Oleh Martin Lukito Sinaga 
Pendeta Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Dosen Sekolah 
Tinggi Teologi (STT) Jakarta 
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/07/Bentara/3437611.htm
=========================

Sekularisme dalam kekristenan di Indonesia dicoba ditelusuri sejak 
akhir abad ke-19 sampai masa Reformasi ini. 

Dapatkah seorang anak membunuh bapaknya? "Tentu tidak. Walaupun 
mereka berada dalam situasi yang berbeda dan berhadap-hadapan." 
Demikian jawab Probowinoto, pemimpin gereja di Jawa yang juga pendiri 
Parkindo atau Partai Kristen Indonesia, saat ditanya mengapa ia 
akhirnya tidak bisa tegas menolak campur tangan misi Belanda ke dalam 
Gereja Kristen Jawa (GKJ). Padahal, saat itu tahun 1948, ketika momen 
kemerdekaan Indonesia juga menjadi momen kemandirian gereja-gereja 
atas patronase zending Belanda. 

Ingatan Probowinoto tentu tidak pendek. Ada yang sungguh mendalam 
yang telah ditanam oleh zending pada hidupnya, bahkan hidup puluhan 
ribu orang Kristen Jawa. Sejak awal abad ke-20 zending telah memberi 
bantuan besar: 215 sekolah dalam berbagai tingkat, 9 rumah sakit 
besar, 19 klinik pendukung, dan 53 poliklinik (Quarles van Ufford, 
Reformed Mission in Central Java: 1985). Di seputar institusi modern 
itulah gereja Jawa berkelindan, bahkan satu dari tiga orang Kristen 
Jawa hidup dan bekerja dari institusi tersebut. Belanda-lah yang 
telah mengangkat mereka menduduki dunia modern kelas menengah. 
Jelaslah, demikian menurut Van Ufford, "terjadi osmosis antara 
institusi agama dan lembaga sekular yang semuanya menciptakan 
masyarakat Kristen Jawa". 

Tak sengaja menjadi sekular 

Ingatan harus dikuak lebih jauh lagi. Kekristenan pernah belajar 
mengakar dalam dunia ngelmu atau kebatinan Jawa abad XIX, dan telah 
melahirkan pemimpin karismatisnya semisal Kiai Sadrach. Ada proses 
bricolage di sini, semacam sepuhan dan patri Kristen (atau 
pemahkotaan Kristen) di puncak kepala agama Jawa: "doa Bapa Kami" pun 
menjadi rapalan dan dipakai menyembuhkan penyakit dan meramal nasib 
si zaman kacau pasca-Perang Diponegoro. 

Sebentuk resistensi lokal muncul di sini. Pada tahun 1885 komunitas 
Sadrach menamai dirinya sebagai Golongane Wong Kristen Kang Mardika. 
Mereka berniat merdeka dari administrasi Indische Kerk (Gereja Hindia 
Belanda) dan menemukan dalam pemimpinnya inkarnasi sang Ratu Adil itu 
sendiri. Dalam pada itu pastor Katolik bernama Van Lith menulis 
kenangannya tentang Sadrach, "seorang Jawa yang kepalanya lebih 
tinggi daripada semua orang sebangsanya". 

Namun, Sadrach dan komunitasnya akhirnya dibeslah, tentu dengan 
alasan teologis (purifikasi ajaran gereja) dan administratif (baca: 
politik dominasi gereja Belanda). Namun, ada yang terlupa yang 
menyusup dan menyeruak bagai energi yang melecut pascapembeslahan 
Sadrach, yaitu social ministry atawa pelayanan sosial (mengutip 
catatan Gerit Singgih, Doing Theology in Indonesia: 2003). Mungkin 
ngelmu terlalu bertele-tele kalau diladeni sebagai pintu masuk iman 
Kristen, sementara Jawa pasca-Tanam Paksa begitu buruk dan menderita 
dan rupanya aksi-aksi pendidikan, kesehatan, dan perbaikan pertanian 
dilihat sebagai jalan baru yang sungguh menyelamatkan. Selanjutnya 
sejumlah orang Jawa pun menoleh kepada program sekular ini dan mereka 
pun beralih-agama, konversi. Sementara itu, tentu saja, dengan aksi-
aksi sekular itu persaingan misi Kristen yang berkejaran dengan 
pembaruan dan dakwah Islam dibayangkan dapat dimenangkannya secara 
taktis. 

Bagaimanapun juga, jawaban orang Indonesia atas model misi tadi cukup 
bervariasi. Secara umum di Indonesia, menurut Gerry van Klinken 
(dalam bukunya Minorities, Modernity and the Emergening Nation: 
2003), ada dua jenis konversi ke dalam kekristenan. Yang pertama 
bercorak personal, yang kedua bercorak komunal. 

