Yang namanya "program 100 hari"ini kan cuma buat seksi-seksian dan gaya-gayaan 
doang, alias bagian dari politik pencitraan. Lha wong dipilih buat 5 tahun, kok 
pake heboh bikin acara program 100 hari segala. Makanya isinya pun lucu semua,
 
Yang lebih ancur adalah para mentrinya rame-rame menilai diri mereka 
masing-masing dan semuanya membangga-banggakan capaian mereka, padahal di 
luaran dikasih nilai merah semua.
 
manneke

--- On Sun, 1/31/10, Agus Hamonangan <[email protected]> wrote:


From: Agus Hamonangan <[email protected]>
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Terperangkap Program 100 Hari
To: [email protected]
Received: Sunday, January 31, 2010, 8:22 PM


  



Oleh Faisal Basri

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2010/02/01/ 03220074/ terperangkap. 
program.100. hari.

Tidak ada kewajiban bagi pemerintah untuk menyusun program 100 hari. Sistem 
perencanaan kita hanya mengenal perencanaan jangka panjang, perencanaan jangka 
menengah, dan perencanaan tahunan sebagaimana tertuang dalam Anggaran 
Pendapatan dan Belanja Negara.

Baru pada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pertamalah istilah program 100 
hari populer. Lima tahun lalu tim sukses SBY menyusun program 100 hari. Ketika 
pemerintahan baru terbentuk, presiden tidak menggunakannya sebagai acuan untuk 
dilaksanakan para menterinya, tetapi presiden menginstruksikan para menteri 
menyusun sendiri-sendiri program kerja 100 hari itu.

Kita tidak tahu persis proses penyusunan program 100 hari pada masa jabatan 
kedua SBY sekarang ini. Yang kita tahu, ada tim yang dikomandoi oleh Kuntoro 
Mangkusubroto yang bermarkas di Jalan Jambu. Setelah SBY-Boediono resmi 
terpilih, pemerintah menggelar National Summit pada akhir Oktober 2009 untuk 
memperoleh masukan dari berbagai kalangan.

Beberapa waktu kemudian pemerintah mengumumkan program aksi yang disebut 
sebagai Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu II. Dari 45 program aksi 
itu, telah ditetapkan 15 program yang di antaranya disebut sebagai program 
pilihan yang wajib diimplementasikan dalam jangka waktu 100 hari pertama.

Dari program pilihan tersebut, terdapat sembilan program prioritas yang terkait 
dengan bidang perekonomian. Lihat situs resmi Kementerian Koordinator Bidang 
Perekonomian: http://www.ekon. go.id/content/ view/524/ 1/.

Kalau dipadatkan berdasarkan sektor, sebetulnya hanya ada tiga program 
prioritas di bidang ekonomi, yakni pangan, energi, dan infrastruktur. Setiap 
program prioritas tersebut memiliki 12, 8, dan 14 program aksi sehingga 
keseluruhannya berjumlah 34 program aksi.

Terus terang, saya agak bingung untuk memetakan program 100 hari ini. Misalnya, 
revitalisasi pabrik pupuk dan gula tercantum dalam 15 program pilihan, tetapi 
tidak kita jumpai dalam matriks program aksi versi situs Kementerian 
Koordinator Bidang Perekonomian. Demikian pula program kelancaran arus barang 
dan daya saing.

Namun, kedua program itu bisa kita temukan pada dokumen dalam bentuk hardcopy. 
Di dalam dokumen tertanggal 18 November 2009 ini tercantum 49 program aksi.

Katakanlah kita mengacu pada dokumen yang lebih lengkap. Muncul masalah kedua, 
yakni bagaimana menilai keberhasilan program aksi. Perumusan program aksi 
sangat gegabah. Sebagai contoh, tercantum program aksi "Penuntasan 
restrukturisasi menyeluruh PLN dan Pertamina".

Tidak jelas apa yang mau dituju

Kata penuntasan mengandung konotasi yang sangat lugas, bahwa persoalan mendasar 
yang menggelayuti PLN dan Pertamina akan diselesaikan secara menyeluruh dalam 
100 hari. Sungguh sangat ambisius dan hampir mustahil terpenuhi, dan 
kenyataannya memang demikian.

Contoh lain yang tidak kalah membingungkan adalah yang terkait dengan 
revitalisasi pabrik pupuk dan pabrik gula. Program ini merupakan salah satu 
dari 15 program pilihan, dengan judul "Revitalisasi pabrik pupuk dan gula". 
Sementara itu, di dalam dokumen hardcopy tercantum dengan judul "Penyusunan 
rencana aksi revitalisasi industri pupuk dan gula".

Kebetulan saya memiliki dokumen "Program Kerja 100 Hari Pertama dan Lima Tahun 
Menteri Perindustrian Republik Indonesia 2009-2014". Di sana tercantum 
"Terealisasikannya restrukturisasi industri tahun 2009 sebanyak 210 perusahaan 
tekstil, 40 perusahaan alas kaki, dan 32 pabrik gula".

Kita tidak tahu persis apa yang dimaksud dengan revitalisasi. Yang pasti, 
sampai sekarang belum pernah dilakukan audit menyeluruh terhadap pabrik-pabrik 
gula milik pemerintah. Bagaimana mungkin melakukan revitalisasi tanpa didahului 
oleh pemetaan masalah sehingga bisa diduga bahwa yang mungkin dilakukan paling 
banter adalah proyek pengadaan mesin baru atau komponen.

Keganjilan kian bertambah mengingat pada waktu bersamaan tercantum pula program 
"Menyusun Rencana Aksi Revitalisasi Industri Gula". Baru sedang menyusun 
rencana revitalisasi, tetapi aksi revitalisasinya sudah sangat jauh. Tidak 
tanggung-tanggung, 32 pabrik gula. Sungguh sangat fantastis.

Kita tidak tahu lagi apa sebenarnya yang hendak dituju dengan program 100 hari. 
Apakah untuk menghasilkan quick win untuk memelihara dukungan publik kepada 
pemerintah ataukah sebagai alat ukur bagi Presiden untuk menilai kinerja 100 
hari para menterinya.

Kalau tujuan pertama yang hendak dicapai, sebagaimana diterapkan di beberapa 
negara, jumlah program aksi tidak perlu banyak dan hasilnya bisa langsung 
dirasakan oleh masyarakat luas. Beberapa janji kampanye harus ada yang segera 
terwujud untuk menunjukkan bahwa janji bukan sekadar janji.

Quick win sangat penting untuk menjaga pengharapan (ekspektasi) masyarakat 
terhadap pemerintah. Jika pengharapan masyarakat tetap tinggi, maka 
kebijakan-kebijakan pemerintah yang dalam jangka pendek tidak populer 
sekalipun—tetapi dalam jangka menengah dan panjang akan menghasilkan perbaikan 
mendasar dan berkelanjutan— tidak akan menimbulkan gelombang penentangan yang 
besar.

Oleh karena itu, sangat disayangkan momentum yang telah tercipta tidak 
termanfaatkan dengan optimal. Modal dasar sungguh sangat banyak. Perekonomian 
kita tidak terempas karena krisis global dan stabilitas makroekonomi tetap 
terjaga. Ditambah lagi dengan modal politik yang besar dari Presiden SBY: 
sebagai incumbent, memenangi pemilihan presiden dalam satu putaran, dan 
didukung koalisi partai-partai yang memiliki kursi mayoritas melimpah di DPR.

Keberhasilan yang sudah diraih, seperti pengoperasian 24 jam 7 hari seminggu di 
empat pelabuhan terbesar dan peluncuran National Single Window, terbenam di 
tengah hiruk-pikuk demonstrasi yang menilai pemerintahan SBY dalam 100 hari 
gagal. Kestabilan makroekonomi yang terjaga tak beroleh apresiasi.

Mungkin ada satu hal yang belum terhadirkan selama 100 hari pertama 
pemerintahan SBY, yakni rasa keadilan dan kepatutan. Kedua unsur ini tidak 
melekat di dalam program 100 hari.

Dengan demikian, program 100 hari sebatas list of wants yang disusun sekadar 
untuk memenuhi janji kampanye, tanpa penjiwaan. Sungguh ini merupakan awal yang 
kurang menggembirakan. Kita harus siap menerima kenyataan bahwa tawaran-tawaran 
kebijakan pemerintah selama lima tahun ke depan berpotensi menghadapi 
penentangan yang serius, kecuali kalau Presiden mengubah gaya kepemimpinannya.









      __________________________________________________________________
Looking for the perfect gift? Give the gift of Flickr! 

http://www.flickr.com/gift/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke