Horas.
  Bukannya membela mereka yang suka berbahasa asing, namun di era global ini, 
kemampuan berbahasa asing, minimal English, adalah value added asset.
  Coba tengok ke negara jiran seperti Singapura dan Malaysia. Di sekolah para 
murid diperbolehkan belajar bahasa Mandarin, Tamil atau Malay, sesuai etnis, 
namun pemerintah mewajibkan mereka menguasai bahasa Inggris. Hasilnya bisa kita 
lihat bersama, Singapura dan Malaysia sudah tancap gas pasca krisis 97, 
sementara kita masih ngos-ngosan di sini.
   
  Tidak perlu cemas kalau bahasa Indonesia akan merosot populeritasnya, kalau 
pemakaian bahasa asing digencarkan. Yang terjadi justru sinergi, yang akan 
menguntungkan kita bersama.
   
  Jangan lupa, faktor emosional juga berbicara. Kalau kita sedang 
berjalan-jalan ke luar negri, dan tanpa sengaja bertemu orang yang sedang 
berbahasa Indonesia, pasti langsung terasa akrab, walaupun kondisinya sama-sama 
"stranger".
   
  Tak kenal, maka tak sayang. 
   
  Salam.

Lasma siregar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Tak jelas mengapa kita begitu latah memakai bahasa asing!
Contohnya, kata "sombong, angkuh, congkak atau tinggi diri"
kini malah sering diganti dengan kata "arogansi".

"Sombong sekali", oleh media dijadikan "arogansi yang berlebihan"!
Mengapa begitu ya?
"Losmen" di Bali sudah sering menyebut diri "backpacker", begitu
juga warung kopi jadi "cafetaria"....

Apakah kita merasa lebih hebat dan bermutu kalau bisa pakai kata
yang berasal dari bahasa asing?
Ataukah kelihatannya lebih cosmopolitan dan global citizen plus
bukan wong ndeso?
Hanya kalian masing-masinglah yang tahu.....

Salam
Las.

Kirim email ke