Thanks, Sdr. Vida. Sangat mencerahkan. Sudah saatnya mengakhiri budaya teori 
konspirasi yang cuma berguna untuk menyebarkan kebodohan dan saling curiga. 
Bangsa ini rusak karena isinya sibuk dengan teori konspirasi melulu karena 
teori konspirasi itu lalu dianggap identik dengan kebenaran.
   
  manneke

vida_junita <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Melihat diskusi yang makin memanas, saya jadi gatel untuk tidak 
ikutan :)

satria:
Kalau memang holocaust itu benar-benar menghabiskan nyawa 6 juta
orang Yahudi lantas kenapa kok takut untuk diungkap lagi? sampai-
sampai dibuat undang-undang untuk melarang mengungkap holocaust ini?
Benar-benar mencurigakan.
=====================================================
UU tersebut setahu saya bukan melarang untuk mengungkap 
(menyelidiki?) Holocaust, tapi melarang penyangkalan Holocaust. Mau 
dibolak-balik bagaimanapun Holocaust itu memang ada (kecuali kalo 
yang sengaja tutup mata). UU aneh ini kemungkinan besar untuk 
mencegah orang melupakan sejarah. Kayanya memang ongkos yang dibayar 
akan terlalu sangat amat mahal kalau sejarah model Holocaust berulang 
kembali. Perancis juga tahun lalu berusaha meresmikan UU anti 
penyangkalan terhadap pembantaian orang Armenia oleh Turki (walaupun 
UU ini sangat berbau kepentingan politik...)

--- In [email protected], Manneke Budiman > 
Bahwa dalam memoar banyak petinggi sekutu, Seperti Eisenhower dan 
Churchill, tak ada catatan tentang holocaust, so what? Kalo tak 
masuk memoar mereka, tak serta-merta itu berarti bahwa holocaust cuma 
fiktif belaka. 
==========================================================
Beberapa bulan yang lalu kebetulan saya menonton film dokumenter 
berjudul "they looked away". Berisikan tentang bukti-bukti bahwa 
sebenarnya pihak sekutu sadar akan keberadaan kamp Auschwitz. Film 
ini berisikan bukti-bukti dokumentasi (seperti foto udara kamp 
Auschwitz), tahanan yang selamat, sejahrawan dan beberapa pilot yang 
menerbangkan pesawat di sekitar kamp. Pilot2 tersebut lewat di 
seputar kamp Auschwitz untuk melakukan beberapa misi pemboman 
terhadap pabrik2 senjata.

Kalau saya tidak salah ingat dari film tersebut, sempat ada 
komunikasi di antara pejabat2 tinggi (kalau tidak salah Churchill?) 
untuk membahas apakah perlu membom gedung2 tersebut (ruang gas, 
krematorium, dll) untuk memperlambat laju pembunuhan orang2 Yahudi. 
Tapi akhirnya mereka memutuskan bahwa "lebih efektif" untuk membom 
sasaran militer (pabrik senjata) untuk mengalahkan pihak Jerman. (Ada 
beberapa orang yang menganggap alasan ini hanyalah sebuah pembenaran 
kesiangan. Kemungkinan para petinggi menolak untuk membom kamp 
tersebut karena kamp tersebut dianggap "tidak memiliki nilai" untuk 
membantu memenangkan perang dan dalam rangka penghematan bom.)

Sampai sekarang beberapa foto udara tersebut masih ada dan tersimpan 
di museum. Setidaknya dari foto tersebut bisa dikenali bangunan 
krematorium yang berderet (dari cerobong asapnya yang tinggi). Di 
beberapa foto yang lain terlihat barisan yang panjang ke arah gedung2 
tersebut.

Untuk keterangan lebih lanjut sejauh apa sekutu mengetahui kamp-kamp 
konsentrasi pada tahun 1944, mungkin bisa diliat di alamat ini 
(chapter 4: THE DEBATE OVER THE BOMBING OF AUSCHWITZ): http://etd-
submit.etsu.edu/etd/theses/available/etd-0322102-
113418/unrestricted/Greear040102.pdf 

Saya kutip paragraf pembukanya: 
In April 1944 the United States and the Allied countries received 
conclusive proof that the concentration camp in Auschwitz, Poland did 
in fact exist. The more appropriate term for Auschwitz was "death 
camp" instead of concentration camp because everyone there was 
scheduled to die. Two reports in June of 1944 gave proof without a 
shadow of doubt that Auschwitz was a death camp. The reports were 
known as the Verba-Wetzler report and the Mordowicz-Rosin reports.1 
Both of these reports were from men who escaped from Auschwitz at 
different times but gave the same horrendous account of the camp. Two 
of these men saw the preparation for the killing while the other two 
actually saw the slaughter take place. This was credible first-hand 
knowledge of the camp from four people who had just escaped....(masih 
berlanjut)

