Rekan Patrick dan Eko, saya serius kok ketika mengatakan bahwa di Indonesia korupsi bukan kejahatan (biasa).
Maka daripada itu, walaupun mungkin kita cuma se-level Ketua eReT, biasakanlah melakukan korups ... eh salah, melakukan perbuatan 'biasa2 saja' semacam memohon sumbangan, minta biaya admins, diskon dana raskin, dsb. Kalau ndak ikut2-an kerja 'seperti biasa' demikian, mana cukup gaji kita (buat ngepulin asap ... mobil)? Maksud saya, sebelum jabatan kita sampai ke level pejabat tinggi atau anggota DPR, kita korup ... eh, berusaha secara 'wajar2' dulu lah dg usaha 'kecil2-an', katakan dengan target minimal sama dengan estimasi target matematis tukang palak: 100 kepala/hari dikali 10 ribu/kepala = 100 ribu/hari :-( Salam :-) --- In [email protected], "Eko Soesamto Tjiptadi" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Hua ha ha ha .... Akhirnya aku bener-bener bisa tertawa > terpingkal-pingkal. > > Aduh tohobat, kocak banget. Bener bung. Didunia maling ya yang maling > menjadi bener dan yang tidak maling ya guoblok.
