Sekedar postingan, dan postingan sekedar-sekedar untuk menghangatkan bara
cinta pembaca milis ini --yang barangkali mulai meredup kehangatannya.
Pengantar jelang akhir pekan.
*
Dwiki Setiyawan<http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2010/04/16/jalan-cinta/>
*


Source: my blog dan share di
http://filsafat.kompasiana.com/2010/04/16/jalan-cinta/

Orang yang menginginkan keselamatan hidup hendaknya tidak memasuki *Jalan
Cinta* <http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2010/04/16/jalan-cinta/>.
Lantaran berpikir tentang keselamatan acapkali membelokkan hati dari
ketaatan terhadap yang dicintainya. Menjadi budak bagi diri sendiri dapat
mengalihkan cinta kepada cara berpikir yang menyesatkan. Seorang pecinta
sejati, sekalipun tidak pernah memperoleh kasih sayang yang sesungguhnya,
tanpa disadari ia akan mati tatkala sedang berusaha merengkuhnya. Apabila
engkau seorang pecinta, kejarlah kekasihmu. Perolehlah apa yang dapat
diperoleh, yakni kebahagiaan. Atau engkau akan menjumpai maut di pintu
gerbang kerinduan?

Kalimat di atas diungkap pemikir Islam Persia abad  pertengahan dengan nama
pena Sa’di.  Menurut Sa’di, cinta menuntut sebuah kesetiaan yang luar biasa.
Seorang pecinta senantiasa memberi, selalu mengagumi, tidak pernah menuntut
kepada yang dicintai dan tidak pernah mencari-cari kesalahan. Kualitas cinta
manusia ditakar berdasarkan tingkat kedekatannya dengan hal-hal yang
bersifat mistis dalam mencintai Sang Maha Pencinta. Sebagaimana cinta kepada
Tuhan dapat menyerap substansi ketuhanan, demikianlah pula cinta pada
manusia, sang pecinta harus mencari kepuasan seutuhnua melalui pengingkaran
total.

Sa’di lahir di kota Shiraj  (kini masuk negera Iran)  pada 1194, tidak lama
setelah Shalahuddin Al-Ayubi merebut Jerusalem dari para tentara Perang
Salib. Ia meninggal pada 1291. Hampir berusia satu abad. Jalan hidupnya
hingga usia lanjut penuh lika-liku. Suka membaca dan berpetualang sejak
kecil, Sa’di tumbuh menjadi pribadi yang matang dalam mensikapi riak-riak
dan gelombang kehidupan.

Menurutnya, kehidupan merupakan sebuah misteri yang sangat sulit untuk
dipahami manusia. Namun demikian bagi orang-orang yang memiliki kejernihan
nurani dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam desiran aliran air, bunga yang
sedang mengembang dan kicauan burung.

Kata Sa’di, “Iman dapat mengisi kerinduan, sehingga pemikiran terbuka lebar.
Hakikat Tuhan merupakan persoalan amat pelik untuk diketahui, kebaikan-Nya
sangat nyata. Bahkan kebaikan itu terdapat dalam tarikan nafas yang dihirup
dan dihembuskan sehingga dapat memperpanjang hidup kita,”

Ia mengetahui banyak hal, di samping gemar membaca buku, juga lantaran ia
telah menjalani banyak kehidupan. Di mana dalam hidupnya ia menyaksikan
beragam peristiwa dengan mata kepalanya sendiri dan dengan sepenuh
perasaannya. Pergumulan hidup dan kehidupan yang telah dialami dengan segala
romantikanya itu lantas ia tuangkan dalam karya tulis. Generasi  masa kini
dapat mengenal  Sa’di melalui karyanya *Bustan * (*Scented Garden*) dan *
Gulistan* (*The Rose Garden*). Dua karya tulis terkenal dari Sa’di. Di luar
keduanya, antara lain: *Risalat* dan *Ghazaliyyat*

Dalam *Bustan*, ia berbicara tentang keadilan, kedermawanan, kerendahan
hati, cinta, kesabaran, pemerintahan yang baik, penyesalan, kesungguhan dan
kepuasan.

