Kita punya sejarawan tulen yang namanya sudah sering
tampil di koran. pak Asvi Warman Adam, calon anggota
komnas HAM, kedua si anak muda, namanya JJ. Rizal.
Ada juga orang Belanda yang cinta Indonesia, namanya
Saskia Wierenga...

Mariana
  

> Pak Harijanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>           DICARI: GURU SEJARAH CERDAS
> Tanggapan Seputar Kontroversi Pelarangan Buku Pelajaran Sejarah

> Beberapa waktu lalu Kejaksaan Agung mengeluarkan surat 'larangan'
> peredaran buku-buku sejarah yang berlandaskan pada Kurikulum
> Berbasis Kompetensi (KBK). Buku-buku tersebut dilarang beredar
> karena meniadakan tiga huruf PKI pada akhir singkatan G 30 S dan
> Peristiwa Madiun. Surat itu memancing kontroversi di masyarakat.
> Kalangan akademisi banyak menyayangkan keluarnya surat tersebut.
> Depdiknas mengklarifikasi bahwa peniadaan tiga huruf PKI sudah
> dikonsultasikan dengan para ahli sejarawan. Sementara guru-guru
> sejarah bingung. "Manakah yang harus diikuti?"

> Memang dua hari yang kelam dan belum tersingkap pada pergantian
> bulan September dan Oktober 1965 itu masih gelap. Ada beberapa versi
> di kalangan sejarawan mengenai peristiwa G 30 S. Pemerintah Orde
> Baru menyatakan yang melakukan G 30 S adalah Partai Komunis
> Indonesia (PKI). Anthonie C. Dake, seorang sejarawan Belanda,
> menyatakan 'dalang' G 30 S adalah Soekarno sendiri. Beberapa
> sejarawan menyatakan bahwa G 30 S adalah konflik internal Angkatan
> Darat (AD). Beberapa lagi menyatakan CIA terlibat dalam G 30 S dalam
> rangka melemahkan Soekarno. Dan, versi-versi lainnya. Manakah dari
> versi-versi tersebut yang harus diajarkan kepada siswa?

> Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebenarnya setiap
> guru diberi kebebasan untuk menentukan indikator dan sumber belajar,
> termasuk guru sejarah. Nah, sebaiknya guru-guru sejarah menggunakan
> kesempatan yang diberikan KTSP tersebut. Guru dapat menjelaskan
> beragam versi G 30 S dalam indikator pembelajaran yang mereka buat.
> Mereka juga bisa menggunakan beragam sumber belajar untuk menunjang
> kegiatan belajar mengajar (KBM) yang mereka ampu. Jangan hanya
> menggunakan buku pelajaran dari satu penerbit saja. Guru dapat
> menggunakan buku-buku lain yang bersifat primer, seperti Sejarah
> Nasional Indonesia jilid VI, Soekarno File, Pledoi Umar Dhani,
> Menyingkap Kabut Halim 1965, dan buku-buku lainnya. 

> Ada baiknya juga, guru mengajak siswanya mengidentifikasi mengapa
> para penguasa sangat antusias untuk menggunakan sejarah sebagai alat
> untuk melanggengkan kekuasaan. Guru juga bisa mengajak siswanya
> untuk menjawab, "Adakah hubungan antara sejarah dengan pewarisan
> ingatan dan nilai-nilai sebuah bangsa?" 

> Memang G 30 S amat rumit untuk diajarkan. Supaya siswa tidak bosan
> dan bingung, strategi pembelajaran juga dibuat menarik. Misalnya,
> guru mengajar siswa bermain peran jika ia menjadi Jenderal Soeharto
> pada saat itu, apa yang harus mereka lakukan. Atau, jika mereka
> menjadi D.N. Aidit, yang berhasil membuat PKI dari partai kader
> menuju partai massa, ketika menyaksikan 'peluang' untuk
> mengambil-alih kekuasaan dengan potensi yang dimiliki PKI. Pada
> pembuatan strategi pembelajarn ini, sebaiknya guru sejarah mengasah 
> kreativitas yang dimilikinya.

> Nah, jika guru sejarah mampu menjelaskan beragam versi G 30 S
> dengan sumber dan strategi pembelajaran yang menarik, maka siswa
> akan dapat menikmati pelajaran sejarah mereka. Pengalaman belajar
> yang nikmat, asyik dan menarik akan teringat dalam benak siswa untuk
> selamanya. Oleh karena itu, Andakah guru sejarah cerdas yang selama ini 
> dicari-cari?

> Haryo M.
> (Guru Sejarah dan Social Studies SMA SMART Ekselensia Indonesia)

> Mohon tanggapan, kritik dan saran dari teman-teman pembaca Kompas...

Kirim email ke