Konversi model komunal melahirkan paguyuban "dengan rasa etnis, yang 
lebih besar dari identitas klan, tetapi lebih kecil dari identitas 
Hindia Belanda, yang sebelumnya tidak ada sama sekali" (mengutip 
definisi Van Klinken dalam bukunya di atas). Yang lahir adalah 
sebentuk Gemeinschaft gereja-gereja suku, komunitas yang secara 
organik menjadi bagian dari tubuh etnik, dan yang muncul terisolasi 
di berbagai daerah di Indonesia. Ada yang romantis yang terselip di 
sini, yaitu gagasan Eropa tentang Volk, gagasan yang memang anti-
Pencerahan (mungkin juga anti-sekularisme), tetapi yang cocok dengan 
kondisi pulau-pulau etnis di Nusantara. 

Tentu ada yang magis pula di situ, yaitu korpus keluarga, yang 
berfungsi menegaskan batas diri dengan yang lain. Dan sense korpus 
keluarga itu biasanya tersimpan di balik label Kristen gereja-gereja 
suku tersebut (yang kini berfungsi menghalangi gerakan penyatuan 
gereja-gereja/ekumenisme di Indonesia). Dari sudut tertentu komunitas 
ini rentan diombang- ambingkan politik primordial dan masih mudah 
tersengat oleh sentimen-sentimen kesatuan agama dan politik, 
khususnya di tingkat pemerintahan lokal. 

Pada konversi model personal, lahirlah individu-individu yang 
terdidik dan berwawasan luas, yang dalam istilah Van Klinken telah 
menempuh proses embourgeoisement, pengelasmenengahan. Merekalah yang 
antara lain ikut masuk ke dalam pergerakan nasionalisme sekular 
(semisal Kasimo, Sam Ratulangie, Gunung Mulia, juga TB Simatupang), 
dan yang lebih melihat jalan sekular sebagai jalan terbaik untuk 
Indonesia merdeka. Kesatuan antara yang sakral dan sekular tidak 
relevan lagi bagi mereka (sehingga bisa juga dikatakan bahwa mereka 
telah menerima iman Kristen sebagai hal privat, lalu memakai alat 
sekular sebagai ihwal publik). Status mereka adalah kaum migran dari 
rumah tradisionalnya. Simatupang sendiri mengatakan bahwa modernitas 
yang ditempuhnya berarti "bebas dari keramatnya alam, keramatnya 
susunan kekuasaan politik dan keramatnya sistem budaya" (dalam 
bukunya, Kehadiran Kristen dalam Perang, Revolusi dan Pembangunan: 
1986). Jelas-jelas istilah "bebas dari kekeramatan" tadi adalah 
terjemahan gagasan Weber mengenai Entzauberung (disenchantment), inti 
sekularisme itu sendiri. 

Penting menelusuri mengapa ada konversi personal dan sekular yang 
muncul dalam Kekristenan Indonesia, sekalipun hanya sepotong kecil. 
Hal ini semakin penting diketahui mengingat kristenisasi yang 
dikerahkan zending Belanda sama sekali tidak memaksudkan hal ini, ia 
tampak sebentuk by product misi. Para antropolog (seperti Elmer 
Miller) memang menemukan bahwa agency misi secara implisit telah 
berhasil mengomunikasikan pesan sekular ke lapangan pekabaran Injil, 
khususnya melalui peralatan kerja yang mereka bawa serta. Namun, 
dalam kasus Indonesia ada alasan lain yang lebih penting mengapa 
bermunculan sejumlah kecil orang Kristen sekular. 

Menurut Rita Smith Kipp ("Bangsa goes above Agama": 2000), pilihan 
sejumlah petobat Kristen pada sekularisme adalah refleksi pengalaman 
mereka diasuh oleh para penginjil Barat yang ternyata masih bekerja 
dengan mental rasistis ("racial power structure of colonial mision", 
kata Kipp). Dan ini sebuah ironi dalam konteks khotbah para pendeta 
Barat tentang persaudaraan universal Kristiani tersebut. Sementara 
itu, di luar gereja terdengar seruan nasionalisme dengan jiwa 
egaliter dan panggilan akan kemandirian diri. Padahal, praktik 
patronase sedemikian mendasar di dalam agama Kristen dan dalam 
organisasi gereja bawaan zending Barat tersebut. Hal itu meyakinkan 
sejumlah orang Kristen bahwa agama tidak meyakinkan dalam konteks 
kemerdekaan dan kebangunan "jiwa dan badan" bangsa Indonesia. Agama 
terlalu kerdil dalam urusan persaudaraan sebuah bangsa sehingga 
mereka memilih jalan nasionalisme sekular. Yang menguntungkan adalah 
bahwa para misionaris secara tersirat telah mengajarkan kerangka-
kerangka sekularisme dalam proyek kristenisasi mereka sehingga 
memudahkan sejumlah anak-asuh mereka melangkah ke dalam proyek 
sekularisme tersebut. 

