Mas Kukuh, kalau soal pemasaran produk pertanian sy bukan pakarnya, kalo pemasaran daging msh lumayan :(
tapi nggak papa kita buka diskusi sy yakin banyak pakar yg lebih mumpuni, dan kalau saja mau sumbang saran , insya Allah pasti bisa dimanfaatkan oleh pelaku usaha maupun penentu kebijakan dalam memperbaiki pemasaran produk pertanian. Saya coba mulai pendapat sy, yg mungkin sekali salah : Salah satu kesulitan dalam produk pertanian kita,basisnya adalah petani/peternakdengan lahan kecil.. Sesudah itu, varietas yg dipelihara begitu beragam, krn memang pembibitan/pembenihan yg benar bisa dibilang belum belum ada Prasarana juga amat tidak memadai,misalnya jalan, cold chain , Informasi yang dimiliki petani juga amat langka... baik mengenai produk apa yg laku, teknologi yg baru yang tengah berkembang... Dari posisi diatas, maka penyelesaiannya juga jadi sulit... Suatu daerah bisa saja merasa kelebihan panen sehingga harga jatuh, tetapi.. jika kita mau bikin pengolahan produk itu disitu..maka ternyata jumlahnya tidak cukup untuk suatu pengolahan yang ekonomis sepanjang tahun.... kalau lebihnya cuma lebih dalam ukuran Brebes .dan hanya sesaat/semusim.. .sementara suatu pengolahan efisien perlu jumlah lebih besar dan kontinyu lagi...jadi nya kan sulit.. Belum lagi kalau kita mau lebih rinci.. meminta produk dengan grade tertentu , kematangan tertentu... wah lebih sulit lagi.... Kalau kita mau bawa dalam bentuk segar saja ke daerah lain, tetap timbul masalah..., prasarana angkutan nggak ada..., pasar yang cukup dekat tidak ada , apalagi yg memiliki fasilitas yang cukup baik, spy hsl pertanian bisa dijual disitu..., Mau ke pasar yang lebih jauh misal di kota besar selain angkutan sulit, daya tahan produk kita buruk sehingga kalau sampai .. bisa jadi sebagian besar sudah buruk... Pernah ada ide di pemerintah utk membuat "terminal agribisnis", dimana produk yang berada di sekitar wilayah itu di kumpulkan kesini... , lalu pembeli bisa datang kesini , atau bisa juga pedagang mengumpulkannya kesini utk di bawa kekota lebih besar, atau ke terminal agribisnis yg lebih besar di dekat perkotaan. Jadi dr sub terminal yg dekat daerah produsen ke terminal yg dekat kota besar Katanya, idea ini meniru terminal agribisnis yang ada di Thailand.. tapi terus terang sy belum pernah ke Thailand :) , walau sudah lihat fotonya.. Yang saya lihat memang harus ada sebuah pasar di dekat sentra pertanian itu dengan fasilitas yang cukup baik juga untuk penggudangan, grading, pengepakanan dan kemudian pengirimannya. Lalu sy yakin .. orang yg perlu akan datang ketempat itu untuk membeli ..., jika ada jalanan yg mudah utkdilalui.. Saya juga pernah usul, ke Departemen Pertanian, untuk misalnya bekerjasama dgn perum K A utk mengadakan gerbong berpendingin baik utk buah maupun daging/ikan.. Dengan berhenti di beberapa sentra pertanian, dia bisa membawa dengan relatip murah , produk pertanian ke kota.. Amat sulit rasanya memajukan pemasaran buah.. jika rambutan, mangga, duku..,duren dan sebagainya mutunya nggak standar... Bandingkan dengan duren montongnya Thailand,dengan duren yang banyak di jual di jalan... akan kentara sekali tidak adanya jaminan mutu. Dan itu bermula dari tidak standarnya bibit.. Untuk dapat transportasi yg efisien, kita harus punya cukup banyak buah/hsl pertanian yg punya derajat kematangan kira kira sama, kalau beda beda.. ya sulit... dan karena basisnya petani kecil kexcil.. hal itu susah di jamin... Buah bila di angkut... jika dipetik.. pasa saat tua ( mature) dan dikonsumsi pada saat matang ( ripe).. Lama dr mature kpd ripe bisa di rekayasa. baik dengan pengepakan yang baik., pelapisan sejenis wax, . penggunaan cold storage, controlled atmosphere storage.. tapi jd sulit kalau kematangan barang yg di bawa berbeda beda... karena perlakuannya juga beda.. Saya sendiri cenderung,bhw masalah utama adalah sarana transportasi dan pasar..., bikinlah pasar utk menjual hasil pertanian didekat daerah pertanian yang baik.. dan akses jalan yang bagus ... mau namanya terminal agribisnis atau pasar tradisional biasa terserah... , di pasar ini bisa dilakukan penyimpanan sementara ( ada gudang yg cukup baik ).. ada alat grading , ada alat pengepakan.... lalu akses jalan ke kota... Departemen Pertanian qq Dir Jen peternakan punya program mendirikan Rumah pemotongan hewan/ayam percontohan dan kios daging.. di beberapa daerah... itu lumayan... sayangnya toh tidak ada fasilitas gudang dinginnya... dantransportasi ke kota lin bila over supply..Disitulah sy usul soal gerbong kereta berpendingin....Mungkin harus ada swasta atau BUMN yg tertarik bekerjasama utk hal ini.... Menurut wsebuah survey baru baru ini, 80 % persen buah yg dijual di hypermarket adalah buah ekspor... Because what ??? Ya itulah mrk bekerja dalam skala besar.. mrk memanen sekaligus banyak.., saat semuanya mature serentak... dan bisa direkayasa sehingga.. katakanlah saat sampai di Indoensia masih ada waktu beberapa hari sampai dia ripe.. Dalam skala kecil kita bisa melakukan itu.. dna tentunya jarak yg di tempuh nggak harus ekspor.. tapi cukup ke kota terdekat... Ah sudahan dulu ah.. ini di buat seingatnya saja... sekedar buat memicu ... diskusi... kalau ada yg terpicu... walau sy pesimis ada yg terpicu.... :( Salam Haniwar -- Internal Virus Database is out-of-date. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.412 / Virus Database: 268.18.1/691 - Release Date: 2/17/2007
