Wuuuaaah, para calon walikota soerobojo mestine moco tulisan iki cak ! Beberapa tahun silam aku juga pernah beli lembaran koran lawas (palsu ?)Di kios-kios pinggir sungai dekat benteng rutannya marie antoniette, dan gereja Notredamme, artinya kaki lima juga ada sebagai ciri khasnya paris.salambambangsulistomo
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: Mahmud Syaltout Syahidulhaq Qudratullah Cholil Asy'ari <[email protected]> Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Paris versus Surabaya: Mana yang lebih ndhéso d an lebih santri? Discussion (off) AccueilProfilCompte Santri Ndhéso : Paris versus Surabaya: Mana yang lebih ndhéso dan lebih santri? Mes articles|Articles à mon sujet|Profil de Santri Paris versus Surabaya: Mana yang lebih ndhéso dan lebih santri?Partager Aujourd'hui à 10:58 | Modifier l'article | Supprimer Setelah baca artikel "Pedagang: Gusur Dolly, Bukan Pasar!", entah kenapa aku merasa bener-bener ngenes dan nelongso. Bukan karena salah satu keluargaku merupakan pedagang pasar tradisional! Karena setahuku, tidak ada satu keluarga besarku yang menjadi pedagang di pasar Keputran, Koblen dan Peneleh. Bukan pula karena aku punya kenangan indah berbelanja di Pasar Keputran tengah malam atau menjelang shubuh bareng Cak Makson, Cak Mupet dan sahabat-sahabatku yang lain. Bukan pula karena Pasar Koblen dekat dengan rumah kakakku di mana aku melewatkan waktu paling lama di Surabaya di sana (sejak SMP hingga kuliah semester 4). Bukan pula karena aku sesekali belanja di Pasar Peneleh sepulang ngaji Kitab Hikam di Masjid Peneleh. Sekali lagi bukan karena itu semua! Tetapi karena aku tinggal di Paris! Ya, ibukota salah satu negara kaya dan maju. Sebuah metropole Eropa yang konon dikenal sebagai pusat budaya dan mode dunia. Kota penuh glamour dan kemewahan. Kota yang terkenal dengan Avenue Champs-Élysées di mana butik-butik lux dan mahal berjajar rapih. Kota yang terkenal dengan La Tour Eiffel yang kerlap-kerlip tiap jam di malam hari. Kota yang dipenuhi gedung-gedung bercorak aristokratik Eropa Abad 17. Kota di mana kita menjumpai mobil-mobil mewah seri terbaru hilir mudik dan atau dipamerkan. Kota di mana tas Longchamp, yang konon masih dianggap mewah di negeri kita, sering kulihat ditenteng ibu-ibu buat nenteng belanjaan dari pasar. Bukan, bukan pasar modern atau hypermarket (di sini disebut hypermarché atau grande surface) yang sering dikunjungi nenek-nenek super-kaya, aristokrat, dan sekaligus pemilik apartemen mewah, berparfum sangat wangi dan berkelas, paling gak Chanel n° 5, berliontin berliontin berlian, berkalung mutiara, bergelang platinum, berjam seharga puluhan ribu euro, berdompet Louis Vuitton dan berpakaian sangat mahal, tetapi pasar tradisional. Ya, di pasar tradisional di Paris! Benar, Carrefour adalah salah satu hypermarket asal Perancis, tapi justru kita tidak pernah menjumpainya satu pun di tengah-tengah kota Paris. Jangan pernah bayangkan ada Carrefour yang terdiri yang luas dan beberapa tingkat di jantung kota seperti di Surabaya, wong satu lantai aja gak ada. Di sini, hypermarket dibangun di pinggiran kota (banlieu), dan itu secara administratif, sudah gak termasuk Paris lagi, istilahnya yaa di Sidoarjo, Gresik atau Bangkalan. Di sini, mereka yang berkunjung atau berbelanja ke hypermarket itu orang-orang miskin dan atau berpenghasilan rendah dan atau keluarga dengan banyak anak (famille nombreuse istilahnya di sini), karena hyypermarket di sini dikenal sebagai pasar dengan harga sangat murah. Penampilan pembeli atau pelanggan hypermarket sangat sangat jauh berbeda dan jauh sederhana dibandingkan para pengunjung pasar tradisional. Kenyataan ini tentu saja sangat kontras dengan yang terjadi di Surabaya. Pasar tradisional yang menjual bahan pokok dan bahan makanan di sini, benar-benar sangat tradisional menurutku. Bahkan saking tradisionalnya, pasar itu ada pada hari-hari tertentu di tempat tertentu, seperti praktek yang dilakukan di Jakarta tempo doeloe (yang dari sini, kita kemudian mengenal Pasar Senen, Pasar