Oleh Sukardi Rinakit 
Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/21/opini/3399515.htm
=========================
 
Sejujurnya, hari-hari terakhir ini dada saya terasa sesak. Itu
disebabkan banyaknya spekulasi yang tidak menentu, bertentangan dengan
ilmu pengetahuan yang saya pelajari dan yakini.

Ada beberapa orang yang punya otoritas spiritual menyampaikan,
Presiden SBY sebaiknya "ganti nama" dan "pindah rumah". Jika itu tidak
dilakukan, bencana dan musibah tidak akan berhenti.

Sebagai orang Jawa, saya bisa menangkap makna tersembunyi dari istilah
"ganti nama" dan "pindah rumah" itu. Intinya, Presiden harus
mengundurkan diri. Republik perlu presiden baru. Itulah makna ganti
nama dan pindah rumah. Karena itu, saya langsung menyergap mereka,
"Itu merusak proses demokrasi yang capek-capek kita bangun dan yakini.
Presiden harus dipilih dan berkuasa selama lima tahun," kata saya.
Mereka terdiam.

Sore kemarin saya bertemu seorang mantan menteri. Datang-datang dia
menanyakan prediksi saya mengenai sampai kapan Presiden SBY akan
berkuasa. Karena mengikuti aturan main demokrasi, saya menjawab
pendek, "Sampai 2009." Dia tertawa, lalu memesan jus sirsak. Dia tidak
percaya prediksi saya.

Saatnya "reshuffle"

Fenomena itu, yaitu menguatnya spekulasi dan isu-isu metafisika
politik, sebenarnya merupakan cermin keguncangan konfigurasi politik
di Tanah Air. Pergeseran konfigurasi itu disebabkan sikap Presiden.
Janji Presiden SBY bersikap tegas, misalnya, sampai hari ini belum
bisa diidentifikasi melalui contoh nyata. Akibatnya, banyak suporter
pemerintah diam-diam menggeser peran. Mereka diam-diam jadi spoiler
(oposan) atau sekadar free-rider (penumpang gratis) dari Presiden.

Pergerakan seperti itu bisa dicegah jika pergantian kabinet segera
dilakukan. Keterlambatan melakukan reshuffle diterjemahkan publik
sebagai manifestasi sikap ragu-ragu Presiden dalam mengambil
kebijakan. Bagi partai politik, sikap Presiden itu dianggap tidak jelas.

Akibatnya, muncul anggapan Presiden sendiri yang secara tidak langsung
menggiring partai-partai politik pendukungnya memasuki area kelabu.
Jangan-jangan dukungan mereka kini tinggal seperti tahu pong. Kulitnya
gurih-lezat, tetapi dalamnya kosong (dukungan semu).

Jika mencermati hasil jajak pendapat mengenai reshuffle kabinet
(Kompas, 20/3/2007), Presiden tidak boleh ragu melakukan pergantian
kabinet. Semakin cepat, semakin baik. Lebih dari 70 persen responden
menganggap, sejauh ini kinerja para menteri belum memadai. Karena itu,
sekitar 60 persen responden meyakini jika Presiden melakukan
reshuffle, kinerja kabinet akan menjadi lebih baik.

Selain itu, sisi positif lain dari perombakan kabinet adalah
bangkitnya optimisme publik. Seberapa pun tipisnya kebangkitan itu,
Presiden perlu memperhitungkan. Mengabaikan optimisme publik berarti
seperti memerintah, tetapi tanpa napas kehidupan. Itulah sebabnya
mengapa optimisme publik sering disebut sebagai pintu lebar bagi siapa
pun yang ingin meneguhkan dirinya sebagai penguasa.

Sedangkan menurut kajian Soegeng Sarjadi Syndicate, ada beberapa
menteri yang resonansi namanya lemah di masyarakat. Mereka adalah
Aburizal Bakrie (Menko Kesra), M Maftuh Basyuni (Menteri Agama),
Sugiharto (Menteri Negara BUMN), Hatta Rajasa (Menteri Perhubungan),
Yusril Ihza Mahendra (Menteri Sekretaris Negara), Anton Apriyantono
(Menteri Pertanian), Hamid Awaludin (Menteri Hukum dan HAM), Freddy
Numberi (Menteri Kelautan dan Perikanan), Bachtiar Chamsyah (Menteri
Sosial), dan Suryadharma Ali (Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM).

