Dear Rekan, juga moderatores, Bahwa Inodnesia disebut-sebut sebagai negara agraris, memang tidak sepenuhnya keliru, dan untuk itu hadir misalnya IPB dan perannya. Namun, pada kenyataannya, sebenarnya kita negara maritim yang masih memandang "totalitas Indonesia" dari DARAT, bukan LAUT (weltanschaung). Sudut pandang inilah yang membawa arah kita salah kaprah, setidaknya keliru dalam prioritas membangun.
IPB kenyataanya memiliki sejumlah dosen Perikanan muda dan handal di bidangnya. Namun, kehadirannya tampak sebatas komplementer dari adanya pengajaran tentang "ikan lele, mas, mujair" dst. Singkatnya "ikan hiu dan blue-shark" dst digabung sebagai bagian lain habitat ikan darat, dalam treatment hawa dan selera "pertanian darat", dan kita memang sebenarnya negara maritim. Mang Usil, Kalau alumnus Soesilo Bambang Yudhoyono, doktorat di bidang apa yah? wassalam, bbr --- luka_igna <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dimana IPB merupakan perguruan tinggi yang telah > lama berkecimpung > dalam bidang pertanian lama sekali. Ini diharapkan > dapat memberikan > kontribusi yang besar bagi perkembangan dan kemajuan > pertanian > diindonesia menggingat mimpi besar bangsa indonesia > pada 2030. > Banyak sekali yang mesti dilakukan demi terwujudnya > cita-cita > tersebut, dimana pertanian bangsa indonesia kalah > bersaing dengan > negara lain. Serta pemerintahan harus dapat > membangun ekonomi > kemasayarakatan yang berpihak pada petani dan > nelayan. Jangan sampai > seperti masa orde baru dimana pemerintah > menganjurkan penanaman > cengkeh. Tetapi ketika sudah menanam dan berhasil > harga yang ada > dipasaran murah. Sama seperti sekarang ini > pemerintah menganjurkan > penanaman jarak untuk bahan biodiesel nanti setelah > banyak murah > sama saja.
