Salam,

Mas saya nggak ngeh dengan "bahkan, ujarnya, pembentukan kader Partai Persatuan 
Pembebasan Nasional
 (Papernas) dinilainya merupakan jelmaan dari komunisme putih tersebut. Di
 samping itu, wartawan juga telah disusupi oleh gerakan komunisme baru itu
 secara pasif. Pembentukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), menurut
 Tanjung, adalah bukti kuat menyebarnya gerakan komunisme putih itu."

Tolong apabila ada waktu jelaskan tentang hal diatas.

Matur Nuwun

Andreas Harsono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Medan Bisnis, 12 Maret 2007

 Ketidakadilan Lahan Subur Komunisme Baru

 Hendrik Hutabarat
 MedanBisnis ­ Medan

 Diskriminasi dan ketidakadilan pembangunan yang dilakukan Jakarta
 (pemerintah pusat) bisa menjadi sumber potensi lahan subur komunisme.
 Ketidakadilan pembangunan hanya akan menimbulkan kerusuhan sosial dan
 perlawanan dari masyarakat.

 Hal itu diungkapkan antropolog dari Universitas Negeri Medan (Unimed), Prof
 DR Usman Pelly dalam seminar Gerakan Nasional Patriot Indonesia (GNPI) Sumut
 di Kampus II Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara (UMSU) Jalan Muchtar
 Basri, Medan, Minggu (11/3).

 Dia mencontohkan, kerusuhan sosial di Sumbawa, Sambas Kalimantan Barat, atau
 kerusuhan etnis di Kota Medan beberapa waktu lalu yang bermuara dari sikap
 diskriminatif Jakarta tersebut. Tingkah laku Jakarta ini bagian dari sikap
 politik belah bambu (bufferages) atau teori *indic cosmology* yang sering
 diterapkan pemerintahan keraton-keraton di Jawa.

 "Dalam sistem pemerintahan keraton, pelemahan daerah dan penguatan pusat
 adalah sebuah keharusan untuk menjaga keutuhan sebuah negara," paparnya.

 Sementara itu, Ketua Umum GNPI, Alfian Tanjung, mengatakan komunisme lama
 telah bermetamorfosa menjadi komunisme putih. Dosen UHAMKA Jakarta ini
 menuturkan, komunisme putih telah merasuk ke dalam diri para buruh, petani,
 mahasiswa dan pelajar, birokrasi, agamawan, LSM, dan lainnya.

 Bahkan, ujarnya, pembentukan kader Partai Persatuan Pembebasan Nasional
 (Papernas) dinilainya merupakan jelmaan dari komunisme putih tersebut. Di
 samping itu, wartawan juga telah disusupi oleh gerakan komunisme baru itu
 secara pasif. Pembentukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), menurut
 Tanjung, adalah bukti kuat menyebarnya gerakan komunisme putih itu.

 "Saya pernah diwawancarai wartawan soal antikomunisme, tapi ternyata
 pernyataan saya enggak ada yang dimuat, sementara yang berasal dari kalangan
 komunis justru dimuat," ujarnya.

 Mantan Ketua AJI Medan 2003-2005, Darma Lubis, saat dikonfirmasi melalui
 telepon, hanya tertawa ringan mendengar tudingan tersebut. Darma menilai,
 perdebatan soal komunisme ini karena belum terungkapnya sejarah terkait
 komunisme secara utuh dan penuh. Harus ada pembuktian yang benar-benar
 menunjukkan ada yang disebut komunisme baru atau tidak ada yang disebut
 komunisme baru.

 Wartawan, ujar Darma, tidak enggan mengangkat sebuah tema yang telah
 berulangkali diangkat ke permukaan. "Media tidak terlalu bodoh untuk tidak
 mengangkat hal yang benar. Wartawan butuh bukti konkret atau yang terbaru,"
 ujarnya.




Kirim email ke