Sekadar menjalani

Lambatnya Presiden SBY merombak kabinet membuat saya teringat Pak
Harto. Pagi itu, 9 Juni 1999, saya bertanya kepada Pak Harto mengenai
perasaannya setelah mundur dari kursi kepresidenan, Pak Harto menjawab
halus, "Hidup sekadar menjalani (urip sakdrema nglakoni)."

Jawaban Pak Harto itu memberi inspirasi untuk percaya pada prinsip,
hidup harus pasrah, tetapi tidak ragu-ragu dalam mengambil tindakan.
Kebenaran menjadi relatif saat berhadapan dengan kepentingan rakyat.
Dalam konteks Presiden SBY, kebenaran dukungan dan kebaikan seseorang
terhadap dirinya harus menjadi relatif saat berhadapan dengan rakyat.

Sebaik apa pun orang itu dan sekuat apa pun partai pendukungnya, jika
tidak bisa meringankan beban hidup rakyat, harus diganti. Jika karena
tindakan itu Presiden lalu digoyang lawan-lawan politiknya, kebijakan
Pak Harto perlu diresapi, hidup sekadar menjalani.

Belum adanya sinyal pasti Presiden soal ada-tidaknya perombakan
kabinet membuat energi politik menjadi tersebar. Situasi seperti ini
kurang menguntungkan jika dibiarkan berlarut-larut. Di depan mata,
banyak masalah dihadapi dan harus diselesaikan. Salah satunya yang
krusial dan sensitif adalah ketersediaan beras.

Dengan perubahan iklim tak terduga seperti sekarang, panen musim depan
diperkirakan gagal. Jika energi politik yang ada terbelah-belah dan
tidak membentuk gugusan sinergis, kenaikan harga beras akan memicu
keresahan masyarakat.

Semakin lama situasi itu berlangsung— apalagi jika terkait masalah
lain, seperti pengangguran—suhu politik pasti kian memanas. Maka, apa
pun keputusannya, Presiden sebaiknya segera memberi kepastian
ada-tidaknya reshuffle kabinet. Menunda masalah berarti mengakumulasi
potensi ledakan yang akan terjadi.

Catatan penutup

Jika Presiden merombak kabinet, pertimbangan keahlian harus mendapat
bobot paling kuat dibandingkan dengan pertimbangan keterwakilan partai
politik. Bila perlu, belum terlambat bagi Presiden untuk membentuk
zakenkabinet. Kalaupun orang partai diperlukan duduk di dalamnya,
sebaiknya Presiden bersandar pada dua partai yang menjadi pilar utama
kekuasaan, Partai Demokrat dan Golkar.

Presiden perlu menyadari, tugasnya dalam arus transisi demokrasi
adalah tidak mudah. Selain banyak masalah yang harus diselesaikan,
masa depan demokrasi di Indonesia terletak di tangannya. Karena itu,
jika Presiden gagal membangkitkan optimisme publik, ketidakpercayaan
publik pada demokrasi juga menguat. Jika itu terjadi, bendera
otoriterianisme akan berkibar-kibar dari Sabang sampai Merauke.

Karena itu, demi kepentingan rakyat dan demokrasi, Presiden tidak
perlu khawatir tekanan partai politik. Selain itu, tidak perlu terlalu
kalkulatif terhadap kekuasaan yang dipanggulnya. Karena pada dasarnya,
menjadi presiden adalah bukan "memiliki" Republik, tetapi "menjadi"
roh Republik; menggendong rakyat mencapai kemakmuran dan keadilan.

Seperti kata Pak Harto, hidup sekadar menjalani. Karena benar, Tuhan
tidak tidur, Gusti ora sare.



Kirim email ke