Oleh Agung Setyahadi
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/22/Sosok/3398828.htm
========================

Kalau saja Elly Liligoli (36) tidak pulang ke kampung halamannya di
tepian Danau Rana, mungkin anak-anak suku Rana masih belum bisa
menulis dan membaca, apalagi berbahasa Inggris seperti saat ini.
Kedatangan Elly menjadi obor penerang masa depan anak-anak Rana di
pedalaman Pulau Buru, Provinsi Maluku.

Elly tiba di tanah kelahirannya, Dusun Kaktuan, Desa Wamlana,
Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, pada suatu Sabtu malam tahun
2001. Kaktuan adalah setitik ingatan yang direkam saat kanak-kanak
sebelum Elly ikut orangtuanya pindah ke Desa Waemulang di Buru selatan.

Keesokan harinya, perasaan Elly perih saat menjumpai kenyataan ratusan
anak-anak Rana tidak bersekolah dan masih buta huruf. Terbayang dalam
benaknya masa depan suram menanti adik-adiknya itu. "Saya menangis
saat melihat sekian banyak anak-anak tidak sekolah. Bagaimana
masyarakat Rana bisa maju kalau tidak bisa membaca, menulis, dan
berhitung. Saya tidak rela adik-adik saya selamanya bodoh," kata Elly.

Sore harinya, Elly mengajak warga mendirikan sekolah. Ajakan itu
ternyata disambut dingin. Mereka trauma karena pernah beberapa kali
membangun sekolah, tetapi hingga bangunannya roboh tidak pernah ada
gurunya. Elly tidak patah semangat. Ia meyakinkan setiap warga bahwa
kali ini gurunya sudah ada, yaitu dirinya sendiri.

Setelah warga bersedia membangun sekolah, Elly ke Ambon untuk
berbelanja buku pelajaran, buku tulis, pena, pensil, dan kapur tulis.
Seluruh isi tabungannya sebanyak Rp 3,3 juta dihabiskan untuk belanja
sarana pendidikan yang dibagikan gratis kepada para siswa.

Sepulang dari Ambon, Elly memulai kegiatan persekolahan di rumah Awat
Tomhisa karena sekolah darurat masih dibangun. Elly mendidik 125 anak
Rana membaca, menulis, berhitung, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris,
serta pelajaran lainnya seperti di SD formal.

Pelajaran disampaikan dalam bahasa daerah Buru dicampur bahasa
Indonesia. Maklum, anak-anak Rana masih sulit memahami kosakata bahasa
Indonesia. Elly juga pelan-pelan memasukkan kosakata bahasa Inggris.

Mengajar di kebun

Pada tahun pertama dan kedua, proses pendidikan belum lancar. Para
siswa banyak yang tidak masuk sekolah saat musim panen kacang, jagung,
dan padi ladang. Mereka ikut orangtuanya ke kebun selama musim panen.
Akibatnya, pelajaran terputus selama beberapa minggu.

Namun, Elly tidak menyerah begitu saja. Ia pun ikut ke kebun yang ada
di seberang Danau Rana. Elly mengajar baca tulis dari satu rumah kebun
ke rumah kebun lainnya. Ia menggunakan dinding rumah sebagai papan
tulis dan arang untuk menulis.

Pendidikan di kebun itu sekaligus pendekatan kepada orangtua yang
belum mengizinkan anaknya sekolah. Ia memancing kebanggaan para
orangtua saat anaknya bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Pendekatan itu sangat efektif dan anak-anak mulai rutin sekolah
meskipun saat musim panen. Seperti pada kunjungan Kompas akhir bulan
Februari lalu, saat panen kacang, 118 siswa SD dan 14 siswa SMP tetap
bersekolah.

Tahun 2003, sekolah darurat selesai dibangun. Sekolah itu berdinding
anyaman bambu, beratap daun sagu, dan berlantai tanah. Meja tulis dan
kursi dibuat dari bambu yang kemudian diganti papan kayu. Tahun itu,
Elly mengajak temannya, Jidon Liligoli, yang tinggal di Waemulang
untuk ikut mengajar.

Tahun 2005, sekolah pindah ke bangunan SD baru bantuan Pemerintah
Kabupaten Buru. Dari SD itulah, untuk pertama kali dalam sejarah 17
anak suku Rana lulus Ebtanas pada 2006. Mereka mengikuti Ebtanas di SD
Ahilal, Desa Waspaid, Air Buaya.

Untuk mengikuti Ebtanas, para siswa harus berjalan seharian menuju
kamp Waenibe milik sebuah perusahaan HPH. Perjalanan itu melalui
hutan, menyeberangi sungai, dan naik turun bukit. Mereka menginap
semalam dan keesokan harinya menumpang truk kayu menuju Wamlana,
dilanjutkan naik angkutan umum ke Waspaid.

Tidak digaji

Keberhasilan meluluskan 17 siswa SD itu mendorong Elly meminta
pemerintah untuk membangun SMP di Kaktuan. Tetapi, hingga kini, SMP
itu belum dibangun. Ia pun nekat melaksanakan pendidikan SMP dengan
meminjam salah satu ruang SD mulai Juli 2006.

"Sekolah harus tetap dijalankan. Kasihan anak-anak yang telah lulus SD
kalau tidak bisa melanjutkan ke SMP. Saya tidak mau semangat mereka
padam dan usahanya selama ini putus di tengah jalan," ujar Elly yang
enerjik itu.

Elly telah memutuskan mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan
anak-anak Rana. Kecintaannya pada anak-anak Rana telah menyisihkan
godaan pada kemapanan yang bisa ia raih bila mengurus kebun cokelat
miliknya di Waemulang.

Selama menjadi guru, ia tidak pernah menerima gaji meskipun sejak
Januari 2006 mengantongi SK guru honorer. Di Kaktuan, Elly hidup
menumpang di rumah salah satu saudaranya. Kebutuhan hidupnya terpenuhi
dari uluran tangan orangtua siswa. Kadang ia diberi uang sekadarnya
untuk membeli sabun mandi.

Namun, ada yang selalu membuat dirinya risau, yaitu tidak adanya
buku-buku pelajaran dan fasilitas pendidikan di sekolahnya. Sejak
2001, tidak pernah ada bantuan buku-buku pelajaran dari pemerintah.
Karena itu, Elly selalu mengeluarkan uang pribadinya untuk membeli
buku-buku pelajaran, itu pun sebatas untuk pegangan mengajar.

Dalam keterbatasan itu, semoga api cinta di sanubari guru Elly tetap
menyala, menghangati, dan menerangi masa depan anak-anak suku Rana di
jantung Pulau Buru. 

Kirim email ke