawan, pengusaha, kalangan
  media, LSM, dan aktivis mahasiswa. Mereka dihadirkan untuk menyumbangan
  ide-ide terbaiknya dalam menyelesaikan permasalahan bangsa.

  Bagi rekan-rekan muda di MTI, kehadiran Pak Koes memberikan kesan tersendiri
  yang cukup mendalam. Di tengah kesibukan yang begitu padat, Pak Koes masih
  kerap hadir memenuhi undangan sekretariat untuk mengikuti sejumlah diskusi
  di MTI sekedar sebagai peserta. Bahkan ketika rekan-rekan muda itu ingin
  minta waktu konsultasi untuk pembuatan buku, Pak Koes memilih mendatangi
  rekan-rekan muda itu ketimbang mereka yang mendatangi Beliau. Dan Pak Koes
  rela berjam-jam untuk menemani diskusi sebelum kemudian beliau melanjutkan
  agenda lain yang cukup padat.

  Bagi kami yang muda-muda di MTI, Pak Koes lebih dari sekedar intelektual.
  Ia juga seorang pendidik sejati yang siap bukan sekedar memberi tetapi juga
  membimbing dengan penuh kesabaran. Beliau bukan hanya siap memberi
  saran-saran, tetapi pada saat yang sama beliau juga mendengarkan kami dengan
  penuh seksama. Suatu sikap yang menurut kami sukar ditemukan pada diri
  orang sekaliber Pak koes. Berhadapan dengan tokoh besar seperti Pak Koes,
  membuat kami yang muda-muda ini menjadi manusia yang penuh arti, hal ini
  karena dihadapan beliau, kami juga didengar, kami dimengerti dan kami
  dihargai.

  Akhirnya, dimata kami, Pak Koes hampir-hampir tidak pernah tua meski usianya
  memasuki senja. Pada diri Pak Koes telah menyatu antara jiwa muda, gelora
  semangat dan idealisme yang terus menyala. Suatu kepribadian yang
  senantiasa hidup dan penuh energi, yang membuat kami yang muda-muda ini iri
  sekaligus kagum dan menaruh hormat setinggi-tingginya.

  Semoga kami bisa meneladanimu, Pak Koes. Dan kami akan terus menjadi saksi
  atas segala amal kebaikanmu. Semoga engkau tenang di sana dan bahagia
  bersama kekasih abadi.

  ***

  Ditulis oleh Sudirman Said, Ketua Badan Pelaksana Masyarakat Transparansi
  Indonesia (MTI)

  Note: Tulisan ini merupakan rangkuman dari pendapat beberapa pengurus MTI;
  Pak Marie Muhammad, Pak Boediono, Pak Kemal A. Stamboel, Pak Arief T.
  Surowidjojo, Pak Pradjoto dan rekan-rekan muda di MTI.



   


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke