bu Reni,
jawabannya sederhana saja kenapa bunga bank di indonesia tidak bisa serendah
seperti bunga bank di malaysia.
coba saja kita lihat tidak ada sarana dan prasarana bank-bank kita yang tidak
wah, demikian juga dengan kesejahteraan para karyawannya yang rata-rata di atas
standar minimal penghasilan karyawan di bidang lainnya.
jadi untuk dapat bertahan seperti itu cara termudah adalah merampok nasabah
dengan memberikan bunga rendah untuk simpanan dan memberikan bunga tinggi untuk
kredit.
yang cilakanya lagi pihak regulator ok2 aja membiarkan semua itu terjadi dan
juga demi memperbesar pemasukan buat kantong negara (atau kantong pejabat
negara??)
mohon maaf untuk para bankir kalau pendapat ini sinis dan tidak berdasar.
salam,
csd
reni renata <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya bandingkan Malaysia dan Indonesia saat ini.
Siapa saja (rakyat) Malaysia yang mau berusaha dengan sunguh-sungguh dapat
dipastikan akan berhasil. Mereka sama dengan kita sebenarnya gak punya modal
untuk berwiraswasta, modalnya pinjam bank. tapi karena bunga bank sangat kecil
hanya 6 % pertahun, maka setiap usaha akan untung. Di Indonesia bunga bank
kalau saya hitung 35 % per tahun kalau tidak menggunakan sistim cicilan. Mana
ada usaha yang akan berhasil. Tidak rasional. Artinya semua keuntungan akan
digunakan untuk membayar bunga dan utang pokok. Kita hanya diperas disuruh
bekerja keras tapi untungnya yang menikmati bank. Akhirnya bangkrut. Yang
terjadi di Indonesia orang malas untuk berwiraswasta dan berduyun-duyun ingin
menjadi pegawai negri walaupun harus menyuap. Bukan rahasia lagi kalau mau
masuk jadi polisi harus menyediakan uang 25 juta kontan. Ini yang saya dengan
dari kiri dan kanan.
Yang membuat saya penasaran, mengapa bunga bank di Malaysia kok rendah tapi di
Indonesia kok tinggi banget. Apakah ada yang dapat menjawab?
Sekarang malaysia sudah bergerak maju di bidang peternakan kambing, Indonesia
sudah ketinggalan jauh. Sebenarnya di Indonesia tidak kurang profesor pandai di
bidang ini, lahan tersedia luas, pasar sangat terbuka luas, tenaga kerja
tersedia melimpah. Malaysia siap mengimpor kambing Boer berapaun yang ada. Saya
amati bermacam-macam kendala diantaranya modal dan koordinasi pemerintah dan
masyarakat peternak yang kurang solid apabila dibandingkan dengan di malaysia.
Sehingga potensi Indonesia terabaikan. Atau yang berbau pemberdayaan petani dan
peternak atau masyarakat kecil ini selalu dihindari oleh pemerintah? Padahal
malaysia sekarang ini sedang menggeliat bangun untuk membangun bidang pertanian
dan peternakan. Karena sadar akan pemberdayaan masyarakat kecil yang jumlahnya
lebih banyak dari pada masyarakat golongan menengah dan atas akan dapat
mempercepat kemajuan. Urbanisasi berkurang dan bangsa makin mandiri.
Itu hanya salah satu contoh saja.
Salam
Mahreni