Pak Blasius,

Banyak yang tidak memahami bahwa Presiden itu tidak seperti dulu,
hanya sebagai simbol Kepala Negara, pemerintahan efektif di tangan
Kepala Pemerintahan, yaitu Ketua Partai Penguasa [koalisi partai].

Dengan demikian Presiden tidak bisa lagi memimpin dengan efektif
seperti dulu, banyak kepres yang mampet, seperti Kepres UKP3R.  Oleh
karena itu digunakan jalan bypass model KPK, diluar struktur
kementrian & parlemen.

salam,
GG

--- In [email protected], Blasius Slamet
Lasmunadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dear all,
> Saya juga ikut bertanya-tanya, apakah pemerintahan kita itu lemah
dalam management Sumber Daya Manusia, atau istilah kerennya, HRD?
Kalau jelas analisa jabatan, uraian tugas dan kompentensi yang
dituntut, sebenarnya bukan lagi soal S-1 atau tidak, soal wanita
atau laki-laki, melainkan apakah orang yang mau jadi presiden itu
memang sudah memiliki "kompetensi" yang dituntut dari jabatannya
atau belum? Kompetensi yang dimiliki pemimpin tidak selalu lulusan S-
1 tetapi bisa jadi hanya lulusan D3 atau SMA. Sebaliknya mereka yang
punya gelar Doktor ataupun S-2 dan S-1 tidak selalu memiliki
kompetensi yang dituntut jabatan itu. Nah, persoalannya apakah
sebenarnya ada "hidden agenda", sehingga kebijakan itu dibuat "silih
berganti", seperti dikatakan Edy, dulu perempuan tidak boleh,
sekarang minimal S-1. Persoalannya adalah atas dasar apakah "minimal
S-1" mesti menjadi salah satu syarat?
>
> salam
> bslametlasmunadipr

Kirim email ke