Dear Guntoro, Menyamakan Bush dan SBY, sudah saya jabarkan presumsi sebelum membuat premis, meskipun dalam cara deduktif. Anda hanya paham manusia Saddam agak tidak penuh, dan apalagi Tibo, Marinus, Dominggus yang dieksekusi SBY, dan tidak seterkenal George Bush?
Saya memilih SBY pada dua kali putaran untuk menjadi Presiden RI, dan saya memberi tahu kepada Anda, saya menyesal telah melakukan kebodohan itu. Karena, kita penuh berharap SBY untuk mengubah keadaan. Tetapi, saya keliru. Dan, TIDAK lagi untuk 5 tahun berikut saya pilih, kalau dia mau lagi jadi Presiden. Kalau Saddam Hussein, saya tidak membenarkan dia apabila ada bukti-bukti tindak kejahatan dilakukannya. Tetapi, membela haknya sebagai manusia yang patut untuk mendapat pengadilan yang "independen dan fair", bukan pengadilan sandiwara USA dan pemerintahan boneka Irak. Dan, YANG PALING MENDASAR, tidak patut dia dihukum gantung, pada hari raya keagamaan yang dia imani. Saudara Tibo, Marinus, Dominggus sama sekali Anda tidak tahu kasusnya. Anda boleh meminta data, bukan hanya mendengar "KATA ORANG". Tibo cs, adalah orang-orang yang patut saya bela, karena jika tidak demikian, lebih pantas SAYA DIHUKUM MATI jika saya mengetahui dan meyakini bahwa mereka TIDAK BERSALAH, TETAPI saya tidak melakukan apa pun untuk membela mereka. Anda masih "berhutang" untuk mengomentari komentar saya atas tulisan Anda, sehubungan artikel KOMPAS, "Agama di Ruang Publik". Tentu Anda punya prioritas pilihan mengomentari setiap artikel. Tapi, kalau hanya "asbun", akronimnya "Asal Bunyi", baiklah mengumpulkan lebih banyak data lagi. Dari tulisan/komentar Anda sebelumnya, maaf, saya harus katakan, Anda berani membuat statemen dengan premis yang menyesatkan masyarakat. Saya akan menarik pernyataan saya, bila Anda dapat membuktikan bahwa pernyataan Anda punya fakta dan dasar yang meruntuhkan data dan keyakinan saya akan kasus Tibo cs, orang-orang tak bersalah itu. Lagian, Saddam dan Tibo-Marinus-Dominggus sudah diadili di dunia seberang. SBY dan Bush masih hidup. Siapa tahu kritik kita mengubah arogansi dan berbalik menuju jalan pemerintahan yang benar. Keduanya memang di jalan yang sesat, bila keangkuhanlah yang bicara. wassalam, berthy b rahawarin --- guntoro soewarno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Menyamakan Bush dengan SBY tentu berlebihan. Tapi > menyamakan Tibo CS dengan Sadam tentu sangat tepat. > keduanya pembantai manusia-manusia tidak berdosa. > lepas dari kepentingan agama, keduanya memang layak > digantung. > > salam > > gs > > Barnabas Rahawarin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Apa beda Bush dengan SBY? > > Di mata saya: MEREKA BERDUA SAMA SAJA, PODHO WAE: > "SBY > pembunuh kecil" karena (ikut) membunuh Tibo cs, > wong > cilik. GW Bush "pembunuh besar", karena membunuh > Saddam, menjerumuskan banyak nyawa tak bersalah ke > liang kubur lewat PERANG yang dibangunnya. Paus > Yohanes Paulus II adalah tokoh dunia terakhir yang > terus mengupayakan pelbagai upaya diplomatik untuk > menghindari kebuasan Bush. Tapi Bush nekat abis. > Yohanes Paulus II tidak melihat masa suram Irak, > karena wafat saat perang di Irak masih berkecamuk. > Demikian juga Saddam. > > SBY diminta Paus Benediktus XVI untuk tidak > mengeksekusi Tibo, Marinus dan Dominggus, tapi, SBY > nekat melakukannya. Kita lihat saja akhirnya. > > SELAMAT PASKAH, bagi Anda yang merayakannya. > > > ____________________________________________________________________________________ Don't pick lemons. See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos. http://autos.yahoo.com/new_cars.html