Rebo, Pasar Jumat dan Pasar Minggu) dan atau seperti yang masih terjadi di pelosok-pelosok Jawa yang mengikuti weton (Pasar Legi, Pasar Kliwon, dst). Untuk mengetahui pada tiap hari apa dan di mana pasar tradisional itu berada di tiap distrik (di sini disebut arrondissement) di Paris (dari arrondissement I sampai arrondissement XX), bisa dilihat di website pemerintah kota/PEMKOT (Mairie) Paris. Bisa jadi karena itu pula, pasar-pasar itu didirikan sangat sederhana, kiosnya hanya berupa tenda tak permanen yang bisa dibongkar pasang. Bentuknya, kurang lebih serupa seperti pasar tradisional di dekat rumah kami, Marché de Belleville. Marché de Belleville: Menurut reportase Internaute Magazine, di pasar ini kita mendapatkan bahan-bahan makanan dengan pilihan nomor 1, kualitas dan kesegaran (freshness) barang-barang yang diperdagangkan tak terkalahkan di seluruh Perancis. Hal tak kalah menariknya di pasar ini, saat menjelang tutup (jam 2 siang) harganya bisa sangat murah separuh harga dari asalnya, suasana yang bersahabat dan multi-etnis dengan berbagai bahasa (dari China, Arab, Perancis, dsb) sangat kentara di sini. Hari rabu yang lalu, aku, Zola dan Ibu belanja beberapa sayuran dan ikan di sini lho. (Photo diambil dari L'Internaute Magazine / Cécile Debise) Boucherie Hallal: Di pasar tradisional ini, kita bisa menjumpai paling tidak 3 kios pedagang daging halal. (Photo diambil dari L'Internaute Magazine / Cécile Debise) Menurut PEMKOT Paris, pasar-pasar tradisional sudah ada sejak abad V masehi, sejak Paris masih bernama "Lutèce". Pasar-pasar ini kemudian terus berkembang seiring waktu. Setidaknya di tahun 1860 tercatat sudah ada 51 pasar tradisional di Paris. Jumlah ini pun terus bertambah, setidaknya saat ini sudah ada 95 pasar tradisional (termasuk pasar loak dan pasar produk khusus seperti pasar bio, pasar bunga, pasar ikan, pasar burung, dll.) di Paris. Sejak 1 Januari 2003, PEMKOT Paris melihat apresiasi penduduk terhadap pasar tradisional semakin meningkat, khususnya semakin besarnya minat penduduk Paris (parisien) terhadap produk bio dan segar (fresh). PEMKOT Paris pun sejak saat itu memikirkan dan mengupayakan bagaimana agar pasar-pasar tradisional ini tidak hanya berlangsung di pagi hari, namun bisa diperpanjang hingga sore hari. Singkat kata, sejak 1 Agustus 2006, tercatat 9000 lebih pedagang pasar tradisional di bawah naungan PEMKOT Paris. Jika tertarik lebih jauh mengenai pasar tradisional di Paris, bisa lihat langsung di situs resmi PEMKOT Paris yang menangani pasar tradisional. Tentu saja, fenomena ini sangat jaaaauuuuuh berbeda dengan di Surabaya, kota dengan pendapatan (1,362 trilyun rupiah di tahun 2005 setara dengan 112,593 juta Euros) 1462 kali lebih rendah dibandingkan Paris (164 539 juta Euro di tahun 2005), namun dengan kecenderungan jumlah pasar modern yang semakin meningkat dan pasar tradisional semakin menurun. Berdasarkan pengamatan KOMPAS, yang aku baca dalam artikel "Dominasi Pasar Modern di Surabaya", perbandingan tersebut saat ini adalah 65:35 (Pasar modern:Pasar tradisional). Sampai di sini, para sahabat bisa menyimpulkan mana yang lebih ndhéso, antara Paris dan Surabaya? Sebuah pernyataan menarik sekaligus ucapan jujur sekaligus penuh kekesalan, saat para pedagang berujar "Gusur Dolly, jangan pasar!" menghadapi kebijakan PEMKOT Surabaya. Sekarang, mari kita coba bandingkan permasalahan ini dengan Paris. Benar, Paris adalah salah satu kota yang dikenal dengan slogannya "Paris, protège l'amour" - Paris membela cinta. Ya, di Paris setiap orang dilindungi untuk mengekspresikan cintanya. Di Paris, dengan setiap sudutnya yang romantis, memungkinkan pasangan muda-mudi maupun kakek-nenek untuk berpeluk manja dan berciuman mesra. Di sini, setiap ekspresi cinta, asal bukan bersenggama di muka umum saja, dilindungi. Jangan pernah membayangkan ada FPI yang mak ujug-ujug tanya KTP atau akte nikah orang yang bergandengan tangan atau Satpol PP yang menangkap orang yang lagi berciuman di taman-taman kota. Di sini, justru ekspresi kebencian entah