sharing tambahan saja, CSR (yang dulu lebih dikenal sebagai CD) makin populer saja terutama di perusahaan besar. Peran CD masih terbatas pada image perusahaan melalui program-program yang dilakukan secara rutin ke masyarakat---program nya sendiri masih sangat artificial misalnya pemberian bantuan peningkatan pendidikan..maka bangun gedung sekolah dengan nama perusahaan tersebut tanpa berpikir secara komprehensif..sehingga ketika gedung sekolah sudah berdiri siapa yang mau ngajar bingung sendiri..lalu ketika perusahaan lain yang mengcover daerah tersebut maka dengan mudahnya menganti "cap" nama perusahaan yang lama menjadi perusahaan yang baru---tapi yang jelas image perusahaan tidak jelek karena sudah berbuat sesuatu ke masyarakat dan kelihatan..tapi masyarakatnya sendiri mengalami peningkatan kualitas hidup atau tidak---siapa peduli??? lingkungan sekitar rusak--siapa peduli?? kalau masih sekedar "gincu" begitu yang dipermasalahkan oleh Friedman ya masuk akal...wong hanya buang-buang duit saja.
Sekarang dengan konsep CSR bergeser ke komunikasi perusahaan tidak sekedar image saja, meski katanya tetap sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan ke masyarakat dan lingkungan setempat. Melalui CSR yang strategis, terstruktur, terencana, dan berkesinambungan,dll.. perusahaan akan lebih mampu menjaga hubungan baik dengan stakeholder yang nantinya diharapkan akan meningkatakan kinerja perusahaan. Dan yang masih perlu ditingkatkan untuk memaksimalisasi fungsi CSR adalah customer, iklim investasi, masyarakat sipil dan lingkungan kerja--dan yang jelas adalah mesti bottom-up model (dan dengan psychological approach) seperti yang dilakukan oleh seorang teman dengan pengelolaan sampah rumah tangga-nya. Tapi dengan mempertimbangkan balance dan efek yang akan terjadi (seperti halnya work of life balance bagi karyawan yang akan meningkatkan performance yang akhirnya keuntungan perusahaan meningkat) maka teori Friedman tidak berlaku. salam, Istiani
