Saudara Guntoro,

Anda memulai dengan tesis yang keliru, bagaimana Anda
bisa mulai dialog dengan baik?

Guntoro menulis:

> Agama apapun mengatur hal-hal kecil, seperti
> bagaimana makan yang baik, masuk ke kamar kecil yang
> baik. 

1. Dari mana Anda mengklaim AGAMA APA PUN mengatur
hal-hal kecil. Setidaknya, beberapa agama besar yang
saya pelajari, hal makan hingga ke kamar kecil MEMANG
TIDAK DIATUR. Mungkin Anda punya hasil penelitian yang
berbeda, atau ajaran bawaan yang belum sempat
dikoreksi.

Guntoro Menulis:

> Artinya, agama apapun mengatur hal-hal yang
> sepele. 

2. Dua kali pernyataan/tesis yang butuh Anda untuk
tidak memproyeksikan keyakinan Anda kepada keyakinan
dan tradisi (hadith) golongan keyakinan berbeda.

> Masalahnya apakah logis, kalau sistem nilai
> agama mengatur hal-hal yang kecil, sementara 
> hal-hal yang besar, fundamental dan menyangkut hajat
> hidup orang banyak...

3. Karena tesis Anda sudah keliru, maka menghasilkan
jalan menuju kekeliruan lebih besar...

Guntoro menulis:
> seperti sistem kenegaraan tidak
> ikut mengatur? 

4. Agama memang ruang Privat bagi Negara yang Plural,
Kecuali dalam suatu negara, hanya ada satu agama,
artinya 100% penduduknya. Kacaulah, kalau agama masuk
ke wilayah publik. Sejarah sudah membuktikannya.

Guntoro menulis:

> Dugaanku tidak logis deh.

Semestinya LOGIS, tapi PREMIS yang diambil akan salah,
karena keliru sejak awal. Jangan keliru: BANYAK ORANG
betul dalam pola pikir (logis), sering bertolak tidak
dari kenyataan, tapi terkadarang dari prejudice dan
pengetahuan yang keliru tentang orang/pihak/obyek
lain.
  

wassalam,

berthy b rahawarin

Kirim email ke