itu makian apalagi sampai pukul-pukulan, yang diadukan oleh masyarakat sekaligus ditangani dengan cepat oleh Polisi. Singkat kata, kalau kita berciuman di depan umum, bukanlah masalah, sedangkan maki-makian dan atau pukul-pukulan di depan umum adalah masalah besar, apalagi dengan anggota keluarga (suami/istri atau anak) bisa langsung dibawa ke pengadilan dan masuk bui (di sini ada nomor khusus untuk pengaduan SOS femme battue/istri teraniaya, homme battu/suami teraniaya maupun enfant battu/anak teraniaya). Benar, di Paris kita bisa menjumpai perempuan-perempuan cantik berbusana minim. Namun, itu hanya terjadi di musim panas! Jangan pernah bayangkan itu terjadi setiap musim! Karena, perempuan-perempuan di sini bukanlah perempuan bodoh seperti dalam film Eiffel I'm in Love yang pakai rok mini di tengah musim dingin, bersalju pula. Perempuan-perempuan ini justru berpakaian sangat tertutup, berlapis-lapis, pakai kerpus, pakai sal, pakai sweater tebal, pakai mantel tebal dan panjang sampai di bawah lutut terkadang lengkap dengan ponconya, pakai sarung tangan, pakai celana atau rok panjang atau stocking tebal, dan pakai sepatu boot (tertutup nyaris sampai lutut). Kurang lebih, mode berpakaian rata-rata perempuan parisienne saat musim dingin seperti yang diperagakan model cantik berikut ini: Mode d'hiver 2008: Tren pakaian musim dingin seperti ini, merupakan paling "klasik" atau sederhana, namun paling banyak diikuti. Kemudian, jangan pernah berpikiran bahwa perempuan-perempuan yang tinggal di Paris (parisienne) yang berpakaian minim saat musim panas (yang suhunya benar-benar panas dan bisa mencapai 46,7° C) itu adalah perempuan gampangan dan seenaknya kita tiduri! Hey! Mereka bukan pelacur! Benar, di Paris dan di seluruh Perancis bukanlah sebuah kegiatan yang dilarang. Namun, Perancis termasuk salah satu negara Eropa di mana prostitusi adalah legal, namun aktivitas pengorganisasiannya di sini dikenal dengan istilah "proxénétisme" (termasuk germo/rumah bordil) adalah terlarang/ilegal. Jadi, jangan pernah membayangkan ada lokalisasi pelacuran di Paris, seperti yang bisa kita lihat/kunjungi di Dolly - Surabaya atau di Red Light - Den Haag-Amsterdam. Jika ingin mengetahui bagaimana kebijakan negara-negara di Eropa terhadap isu prostitusi sekaligus isu lokalisasi pelacuran, bisa dilihat peta berikut ini: Prostitution en Europe: Peta berwarna merah menunjukkan pelacuran adalah terlarang/ilegal. Peta berwarna biru menunjukkan bahwa pelacuran adalah legal, namun aktivitas pengorganisasiannya (termasuk lokalisasi) adalah terlarang/ilegal. Peta berwarna hijau menunjukkan bahwa pelacuran legal dan aktivitas pengorganisasiannya (termasuk lokalisasi) diatur oleh undang-undang. Kenapa Perancis melarang germo/lokalisasi? Perancis, sebagai salah satu pelopor HAM dan Hukum Internasional, meratifikasi dan menerapkan dengan baik Resolusi Majelis Umum PBB No. 317 (IV) yang ditandatangani 2 Desember 1949, yang kemudian dikenal dengan "Convention pour la répression de la traite des êtres humains et de l'exploitation de la prostitution d'autrui". Dalam Pasal 1 Konvensi itu jelas-jelas tertulis demikian: "Les Parties à la présente Convention conviennent de punir toute personne qui, pour satisfaire les passions d’autrui : 1) Embauche, entraîne ou détourne en vue de la prostitution une autre personne, même consentante ; 2) Exploite la prostitution d’une autre personne, même consentante." Terjemahan tidak resminya begini: Setiap pihak yang menandatangani konvensi ini menghukum siapapun, untuk kesenangan orang lain: 1) Memperkerjakan, melatih atau mengarahkan orang lain menjadi pelacur, meskipun secara sadar/sukarela; 2) Mengeksploitasi prostitusi orang lain, meskipun secara sadar/sukarela. Tentu saja, fenomena di Paris dan Perancis ini tentu sangat berbeda dengan Surabaya. Di mana sampai kini, Dolly - konon katanya tempat lokalisasi terbesar di Asia Tenggara, tetap masih dibiarkan melakukan aktivitasnya oleh PEMKOT Surabaya, entah karena alasan dapat retribusi dari sana, entah tidak punya