Sedangkan dalam karya *Gulistan*, ia mengupas soal moral, peribahasa,
aforisma dan intisari tantang kenegaraan, cinta dan masa muda, kemiskinan,
usia tua, pengorbanan dalam agama dan sebagainya. Tema- tema itu ia anyam
dengan episode penceritaan yang menghibur dan mendidik.

Kesemua tema dimaksud dalam *Bustan* dan *Gulistan* berasal dari pengalaman
dan pengamatannya sendiri maupun yang pernah ia dengar dan ia baca. Pendek
kata, Sa’di merupakan ‘ensiklopedis berjalan’.

Kini saatnya saya kutip beberapa aporisma dari Sa’di tentang cinta.
Dengannya saya berharap, mutiara kata *Jalan
Cinta*<http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2010/04/16/jalan-cinta/>ini
dapat menjadi spirit menapaki kehidupan bagi sidang pembaca:

   - Cinta adalah api dan nasehat adalah angin.
   - Cinta tidak membuka misterinya kepada mata yang penuh nafsu.
   - Semua perasaan menjadi dewasa oleh usia kecuali cintaku yang tampak
   bertambah karena isinya.
   - Sia-sia menasehati orang yang sedang jatuh cinta, nasehat yang
   dibutuhkan hanyalah seorang kekasih.
   - Cinta adalah abadi bilamana yang dicintai adalah hati yang suci, dan
   kekasih dari mata nan jernih.
   - Adalah wajar bahwa seorang kekasih yang patah hati seperti diriku, akan
   gelisah dan terbakar laksana seekor ngengat oleh nyala lilin kecantikanmu,
   sementara ia menerangi hati orang lain, dengan pesona bintangnya.
   - Tidak mudah untuk mencari kesalahan pada orang yang kita cintai, karena
   perasaanmu telah dikuasai oleh orang yang engkau cintai.
   - Jika engkau mengharapkan keamanan dirimu maka jangan mengikuti jalan
   cinta. Jika engkau takut gelombang, jauhui lautan. Jika engkau sedang
   mencari sekuntum bunga, jangan lupakan “kejengkelan hati” karena durinya.
   - Jika keinginan (nafsu) mengundang penderitaan, dan tidak berbeda dengan
   kedamaian jiwa, aku lebih suka menderita seribu kali denganmu, ketimbang
   menikmati kesenangan tanpa dirimu.
   - Jika cinta adalah lautan, maka hati akan dapat meminumnya hingga
   kering, dan masih tetap merasa haus.
   - Jika hatimu menolakku, kirimi aku memori tentang cinta untuk kusimpan
   bersama rahasiaku tentang dirimu.
   - Aku mengira bahwa aku bisa mengurangi rasa sakit akibat kerinduan akan
   cinta dengan kesabaran. Tetapi sejalan dengan waktu yang terus berlalu, aku
   menyadari bahwa diriku lebih menderita karena cinta, dan kurang memiliki
   sifat sabar.
   - Bila seorang pimpinan jatuh cinta pada sekretarisnya, maka sang
   sekretaris adalah pemimpin.
   - Di manapun kekuasaan cinta timbul, maka kekuasaan yang kuat dari
   kesucian akan menjadi lemah.
   - Seseorang boleh jadi telah menghapal al-Qur’an, akan tetapi tatkala
   pikirannya dikacaukan dengan cinta, ia akan melupakan hurup-huruf al-Qur’an
   tersebut.
   - Dulu ketika dirimu masyhur dengan kemolekanmu, engkau telah mengusirku,
   dan sekarang bahwa wajahmu telah digores oleh usiamu, engkau mengharapkan
   cintaku.

*****

Sumber Ilustrasi:
*http://en.wikipedia.org*<http://en.wikipedia.org/wiki/Gulistan_of_Sa%27di>

Referensi:

   1. Mehdi Nakosteen, *History of Islamic Origins of Western Education A.D.
   800-1350; with an Introduction to Medieval Muslim Education *(Colorado:
   University of Colorado Press, Boulder, 1964)
   2. *http://en.wikipedia.org*<http://en.wikipedia.org/wiki/Saadi_%28poet%29>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke