Oleh Sebastianus Parera 
Pemerhati Komunikasi, Tinggal di Jakarta
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/21/opini/3384309.htm
===========================
 
Amartya Sen, pemenang hadiah Nobel Ekonomi 1998, punya tesis yang amat
menarik, ada hubungan yang lurus antara pers dan pemerataan pembangunan.

Kesimpulan itu berawal dari rasa tertarik Sen pada kelaparan di India
puluhan tahun lalu. Saat meneliti kelaparan yang terjadi di Bengal
pada tahun 1943, dia menemukan data yang mencengangkan: saat itu
produksi bahan pangan di sana tidak lebih rendah daripada dua tahun
sebelumnya di mana penduduk setempat tak kekurangan makanan. Rupanya,
biang keroknya adalah daya beli pekerja tani yang jauh menurun akibat
inflasi di Calcutta pada tahun 1942.

Surat kabar dan kemiskinan

Kelaparan yang menewaskan hingga 100.000 orang di Banglades pada tahun
1974 sama saja. Banyak yang mengatakan itu akibat gagal panen menyusul
banjir besar yang merusak sawah-sawah petani. Nyatanya, angka-angka
berkata lain, kelaparan tidak ada hubungannya dengan panen. Produksi
pangan Banglades waktu itu justru tertinggi dibandingkan dengan
tahun-tahun lain periode 1971-1976. Persoalannya adalah kenaikan harga
beras dunia yang mendongkrak harga lokal sehingga tak tertanggung
kantong tipis pekerja tani setempat.

Riset-riset itu membawa Sen pada kesimpulan, kelaparan bukan masalah
cukup-tidaknya bahan makanan, tetapi distribusi sumber daya. Karena
percaya bahwa distribusi sumber daya di negara demokratis terkait
dengan sistem informasi, Sen mendaulat pers sebagai bagian tak
terpisahkan dari upaya mengatasi persoalan pembangunan.

Sederhananya, distribusi tidak pernah bisa merata jika kita tidak tahu
di mana tempat yang berkecukupan dan di mana yang kekurangan.

Penelitian Sen ini menarik perhatian banyak peneliti, di antaranya
Timothy Besley dan Robin Burgess yang kemudian melakukan riset di
India, ditemukan beberapa fakta menarik.

Pertama, setiap kenaikan satu persen sirkulasi surat kabar berkolerasi
dengan meningkatnya 2,4 persen distribusi makanan dan 5,5 persen
pembelanjaan untuk menangani bencana. Kedua, makin tinggi kompetisi
politik, makin tinggi persentase distribusi makanan. Ketiga, dana
bencana dari pemerintah lebih besar di daerah yang sirkulasi surat
kabarnya tinggi.

Sebenarnya gagasan bahwa media harus menjadi mediator, jalur, channel,
yang mengalirkan informasi pembangunan, bukan hal baru.

Kelebihan Sen, dia memberi konteks bagi peran media, sekaligus
menunjukkan paradoks: jika media bisa mendorong lahirnya kebijakan
untuk menolong orang lapar, mengapa masih terjadi kelaparan?

Kita tahu sistem yang korup dan birokrasi yang berbelit telah
meminggirkan banyak orang dari pusat-pusat kekuasaan. Ada kelompok
yang termarjinalisasi karena secara geografis jauh dari jangkauan
pusat, ada pula yang dekat tetapi tak pernah menjadi subyek kebijakan.

Media ikut meminggirkan

Yang membuat kaum pinggiran tak pernah bisa keluar dari
ketidakberdayaan antara lain karena media-media utama (main stream
media), sengaja atau tidak, ternyata ikut dalam sistem yang
meminggirkan. Ada dua alasan.

Pertama, media memiliki keterbatasan halaman dan durasi. Akibatnya,
cerita tentang kaum pinggiran yang biasanya tak menarik selalu tersingkir.

Kedua, seperti disinyalir Noam Chomsky dan Erward Herman (1988), pers
modern terjepit di antara kekuasaan dan bisnis sehingga secara alami
lebih berorientasi kepada elite serta oplah atau rating.

Tak heran jika Johan Galtung (1992) mengatakan, komunitas pinggiran
butuh sesuatu yang seksi untuk menang dalam kontestasi agenda publik
dan yang seksi itu adalah tragedi. Semakin buruk peristiwa yang
dialami, semakin berpeluang daerah itu menjadi berita.

Contoh sederhana, berapa banyak dari kita yang pernah mendengar tempat
bernama Cibal di Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur? Bahkan,
sesama orang Flores dari kabupaten berbeda pun mungkin tak tahu.
Namun, musibah tanah longsor yang menewaskan puluhan orang beberapa
waktu lalu membuat daerah itu dikenal. Hal yang sama terjadi pada
Yahukimo, Papua, dan banyak daerah jauh lainnya.

Kita tentu tak ingin pola semacam terus berulang bahwa hanya tragedi
yang mendekatkan kita kepada komunitas pinggiran. Maka, di tengah
situasi bangsa yang senantiasa dirundung petaka dan peristiwa buruk,
rasanya tepat untuk menggugah insan pers agar menggeser pendulum
newsworthy di ruang-ruang berita dari pusat ke tepi. Ini sulit, tetapi
bukan berarti tidak mungkin. Apalagi jika pada saat sama, para pemuka
pendapat dalam komunitas pinggiran mulai memanfaatkan kecanggihan
teknologi informasi yang telah membuka lebar ruang publik (public
sphere) hingga nyaris tanpa batas.

Pembangunan memang punya banyak masalah, teknis maupun etis, tetapi
tidak ada salahnya untuk percaya kepada Sen bahwa informasi memiliki
daya dobrak yang mampu membuka pintu-pintu kebijakan yang selama ini
tertutup.



Kirim email ke