Sebagai orang yang sangat tidak terpelajar dan sangat awam tentang statistik, saya ingin menyatakan kekecewaan saya dengan semua orang pintar yang masih asyik berkutat dengan jumlah orang yang meninggal ketika kita berbicara tentang korban. Ketika saya mendengar tentang holocaust, saya tidak pernah berhitung ttg jumlah, bahkan baru sekarang saya tahu bahwa ada yang meyakini jumlahnya mencapai 6 jt dan ada yang ngotot ttg jumlah yg "cuma" 1 jt. Ketika keluarga kita sendiri yang menjadi korban apakah jumlah msh menjadi satu hal yang penting ? Perdebatan ini makin mirip dengan perdebatan ttg adanya perkosaan massal pada kerusuhan di jakarta. Kalo mau diumbar lagi, suatu hari nanti kita mungkin perlu berdebat ttg jumlah korban di bosnia, ambon, poso dan tempat - tempat lain.
Sebaiknya gunakan intelektualisme anda utk hal hal yang lebih penting. ----- Original Message ---- From: satriadharma2002 <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Tuesday, March 20, 2007 11:12:28 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Tentang Holocaust---sejarah revisionisme-Imron Cotan Bung Rahadian, Anda menyodorkan tulisan dari Professor Deborah E Lipstadt tanpa Anda membacanya dengan cermat. Coba baca apa pendapatnya tentang jumlah korban yang 6 juta jiwa itu. Saya kutipkan saja : "We should NEVER avoid valid historical questions. For example, when historians realized that the death tolls for Auschwitz/Birkenau were too high, they recalculated and lowered them (saat ini dipercaya bahwa jumlah sebenarnya adalah antara 1,5 s/d 2 juta jiwa). They did not hesitate to do so, even though some people feared correctly so that it would "give comfort to deniers." Instead, serious historians welcomed the corrected information (Inilah mestinya sikap seorang ilmuwan. Tidak takut mengakui kesalahan dan mengakui adanya fakta baru yang lebih benar) Another example of correcting a mistaken notion relates to the accusation that the Nazis rendered Jewish corpses into soap during the Holocaust. During the war and afterwards many people said that the Germans made Jews into soap. No one knows the precise origins of this rumor, but it persisted after the war. Survivors who arrived in Israel were sometimes called: `Sabonim' [Soaps]. In fact, there is no proof that the Germans regularly processed Jews into soap. They may have and probably did experiment in doing so, but we have no indication that it was ever done on a mass basis. Many historians, myself included, have regularly talked and written about this, despite the fact that there are those who argue that it "plays into" deniers' hands. Jadi jumlah 6 juta jiwa itu memang TIDAK DAPAT DIPERTANGGUNGJAWABK AN kebenarannya dan diakui sendiri oleh Prof Libstadt. Satu hal yang penting kita pahami adalah apa yang disampaikan oleh beliau bahwa :" Correcting mistakes does not, in any way, lessen the Germans' crimes. The Germans' actions were horrendous enough that there is no need to support myths in lieu of facts or to fear the facts. By the same token, if the Allies did things wrong, then we should address it and acknowledge it. I have no doubts that they did some terrible things. Nothing, however, that they did can compare to the Nazis' crimes which include the Holocaust, the T-4 [euthanasia program], medical experiments on prisoners, and so much else." Jadi kekejaman Nazi terhadap orang Yahudi itu adalah fakta sejarah dan tidak perlu ditutup-tutupi dan tidak perlu takut untuk dibongkar ulang. Meski demikian, bukti menunjukkan bahwa para Revisionislah yang mampu menunjukkan ketidakakuratan klaim selama ini bahwa ada 6 juta korban dari orang Yahudi. Kita telah tertipu selama ini bahwa ada 6 juta korban orang Yahudi. Tapi kalau ada akademisi yang tetap mengusung mitos '6 juta korban' itu ya apa boleh buat! :-) Satu hal yang saya heran dari Anda, Bung Permadi. Anda membawa-bawa nama Prof. Lipstadt dan Anda 'perkuat' dengan pendapat seorang rakyat Iran yang awam dalam masalah ini. Apa maksudnya? :-) Salam Satria
