Dear mbak Agustine,
   
  yang saya masih tidak paham adalah dengan kondisi terbatas tersebut, para LBT 
kenapa malah mengelompok dengan membuat komunitas tersendiri yang malah mungkin 
bersifat eksklusif (lihat paragraf anda terbawah, sebagai 
outcome..............dst).
  bukankah akan lebih mudah suatu bentuk minoritas dapat lebih diterima secara 
dibawah sadar oleh suatu bentuk mayoritas apabila dilakukan secara elegant 
dengan membaur perlahan-lahan dan disertai gerakan-gerakan positif yang 
menunjukkan bahwa ini lo saya, saya bukan barang/sesuatu/mahluk aneh yang harus 
ditakuti atau dibenci atau menjijikkan (maaf).
  ada postingan dari rekan milis yang menyatakan dilingkungannya LBT tidak 
masalah karena pada kenyataannya LBT ydm dapat menunjukkan bahwa jati dirinya 
adalah sama dengan mahluk-mahluk ditempat dia selalu berinteraksi.
  jadi menurut saya gerakan-gerakan minoritas yang memperlihatkan sifat 
eksklusif (maaf kalau saya salah koalisi perempuan itu menurut saya termasuk 
politik dan eksklusif) dan secara frontal menghadapi kondisi mayoritas adalah 
strategi yang kurang terukur.
  saya ambil contoh sederhana ya mbak, nila setitik dapat merubah warna susu 
sebelanga......saya katakan merubah warna, jadi bukan merusak susu.........maaf 
kalau saya salah berpendapat.
   
  salam,
  csd
   
  

agustine agustine <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Dear mas Chairil,

Justru saya masuk ke dalam gerakan perempuan dan HAM, karena kesadaran untuk 
memperjuangkan perubahan paradigma dan pengakuan dari masyarakat tentang 
pilihan orientasi seksual setiap orang sebagai HAM. Saya masuk ke dalam gerakan 
perempuan dan HAM karena pengalaman pribadi bagaimana beratnya hidup 
didiskriminasikan, dimarginalkan, di beri label serta stigma, mengalami beragam 
bentuk kekerasan, karena pilihan seksual saya yang berbeda. Dan itu terjadi 
bukan hanya saya alami di sekolah, tempat bekerja, masyarakat sekitar, tetapi 
juga di dalam rumah (keluarga) yang seharusnya menjadi tempat yang aman buat 
saya. Lalu ketika saya bertemu dengan teman-teman lesbian lainnya, ternyata 
mereka juga mengalami hal yang sama. Realitas itulah yang membuat saya bangkit, 
lalu bergabung dengan Koalisi Perempuan Indonesia, sebuah organisasi massa 
perempuan dan gerakan yang di dalam salah satu mandat kerjanya adalah 
mengakomodir dan memperjuangkan kelompok kepentingan lesbian, biseksual dan
transgender perempuan (LBT). Tentu saja Koalisi Perempuan Indonesia bagi saya 
menjadi organisasi penting yang politis, karena menjadikan isu LBT sebagai 
bagian dari gerakan perempuan di Indonesia. Sekarang ini, keanggotaan kelompok 
kepentingan LBT perempuan di Indonesia berjumlah 500 orang.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Koalisi Perempuan Indonesia dalam 
meperjuangkan kelompok kepentingan LBT perempuan adalah dimulai dari capacity 
building kepada kelompok LBT lewat training pendidikan politik berperspektif 
gender, training advokasi dan HAM, outreach (pertemuan bulanan), dll. Dari 
kegiatan ini, teman-teman LBT dibangun kesadarannya atas hak-haknya.

Koalisi perempuan Indonesia juga melakukan upaya-upaya advokasi untuk isu LBT, 
dimulai dengan membuat media kampanye sebagai alat sosialisasi (leaflet dan 
poster ttg LBT), sosialisasi dan menjalin networking dengan Komnas HAM, Komnas 
Perempuan dalam pemajuan HAM kelompok LGBTIQ. Secara International, Koalisi 
Perempuan Indonesia juga menjadi anggota ILGA (Internatioanal Lesbian and Gay 
Association).

Sebagai outcome dari seluruh rangkaian kegiatan ini: Semakin banyak lesbian 
yang berani come out, membangun organisasi lesbian dan bergabung dalam gerakan 
sosial, perempuan dan HAM.

Jadi, tentu saja.... pengakuan saya sebagai lesbian, bukan pengakuan semu:)

Salam hangat,
Agustine

Kirim email ke