duh bagus benar tulisan ini. Menyentuh dan benar adanya. dks
----- Original Message ----- From: Agus Hamonangan To: [email protected] Sent: Saturday, March 17, 2007 2:51 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Jangan Jual Tanah Air! http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/17/Fokus/3393688.htm ====================== Tanah Airku Indonesia Negeri elok amat kucinta Tanah tumpah darahku yang mulia Yang kupuja sepanjang masa. Ada gundah kala mendengar alunan lagu Rayuan Pulau Kelapa itu. Satu per satu keelokan Indonesia tergerus. Tanah Airku yang subur makmur kini terancam bencana kekeringan. Yang lebih parah, selain tanah dan pasir, bangsa ini pernah berencana memasok air ke Singapura dengan harga tak lebih dari Rp 10,00 (sepuluh rupiah) per meter kubik. Satu pertanyaan muncul, masihkah anak bangsa ini mencintai negerinya? elama ini, ribuan ton pasir Indonesia masuk ke Singapura setiap hari. Menurut data statistik perdagangan, tahun 2005 ekspor pasir dan tanah Indonesia ke Singapura mencapai 9,5 juta dollar AS dan 14,41 juta dollar AS. Singapura tercatat sebagai pembeli pasir terbesar di Indonesia dengan nilai 6 juta dollar AS. Urutan kedua ditempati China dengan nilai 2,4 juta dollar AS. Namun, pada lima bulan pertama tahun 2006, China menjadi pembeli terbesar dengan nilai delapan juta dollar AS dan Singapura hanya 2,93 juta dollar AS (Straits Times, 25 Januari 2007). Bahkan, sebelum muncul larangan, kawasan Asia Tenggara pernah tercatat sebagai tempat penambangan pasir paling aktif di dunia. Dari 74 kapal pengeruk pasir di dunia, 54 di antaranya beroperasi di perairan Riau untuk reklamasi Singapura. Persoalannya, Singapura memberi harga sangat rendah untuk materi yang sangat berharga tersebut. Awalnya, tak lebih dari 3 dollar Singapura per kubik atau sekitar Rp 15.000. Tentu harga ini tak sebanding. Kenyataannya, harga pasir di dalam negeri jauh lebih mahal. Ketika bencana gempa bumi melanda Kota Yogyakarta, warga setempat terpaksa membeli pasir Gunung Merapi dengan harga lebih dari Rp 100.000 per meter kubik. Dengan kata lain, warga harus mengeluarkan dana sekitar Rp 700.000 untuk satu truk pasir atau Rp 500.000 untuk satu mobil bak terbuka yang bermuatan sekitar empat meter kubik pasir. Jelas kondisi ini tidak menguntungkan. "Pesan saya, sudahlah, hentikan urusan menjual tanah dan air kita ini jika hanya untuk cari duit," kata Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda. Sepuluh rupiah Pesan itu pun bisa dimengerti. Masalahnya, harga murah itu tidak hanya pada pasir. Setidaknya, Indonesia pernah berupaya memasok air bersih ke Singapura dengan harga Rp 10,00 atau sepuluh rupiah per meter kubik. Keinginan itu tertuang pada kerja sama Pengembangan Sumber Air di Provinsi Riau dan Pemasokan Air dari Indonesia ke Singapura. Perjanjian itu ditandatangani di Jakarta pada 28 Juni 1991 oleh Menko Ekuin dan Wasbang Radius Prawiro dan Wakil PM/Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Lee Hsien Loong yang kini menjabat sebagai PM Singapura. Melalui perjanjian itu, Indonesia menetapkan harga tak lebih besar dari satu sen dollar Singapura untuk satu meter kubik air Indonesia yang berarti tak lebih dari Rp 10,00. Dikatakan, harga itu boleh ditinjau kembali tiap 10 tahun, namun dengan catatan tidak boleh melebihi satu sen dollar Singapura. Disebutkan pula, perjanjian berlaku untuk masa 100 tahun, tanpa ada satu pasal pun yang mengatur tentang terminasi atau penghentian perjanjian. Namun, perjanjian baru berlaku setelah kedua negara meratifikasi. Indonesia meratifikasi pada 10 Juli 1991 melalui Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1991. Walau begitu, belum ada kepastian kelanjutan perjalanan kerja sama tersebut. Pihak Singapura mengaku, perjanjian itu tidak berlanjut. Hingga kini pun Singapura belum meratifikasi. Persoalannya, perjanjian itu tidak bisa dihentikan. Artinya, ia tetap terbuka dan tetap bisa berlaku setiap saat Singapura meratifikasinya. Dalam hal ini, Hasyim Djalal mengingatkan, tahun 1975, Emil Salim mengatakan tahun 2000-an Pulau Jawa akan kering karena seluruh air hujan lari ke laut, bukan meresap ke tanah. Satu pertanyaan pun muncul, bagaimana sebenarnya strategi Singapura sehingga Indonesia begitu berbaik hati? Diakui, tidak mudah menjawab pertanyaan itu. Namun, satu hal, strategi Singapura memang pantas diacungi jempol. Ia "pandai" membaca watak dan kultur yang berkembang di negara tetangga. Pada era Orde Baru, Singapura dengan teguh menjaga hubungan baik dengan Presiden Soeharto. Karena beres di tangan Soeharto, berarti mulus untuk semuanya. Pada era itu memang tak bisa dinisbikan hubungan panjang Soeharto dengan Lee Kuan Yew. Sebagai pendiri ASEAN, Soeharto memang memiliki kedekatan pribadi dengan Lee. Karena itu, banyak permintaan Lee yang tak kuasa ditolak oleh Soeharto. Bisa jadi, perjanjian kerja sama air diratifikasi karena ditandatangani Lee Hsien Loong, putra sulung Lee Kuan Yew. Selain itu, Singapura memanfaatkan dengan baik psikologi negara kecil dan negara besar. Artinya, kepada negara tetangga yang cukup besar seperti Indonesia dan Malaysia, Singapura dengan lantang menunjukkan sikapnya yang tidak bisa ditekan. Sebaliknya, kepada pihak lain, negeri itu mengesankan adanya tekanan dari tetangga-tetangga besarnya. "Itu psikologi Singapura sebagai negara kecil," kata Menlu Hassan Wirajuda. Bak kumbang menemukan madu, psikologi Singapura selaras dengan Indonesia maupun Malaysia yang berposisi sebagai negara tetangga besar. Diplomat kawakan yang juga pakar hukum laut internasional, Hasyim Djalal, menekankan, filosofi negara besar menuntut Indonesia mempunyai pertimbangan yang lebih banyak dibandingkan dengan negara kecil. Kesabaran luar biasa Kini Singapura memiliki kesabaran luar biasa. Ketika timbul masalah, umumnya Singapura memilih diam dan sabar menunggu hingga persoalan itu hilang bersama angin. "Saya catat, umumnya watak orang Indonesia itu pelupa. Karena itu, kalau kita bermasalah dan sudah geregetan begitu, justru Singapura tenang-tenang. Tidak meributkan. Biarkan orang Indonesia habis marahnya dulu. Nanti tunggu beberapa saat lagi atau orangnya diganti, dia tentu sudah lupa.," kata Hasyim Djalal. Menlu Hassan Wirajuda mempertegas dengan mengatakan, bangsa Indonesia mudah kehilangan institutional memory. Kondisi ini mengakibatkan pergantian pejabat juga bisa berarti berakhirnya persoalan hanya karena file-nya sudah tidak diketemukan. Dan kini, ketika nyiur tak lagi melambai di pantai, tidakkah bangsa ini perlu segera berbenah diri? (RIEN KUNTARI) __________ NOD32 2098 (20070306) Information __________ This message was checked by NOD32 antivirus system. http://www.eset.com [Non-text portions of this message have been removed]