biaya/keberanian untuk menutupnya atau entah karena alasan lain. Aku juga melihat FPI maupun ormas Islam dan atau LSM Penggiat HAM tak berani mengutak-ngatik Dolly maupun lokalisasi pelacuran lainnya di Surabaya atas nama moralitas agama, atas nama perlindungan HAM sebagaimana yang diatur dalam Resolusi Majelis Umum PBB No. 317 (IV) tanggal 2 Desember 1949, atas nama PERDA Surabaya No. 7 tahun 1999 atau atas nama yang lain. Sampai di sini, aku jadi bingung sebenarnya mana yang lebih santri, antara Paris dan Surabaya? Rédigé il y a 41 minutes · Commenter · J’aime 'Zhae Zhae' aime ça. Go Ber Bernad Perasaan pnh ktm ngenet d.igloo bareng?? Il y a 39 minutes via Facebook Mobile · Marquer des personnes dans cet article Nombre maximal de marquages atteint Dans cet article M Faishal Aminuddin Articles|Articles liés (supprimer l’identification) M Syaiful Aris Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Paham Jakarta Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Sheika Rauf Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Fulyulis Indriyanto Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Pan Mohamad Faiz Full Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Hadad Rauf Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Goenawan Mohamad Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Ulil Abshar Abdalla Penuh Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Wong Ndeso Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Eko Budisiswanto Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Herlambang Perdana Wiratraman Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Endra Atmawidjaja Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Haidar Adam Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Wiwik Budi Wasito Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Baidowi Bai Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Nizar Zahro Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Sumanto Al Qurtuby Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Boim Hosen Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Ima Rahmani Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Joeni Arianto Kurniawan Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Ery M Wisanggeni Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Lbh Surabaya Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Arief Dody Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Airlangga Pribadi Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Eko Kurniawan Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Muhamad Ali Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Berly Martawardaya Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Miftakhul Huda Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Fida'Fajar Febriansyah Articles|Articles liés (supprimer l’identification) Créez une publicité X Play SocialCity Create, grow and expand your virtual metropolis in SocialCity. Play now! J’aime X Vos Vacances dans le Jura Escale bleue, détente et canoë : 2 jours/1 nuit à partir de 29 € par personne ! J’aime X l'Engime de la fortune Jouez à l'Engime de la fortune en ligne contre de véritables adversaires. Inscrivez vous maintenant et recevez 10,00€ à jouer! J’aime Plus de publicités Facebook © 2010Français (France) À propos dePublicitéDéveloppeursEmploisConditions • Rechercher des amisConfidentialitéMobileAide [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ===================================================== Pojok Milis Komunitas Forum Pembaca KOMPAS [FPK] : 1.Milis Komunitas FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS 2.Topik bahasan disarankan bersumber dari http://cetak.kompas.com/ , http://kompas.com/ dan http://kompasiana.com/ 3.Moderator berhak memuat,menolak dan mengedit E-mail sebelum diteruskan ke anggota 4.Moderator E-mail: [email protected] [email protected] 5.Untuk bergabung: [email protected] KOMPAS LINTAS GENERASI ===================================================== Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
