SRI MULYANI BUKAN SAJA TIDAK MENGUASAI ILMU FISKAL-MONETER TAPI JUGA ILMU
STATISTIK.
Asumsi APBN 2010 yang dirumuskan Menteri Keuangan, Sri Mulyani, dijalankannya
asal-asalan belaka.
Asumsi Makro Ekonomi APBN 2010
Pertumbuhan Ekonomi
5,5
Inflasi 5
Tingkat Bunga SBI 3 bln 6,5
Nilai Tukar Rupiah (Rp/US$) 10.000
Harga Minyak ICP ($/barel) 65
Produksi Minyak(MBCD) 965.000
Sumber:Kompas, 14-4-2010
a. Menurut Ilmu Statistik EkonomiTingkat Bunga SBI, Nilai Tukar Rupiah, Harga
Minyak dan Produksi Minyak sama sekali tidak ada korelasinya dengan pertumbuhan
ekonomi atau GNP.
b. Di Indonesia pertumbuhan ekonomi dalam arti 'harga konstan' tidak pernah ada
karena 'GNP Deflator' tidak pernah dihitung Biro Pusat Statistik, apalagi oleh
Departemen Keuangan dan Bank Indonesia. Dan oleh karenanya kita tidak pernah
mengetahui pertumbuhan ekonomi dalam arti riil, tapi hanya dalam harga nominal
atau dalam 'harga-harga yang berlaku'. ('current prices'). GNP Deflator adalah
ratio GNP nominal dan GNP riil. Atas dasar itu, jika kita pakai index inflasi
sebagai pengganti 'GNP Deflator', maka GNP riil berdasarkan asumsi di atas,
hanyalah 0.5% (5,5-5). Dan angka 0.5% tsb bukanlah seperti yang diasumsikan Sri
Mulyani begitu rendah. Dengan kata lain: Sri Mulyani melakukan asumsi GNP
maupun Index Inflasi melulu asal-asalan belaka.
Jika nanti Pres. SBY mencopot Sri Mulyani atau mengangkat Gubernur BI baru,
maka sedianya harus diselidiki terlebih dahulu biodata pengganti Sri Mulyani
atau Gubernur BI yang baru, untuk mengetahui apakah mereka memiliki keahlian
moneter dan statistik apa tidak.
14-4-2010
hmt oppusunggu
[Non-text portions of this message have been removed]