Oleh Triyanto Triwikromo
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/25/seni/3384020.htm
====================== 

Jangan pernah percaya pada apa pun yang kau lihat di bawah matahari 
Melbourne. Mungkin kau pernah menganggap makhluk bersayap merah-biru 
yang bertengger di genteng rumah berarsitektur Yunani itu hanya 
sepasang burung Rosella yang menggigil kedinginan. Namun, bukan tidak 
mungkin mereka adalah para Kookabbura yang menjerit memekakkan 
telinga karena memandang wajahmu yang tegang dan tersipu-sipu tak 
keruan. Jangan pula mudah menebak bau kelelawar yang bergelantungan 
di pepohonan Cenntenial Avenue sebagai sesuatu yang mengingatkanmu 
pada mayat-mayat perempuan kuning gading Jakarta yang dibakar para 
lelaki zombi pada Mei 1998 yang perih. Sebab bisa saja dalam sekejap 
bekas kibasan sayap vampir jalanan itu memberimu harum bawang sehabis 
kau iris pelan-pelan atau menyengatmu dengan busuk petai sebelum 
makan malam. 

Kau juga tak perlu tersedu-sedan seharian hanya karena bersitatap 
dengan warna pagi yang seharusnya disapu matahari oranye, tetapi tiba-
tiba didera hujan yang muncul dari mata langit yang menghitam. Hari 
ini winter atau summer? Autumn atau spring? Mana yang harus 
dipercaya? Tak ada yang harus dipercaya. Segalanya begitu cepat 
bertukar rupa dan tak ada yang peduli. Kau juga tidak peduli pada 
perubahan wajah Arendt yang pagi itu dihajar pertanyaan-pertanyaan 
bodoh Onan, Finley, atau Sandra saat mereka makan roti bakar di 
beranda, bukan? 

Wajah Arendt, kau tahu, pada mulanya seperti Stasiun Flinders ditimpa 
cahaya senja yang melesat dari Federation Square. Begitu menyala, 
begitu menebarkan bianglala. Namun, paras manis itu begitu cepat 
menjelma sebagai Sungai Yarra menjelang malam. Keruh. Penuh amarah 
dan kehilangan pesona. 

"Kalau tidak berniat membunuh Christ Soros, mengapa waktu itu kau 
tidak bergabung dengan kami di Open Bar," serang Onan sambil 
menenggak jus jeruk. 

O, andai tahu segala peristiwa yang terjadi malam itu, Onan tidak 
akan berkata begitu. Di poros perempatan jalan yang menghubungkan 
Stasiun Flinders dan Federation Square, sehabis menonton pertunjukan 
Delerium Boulevard bersama Arendt, entah tergerak tenaga gaib dari 
mantra orang Aborigin atau ingin berakting secara liar, Soros tiba-
tiba menelentangkan tubuh mirip orang tersalib di tengah jalan. Mula-
mula ia memejamkan mata seperti Siddharta Gautama yang tengah bertapa 
dan berharap nirwana akan mengecil dan menyusup ke dalam dada. 
Sejenak kemudian ia bentangkan tangannya sebagaimana patung malaikat-
malaikat kecil di gereja-gereja antik mengibaskan sayap. Berulang-
ulang seakan-akan dengan gerakan semacam itu Melbourne bisa ditinggal 
terbang dan ia menjelma burung kecil ke titik langit yang tak 
tersentuh oleh jari telunjuk yang mengacung tegang. 

Arendt takjub. Ia tak menduga Soros akan bertingkah ugalan-ugalan di 
perempatan jalan yang kian ramai oleh mobil-mobil yang hendak melata 
ke jembatan penuh lampu hias yang melintasi Sungai Yarra. 

Oo, semua ini harus dicegah. Semua gerak harus dihentikan. Mobil-
mobil, sepeda motor, atau trem tak boleh menggilas tubuh ringkih 
Soros. Karena itu waktu harus dibekukan. Semua benda yang melesat ke 
arah Soros sebaiknya melambat dan mandek sedepa sebelum kecelakaan 
terjadi. Bahkan ujung kilatan cahaya-cahaya dari neonsign tak perlu 
menyentuh kornea dan secara serempak mengerem satu sentimeter dari 
alis atau selaput mata. Atau sebaiknya waktu berjalan mundur ke saat-
saat Arendt dan Soros bercinta habis-habisan dalam guyuran hujan di 
kebun binatang, di antara koala dan kangguru, di antara ulat-ulat dan 
belalang sembah. 

Tidak! Tidak! Sebaiknya waktu melesat melampaui segala yang tak 
terduga saja. Siapa tahu karena terlalu cepat melaju ke titik tuju 
penuh salju, Arendt dan Soros dipertemukan di Bukit Golgota, di 
sepasang tiang yang mengapit salib lelaki suci dari Nazareth. 

Dalam dingin tak terperi itu, siapa tahu mereka bisa menatap motif 
tusukan-tusukan lembing serdadu serupa tato daun-daun hijau ungu di 
sekujur tubuh Kristus yang tertunduk pasrah menerima kehendak Allah, 
di salib yang tak kelihatan, di tangan yang telah kehilangan paku-
pakunya, di kaki yang tak lagi menetes-neteskan darah kental. 

Tetapi karena tak mungkin menyulap segala peristiwa membeku dalam 
sebuah bingkai seperti lukisan impresionistik di sebuah kartu pos, 
Arendt kemudian berusaha setengah mati menghalau segala benda 
bergerak—mobil, sepeda motor, trem, orang-orang, dan angin santer 
yang hendak melabrak mereka. 

Lalu dengan sigap perempuan bergaun motif bunga matahari itu 
mengangkangi tubuh Soros sambil menggerak-gerakkan tangan dan 
berusaha menghadang laju kendaraan atau apa pun yang hendak 
menghimpit mereka. 

"Apakah kau pernah melihat wajah Kristus yang damai justru pada saat 
para serdadu bosan menghajar dan menancapkan lembing beracun ke 
lambung lembut manusia indah dari Nazareth itu, Arendt?" seru Soros, 
masih dalam posisi telentang. 

Tak mungkin Arendt menjawab pertanyaan bodoh semacam itu. Mobil-mobil 
kian mendekat. Orang-orang makin merapat. Angin kian santer menusuk-
nusuk tubuh hingga ke sungsum segala tulang. Karena itu akting konyol 
ini harus diakhiri. Sihir Paul Capsis mesti dihentikan. Ya, bukan tak 
mungkin aktor kampiun itu telah menginspirasi Soros menampilkan 
pertunjukan jalanan yang sangat membahayakan dan mendebarkan. 

"Lihatlah aku! Lihatlah aku! Segala yang yang dirasakan Kristus 
menjelang ajal telah aku rasakan. Lihatlah wajahku yang damai, 
Arendt. Kini selesailah semua... dan aku tak perlu bilang, 'Eli Eli 
Lama Sabakhtani' lagi.'' 

Arendt bergeming. Meskipun demikian, ia tetap tak sanggup 
menghentikan segala peristiwa yang berpacu begitu cerpat, tak 
terduga, dan seakan-akan berebutan menyusup ke lorong mata. 
Sebaliknya Soros justru merasa lembing serdadu bengis kian menancap 
di lambung dan lama-lama tumbuh sepasang sayap halus di bahu. 

"Ayolah ikut terbang bersamaku, Arendt. Kita tinggalkan Melbourne 
yang keruh. Kita tinggalkan kota bising yang segala gedungnya 
meruncing melukai langit ini," Soros terus meracau dan kali ini 
muncul semacam gangguan pada susunan sarafnya yang membuat tubuhnya 
mengejang. 

Setelah itu Arendt hanya bisa memanggil ambulans dan menyerahkan 
segala urusan kepada dokter dan paramedis. Sudah barang tentu ia tak 
ingin menyerahkan lelaki urakan itu kepada ajal. Jika sampai mati, 
ajallah yang dengan ganas menancapkan lembing ke lambung lembut atau 
mengiris urat-urat saraf Soros dengan pisau yang tak kelihatan. 

Apakah kau bisa mendengar segala yang kukatakan? 

Dan benar, Onan bukanlah perempuan yang gampang percaya pada bisikan 
gaib seseorang yang telah terbunuh atau roh Kookabbura yang ditembak 
secara serampangan. Hanya Arendt dan Soroslah yang mengerti betapa 
burung, kelelawar, ular, belalang, bahkan tikus-tikus pengerat itu 
bisa membisikkan kabar dari sesuatu yang tak pernah kau lihat di 
balik lembut kabut, di dalam basah tanah, atau di luar gurit langit. 

Karena itu, Onan, Sandra, dan Finley tak pernah bisa memahami mengapa 
di rumah sewaan mereka yang sempit Arendt memelihara begitu banyak 
belalang sembah. Mereka juga tidak pernah mengerti menjelang tengah 
malam belalang-belalang itu terbang ke kamar Arendt. Lalu bergabung 
dengan belalang-belalang lain yang muncul dari cermin, binatang-
binatang cokelat menjijikkan itu membungkus sekujur tubuh Arendt, 
sehingga mata, hidung, telinga, dan mulut saja yang tersisa. Ya, dari 
belalang-belalang itulah Arendt mengerti segala tingkah laku mereka. 

Jadi, aku tidak heran jika pada saat mereka bersitegang mengenai 
kematian Soros di beranda, Onan terus menyerang Arendt dengan tuduhan-
tuduhan konyol. Aku sangat tidak kaget jika hanya karena Arendt 
bersahabat dengan Pauline Hanson, politikus rasialis itu, mereka 
menganggap Arendt akan menyingkirkan siapa pun yang rasnya ternoda 
oleh kotoran-kotoran peradaban dari luar bangsa ini. 

"Ada yang bilang Soros mati karena dibakar oleh orang-orang suruhanmu 
di ujung Sungai Yarra. Ada yang bilang kau menganggap dia akan 
menghalang-halangi keinginanmu. Mengapa tak kau bunuh aku, Finley, 
dan Sandra sekalian, Arendt?" 

Mulut Arendt terus terkunci. Meskipun demikian, sebagai teman dekat 
mereka, Arendt sangat tahu betapa Onan lahir dari pasangan Yunani-
Australia dan Finley dari Jepang-Aborigin. Hanya Sandralah yang lahir 
dari pasangan Australia-Australia. 

"Orang-orang menemukan tubuh gosong Soros dalam posisi tersalib di 
tiang yang juga telah terbakar. Ditemukan juga semacam kimia yang 
menyebabkan tubuh Soros tetap utuh. Mengapa bertindak sekejam itu, 
Arendt?" Onan mendelik. 

Arendt memejamkan mata. Ia berharap Onan, Finley, Sandra, atau siapa 
pun percaya betapa ia sangat mencintai Soros. Kini ia tak lagi 
bernapsu menyantap roti bakar dan jus jeruk. Menatap hitam 
kecokelatan arang di roti bakar dan lendir kuning di jus jeruk, ia 
seperti melihat api menyala-nyala tak keruan dan segala cairan 
menguar dari semua lubang di tubuh Soros. 

"Kita memang sudah disumpah untuk membunuh siapa pun yang menghalangi 
gerakan suci ini, Arendt. Tetapi tidak dengan cara terang-terangan 
seperti itu," bisik Sandra. 

Tentu saja Arend tidak tahu maksud Sandra. Si Schizofrenia ini selalu 
saja menganggap dirinya sebagai agen rahasia Hanson itu. 

