Salah satu penjelasan yang bisa diberikan untuk fenomena ini adalah karena para
perempuan ini hdup dalam masyarakat yang represif, khususnya terhadap
perempuan. Di negara-negara maju, baik di Asia maupun Barat, tak ada tuh gejala
kesurupa ramai-ramai. Karena apa? Karena kesetaraan gender sudah jauh lebih
maju daripada di Indonesia ini. Lewat "kesurupan," maka frustrasi akibat
represi sosial dapat sejenak disalurkan. Mungkin ini sama dengan gejala
"latah", yang juga banyak menimpa perempuan. Saat latah, biasanya keluar
kata-kata tak senonoh yang dalam keadaan "normal" tidak akan diucapkan.
Lucunya, gejala "latah" ini juga hanya terjadi pada perempuan Indonesia/Melayu.
Dalam budaya lain tak ada.
manneke
Mariana Amiruddin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Seperti biasa, saya akan menjawabnya berdasarkan pengalaman.
Waktu saya SMU pernah terjadi keserupan sambung menyambung,
mulai dari satu teman saya perempuan, tiba-tiba jatuh terlentang
dan kejang-kejang, lalu disambut dengan siswi lainnya, sampai
ada beberapa.
Saya sangat kenal mereka. Ini belum kesimpulan saya, tetapi
mungkin, ini ada hubungannya. Mereka punya persoalan di rumah.
Teman-teman saya itu sebelum berangkat sekolah membantu ibunya
mencuci, menyapu, memasak, menunaikan tugas-tugas rumah tangga
terlebih dahulu. Setelah dibawa ke PMR, diantara mereka ternyata
banyak yang kekurangan darah. Pulang sekolah, abis makan siang,
membantu ibunya lagi, dan kadang-kadang ikut berdagang di warung.
Untuk adik atau kakak laki-lakinya, tugas-tugas ini tidak berlaku,
mereka punya waktu untuk bermain bola, nongkrong dengan teman-teman
lain.
Waktu upacara setiap hari senin juga begitu, kebanyakan yang pingsan
perempuan, dan kebanyakan teman-teman saya yang memang bekerja keras
sambil sekolah.
Mungkin begitu ya. Pak Manneke mungkin bisa bantu?
Mariana