Saya juga punya pengalaman dengan Indo Maret dikomplek saya yang setiap memberi uang kemabli selalu dengan permen. Karena saya tahu bahwa kasir tidak bersalah maka saya katakan "kasih tau bos anda bahwa dia harus sediakan uang receh dan jangan bilang "susah uang receh" karena kalau mau cari sih bisa. Ini soal uang ngak seberapa taoi bukan itu yang saya persoalkan". Sebagai protes maka permen itu tidak saya ambil.
Kelihatannya sikpa protes saya dan mungkin juga bbrp orang lain ada gunanya karena saat ini Indo Maret yang saya maksud itu sudah tidak memberikan permen lagi. Hanya ada satu dua Indo Maret atau Apotik lainnya yang masih memberikan permen. Mari kita PROTES cara cara tsb dengan jalan titip pesan pada si kasir agar meneruskan omelan kita pada bosnya. Hardjo ----- Original Message ----- From: steven lenakoly To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [email protected] Sent: Thursday, April 05, 2007 11:38 AM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] paragrap selingan Filosofi Permen Ketika saya mendatangi salah satu supermaket kampung. Supermaket kampung adalah istilah untuk supermaket yang ada di kampung. Suasana dan kelengkapan mirip dengan supermaket besar dan terkenal, berikut dengan ACnya. Barang yang ada di rak bak supermaket yahud. Setelah memilih barang dan mengangkutnya dalam keranjang warna merah, aku datangi kasir untuk membayar. "Semua 11.050 mas," kata seorang kasir yang mengenakan seragam warna biru dengan logo dan tulisan supermaket tersebut ramah. Aku menyodorkan uang 5.000 tiga lembar. Tak lama berselang kasir itu memberikan kembalian tiga lembar uang seribuan, satu buah logam lima ratusan, empat butir seratusan dan sebungkus permen kopi berwarna gelap. Seharusnya uang kembalian itu bukan permen tapi uang lima puluh rupiah. Entah kenapa kok uang receh digantikan oleh permen kopi. Aneh? tidak terlalu aneh sih. Hanya saja yang aneh adalah permen tidak ada dalam tataran alat tukar. Entah sejak kapan permen berubah menjadi alat tukar, gak jelas sejarahnya. Kelihatan permen begitu ringkas dan gampang dibeli dan didapatkan ketimbang dengan uang receh lima puluhan. Kemungkinan kasir atau pemilik supermaket kampung itu enggan ngantri di bank hanya untuk menukarkan uang receh jadi seenaknya sendiri menggantikan uang receh dengan permen sebagai kembalian. Uang ya uang, permen ya permen. Jika permen bisa berperan sebagai uang maka aku bisa mengumpulkan sepuluh permen untuk mendapatkan satu batang rokok atau aku mengumpulkan seratus permen untuk ongkos naik angkot pergi-pulang. Bayangkan apa yang terjadi bila naik angkot kemudian dibayar dengan permen. Pasti mukanya bakal merah dan langsung mencaci maki ngalor ngidul. "Kalau gak punya uang jangan naik angkot." beginilah kira-kira kata-kata yang akan keluar dari bibirnya. Kemudian aku pasti akan bergumam "jangan salahkan aku, salahkanlah kasir yang memberiku permen sebagai pengganti uang kembalian." hehehe. == Steven Lenakoly Stevenlenakoly.wordpress.com 08175010651 --------------------------------- It's here! Your new message! Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