> Juga, kalo tak ada dokumen resmi tentang kebijakan Nazi untuk 
pemusnahan orang Yahudi, apa itu langsung artinya holocaust tak ada? 
Kaya hidup di planet Mars aja Anda ini. Jangankan di Jerman masa 
Nazi, di Indonesia sampai sekarang aja masih banyak tindakan diambil 
oleh penguasa tanpa adanya dokumen atau kebijakan resmi kok. Dan 
lagi, menjelang akhir perang, setelah sadara bahwa mereka akan kalah, 
Nazi memusnahkan banyak dokumen penting tentang diri mereka yang akan 
bisa dipakai untuk menghukum mereka, termasuk dokumen-dokumen soal 
kamp konsentrasi.
=======================================================
Dokumen resmi yang mendekati mungkin dokumen hasil konferensi 
Wannsee, mengenai "solusi akhir untuk masalah Yahudi" ("Final 
solution to the Jewish question"). 

Bisa diakses di:
http://prorev.com/wannsee.htm

Memang yang tertulis di sana adalah "evacuation". Tapi harap diingat 
bahwa pihak Nazi sepertinya ada kecenderungan untuk memakai kata-kata 
kiasan yang lebih halus untuk mempermudah penyangkalan seperti halnya 
tertulis pada paragraf2 atas di halaman tersebut: 

Marshall Rosenberg, who teaches non-violent communication, was struck 
in reading psychological interviews with Nazi war criminals not by 
their abnormality, but that they used a language denying 
choice: "should," "one must," "have to." For example, Adolph Eichmann 
was asked, "Was it difficult for you to send these tens of thousands 
of people their death?" Eichmann replied, "To tell you the truth, it 
was easy. Our language made it easy." Asked to explain, Eichmann 
said, "My fellow officers and I coined our own name for our language. 
We called it amtssprache -- 'office talk.'" In office talk "you deny 
responsibility for your actions. So if anybody says, 'Why did you do 
it?' you say, 'I had to.' 'Why did you have to?' 'Superiors' orders. 
Company policy. It's the law.'"

Dalam buku denying history hal 224:
If there could be any doubt about what was going on here, at his 
trial Eichmann clarified exactly what he meant in the Wannsee 
Protocol:"What I know is that the gentlement convened their session 
and then in very plain terms-not in the language that I had to use in 
the minutes, but in absolutely blunt terms- they addressed the issue, 
with no mincing of words... The discussion covered killing, 
elimination and annihilation.

Dari pejabat-pejabat Nazi yang hadir, hanya 1 orang yang kemudian 
menyatakan penyesalannya. Sisanya berusaha menghindari tanggung jawab 
dengan mengatakan bahwa pembunuhan tersebut dilegalkan oleh negara 
oleh saat itu. (Harap dicatat bahwa yang menjadi pembelaan oleh para 
pejabat tinggi ini bukanlah penyangkalan bahwa genosida tersebut 
tidak pernah terjadi, tapi mereka berasalan bahwa pembunuhan tersebut 
adalah "tugas negara")

=======================================
mengenai masalah surat2 yang tersisa dan dokumentasi. Saya pribadi 
merasa bahwa kejadian genosida Yahudi oleh Nazi ini termasuk dalam 
yang terdokumentasi dengan baik (Setidaknya kalau dibandingkan dengan 
Genosida oleh Khmer merah misalnya).

Dalam memisahkan siapa yang dimaksud sebagai Yahudi dan siapa yang 
Arya murni, setahu saya Nazi justru memakai data-data kependudukan. 
Salah satu buku di perpus langganan saya (saya sih blum sempet baca, 
cuma bolak balik halaman) menceritakan tentang sistem kamp (entah 
kamp mana) dan beberapa foto tahanan yang terselamatkan. (Untuk masuk 
kamp konsentrasi maka akan didata dan difoto terlebih dahulu?)

Dalam beberapa kisah nyata yang pernah saya baca atau saya tonton 
filmnya (baik dokumenter ataupun dokudrama), peran surat-surat 
kependudukan itu sangat penting baik untuk membuktikan bahwa 
seseorang itu ras Arya murni (ada surat khususnya), seorang Yahudi 
(kemungkinan surat silsilah keluarga), ataupun seorang YAhudi yang 
tidak termasuk pada Yahudi yang harus dibunuh (biasanya orang2 Yahudi 
ini sudah terbukti berjasa besar bagi partai Nazi, jadinya diberikan 
semacam surat dispensasi).

Kalau tidak salah, perbedaan angka penduduk Yahudi sebelum dan 
sesudah perang dunia juga menjadi salah satu metode kasar untuk 
menghitung korban Holocaust. (Dalam hal ini, selisih angka yang 
didapat mungkin terlalu kecil daripada jumlah yang sebenarnya 
mengingat ada indikasi bahwa Nazi juga membunuh bayi2 Yahudi yang 
belum sempat terdaftarkan di kantor catatan sipil setempat)

Salam,


Vida
http://www.bebekrewel.com




                
---------------------------------
 New Yahoo! Mail is the ultimate force in competitive emailing. Find out more 
at the Yahoo! Mail Championships. Plus: play games and win prizes.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke