Yang lebih memusingkan kepala ialah ketika membaca koran. Jargon-jargon ditulis terlebih dulu daripada padanan bahasa Indonesia seakan yang membaca artikel itu ialah orang asing yang belum akrab dengan kata asli Indonesia tersebut. Padahal, jelas-jelas di halaman depan tertulis "Harian untuk Umum." Dengan menulis kata asing sebelum kata asli Indonesia berarti kata asing itulah yang lebih diharkatkan oleh si penulis.
Belum lagi stasiun TV: Mata acaranya sebagian besar cocok untuk orang-orang yang biasa bergunjing, tetapi perhatikan iklannya yang penuh dengan istilah yang tampaknya sulit dipahami oleh khalayak sasaran. Belum lagi yang petentengan pakai istilah Inggris tetapi SALAH TOTAL. Jadi ini sudah penyakit Bangsa bekas jajahan. Dulu nafsu dengan "ik-jej" sekarang ya akrab dengan bahasa negara yang memberi utangan. Zul --- On Sun, 2/14/10, Lasma siregar <[email protected]> wrote: From: Lasma siregar <[email protected]> Subject: Re: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Pusat Bahasa dan pidato Presiden (yang penuh istilah asing) To: [email protected] Date: Sunday, February 14, 2010, 8:15 PM Nampaknya SBY bisa dibenarkan nmenggunakan kata dari bahasa asing karena lebih singkat, cepat dan jelas. Dalam bahasa Indonesia ada kata "berpihak pada" oleh SBY digunakan kata asing "pro" yang lebih singkat! Begitu juga dengan kata asing yang akhirnya jadi kata dalam bahasa Indonesia karena berbagai alasan! Kata "reformasi, demokrasi, transaksi, imigrasi, transmigrasi, aksi, arogansi, dedikasi" dan seribu kata lainnya, kalau digunakan kata dalam bahasa Indonesia, begitu panjang dan agak mengganggu bisnis yang "waktu adalah uang".... Bagaimana? Apalagi ini kan di depan orang-orang yang bertugas di luar negeri dan Kementerian Luar Negeri? Seandainya di depan rakyat tani, nelayan, buruh dan sebagainya, ya bisalah jadi masalah! Jadi tergantung pada sikon (situasi dan kondisi) dan dimana..... Salam Las