"Apakah kau juga akan membunuh Eliezer Chang," Finley mulai 
membuncahkan amarah. 

Arendt menggeleng, tapi sejurus kemudian mendelik. Ia tatap mata 
Finley dan Onan dengan tajam. Ia sama sekali tak menduga mengapa 
sahabat-sahabat terkasih sejak kuliah Jurusan Arsitektur itu begitu 
tega menuduh dia sebagai pembunuh. 

Khawatir Arendt akan membuka rahasia segala kisah yang bersangkut 
paut dengan pemurnian ras, Sandra segera merebut kendali. "Oke, Onan, 
segala omong kosong ini harus segera diakhiri. Tak ada waktu lagi 
untuk bercakap dengan Ratu Belalang. Biarkan ia mengurusi binatang-
binatang penunggu rumah ini. Ayo, waktu kita telah habis. Trem sudah 
menunggu." 

Dan aku atau roh Kookabbura, yang setiap cicitnya tidak pernah bisa 
diterjemahkan dalam bahasa manusia, memang tak sedikit pun ingin 
membuka segala rahasia alam dan kematian kepada Onan. Aku bisa saja 
memberi tahu kepada Onan segala yang terjadi pada Soros. Aku bisa 
saja mengatakan, setelah melewati Jalan Spencer, mobil ambulans yang 
hendak mengantarkan Soros ke rumah sakit dicegat oleh lima orang 
berkerudung bersepeda motor besar. Tak ada perlawanan. Para medis, 
sopir, dan dokter yang tidak bersenjata itu memilih menyerahkan Soros 
bersama ambulans itu ketimbang dihajar atau ditusuk belati oleh 
gerombolan berwajah bengis itu. Setelah itu, ada semacam sihir yang 
ditebar di jalanan yang membuat aku tak bisa mengikuti ke mana para 
manusia berkerudung itu melesat. 

Ya, semua itu, bisa kuceritakan kepada Onan tanpa mengurangi satu 
atau dua kalimat. Tetapi, kau tahu, aku sebenarnya hanya mau 
bercerita kepada Arendt. Sayang beberapa orang mengenakan jubah 
berkerudung runcing mirip seragam anggota Ku Klux Klan itu telah jauh-
jauh hari menculik dan menembak jidatku saat hendak menyeberang Jalan 
William menjelang tengah malam. 

"Yang ini juga ancaman bagi kita,'' kata salah seorang penculik. 
Lalu, mereka menebar sihir di jalanan, sehingga aku, Eliezer Chang, 
tidak dapat mengetahui di mana Soros disembunyikan. 

Karena itu, jika pada suatu saat kau mendapat kabar tentang siapa 
yang membunuhku atau menculik Soros, jangan mudah percaya. Sekali 
lagi, tak ada yang harus dipercaya. Di dunia ini, kau tahu, segalanya 
begitu cepat bertukar rupa dan tak ada yang peduli. Jika sekarang 
Finley mati atau Sandra bunuh diri, kau juga tak akan peduli. Jika 
Onan membunuh Arendt dan membakar seluruh belalang yang disimpan di 
kotak kaca, kau juga tak akan bertindak apa-apa. Jadi percuma saja 
kau atau siapa pun berlagak menyelamatkan kemanusiaan atau peradaban 
di kota ini. Karena itu, hentikan saja waktu saat aku bercinta dengan 
Finley. Hentikan saja waktu saat Arendt memeluk Soros dari belakang 
dan membisikkan desis cinta berulang-ulang. 

"Tidak! Tidak! Biarkan Soros dan Chang mati. Biarkan roh mereka 
terbang ke negeri tanpa matahari!" 

Suara Sandra atau Arendt? Kau tetap saja tak peduli. Kau tetap saja 
membiarkan kota ini menggigil dililit oleh lidah hantu dan kabut teka-
teki. 

Melbourne 2005- Semarang 2006 



Kirim email ke