Sekularisme tersirat yang dibawa oleh badan misi Barat itu ternyata 
cukup signifikan sebab menempel pada struktur dan juga gaya 
rohaninya. Badan Misi Belanda (berdiri 1797) adalah sebentuk 
organisasi swasta, yang telah mencicipi liberalisasi politik di Eropa 
khsususnya dalam pemisahan antara agama dan negara. Mereka adalah 
gerakan sukarela dari individu-individu yang agak bebas dari ikatan 
formal agama/gereja, sementara negara pun telah berangsur-angsur 
netral dalam urusannya dengan gereja. Dalam pada itu, gaya rohani 
mereka amat individualistis, dan berharap juga bahwa penduduk pribumi 
Indonesia melakukan konversi individualistis pula, dan pertobatan 
Kristiani kiranya dilihat sebagai pengalaman privat. Tampaknya proyek 
konversi mereka juga menyiratkan proses depolitisasi agama dan 
detachment dari kerangka religiositas komunal setempat. Dengan itu 
pulalah Peter van der Veer mengatakan bahwa menjadi Kristen juga 
adalah "conversion to modernity" (ini menjadi judul buku 
suntingannya: 1996). 

Dalam pembangunan modern yang sekular 

Selanjutnya tentu tampak mudah menemukan perjalanan potongan sekular 
dari komunitas Kristen Indonesia itu. Merekalah yang dengan antusias 
melihat pembangunan modern Orde Baru selaku platform bekerja dan 
bersaksi. Kembali mengutip Simatupang, maka baginya proses 
disenchantment (meluruhnya pesona atau tuah alam, kekuasaan, dan 
kebudayaan) itu akan menghasilkan kebahagiaan manusia dan sebagai 
tanda kemuliaan Tuhan (dua frase yang tercetak miring ini adalah kata-
kata Calvin yang tampaknya memengaruhinya). Lalu pada gilirannya, ke 
dalam dunia yang tanpa pesona mitis tetapi mengalami modernitas 
itulah karya Kristiani dan pemberitaan Injil hendak diarahkan, 
terutama agar kegagalan bangsa-bangsa lain menempuh sejarah 
modernitasnya tidak terjadi di Indonesia (kata Simatupang, "dalam 
masyarakat yang mengalami modernisasilah kita terpanggil 
untuk 'bekerja sama dengan Allah' mendirikan tanda-tanda pembaruan"). 
Di tengah konteks percakapan ini Simatupang juga menyinggung 
pentingnya tesis Max Weber sebab ia meyakini betapa signifikannya 
peran kaum Protestan selaku pelopor dari pembebasan atas dunia mitis 
pra-modern, dan betapa perlu kaum Protestan mengambil peran selaku 
motivator pembangunan di Indonesia. 

Dan hal itu tentu sungguh wajar diajukannya di era Orde Baru sebab 
pasca-tragedi nasional 1965 telah begitu banyak orang masuk Kristen. 
Tentu perlulah ada sense of direction yang lebih praktis bagi umat 
Kristen, sebentuk arah yang non-ideologis. Tentu bukan demi 
kepentingan pastoral ini saja Simatupang menegaskan perspektifnya, 
tetapi juga demi memperkuat ideologi negara Pancasila (Simatupang 
kerap kali mengatakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila). 

Riset Robert Heffner tentang umat Kristen di sekitar Tengger, Jawa 
Timur, memberi kita catatan tambahan yang menarik ("Of faith and 
Comitment: Christian Conversion in Muslim Jawa", dalam bukunya 
Conversion to Christianity: 1993). Orang Kristen Tengger bercirikan 
kaum terdidik yang perlahan keluar dari masyarakat tradisional, dan 
sedikit banyak bersaing dengan pedagang Islam yang masuk ke Tengger. 
Di samping itu, sebagian dari mereka adalah bahagian ataupun 
keturunan keluarga anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang telah 
mengalami kegetiran hidup. Berkenalan dengan kekristenan membuat 
mereka menemukan corak baru beragama, yaitu personalitas iman, di 
mana ikatan kampung yang selama ini menentukan telah mulai melemah 
dan digantikan oleh pilihan pribadi kepada agama. Transformasi yang 
terjadi ini sungguh dekat dengan kontur sekularisme, di mana agama 
menjadi lebih privat, mempribadi, dan punya arti praktis. Saat itu 
semakin besarlah potongan sekularisme dalam kekristenan Indonesia. 

Makanya, era Reformasi ini agak membingungkan dan mencemaskan umat 
Kristen: alamat rumahnya harus ditemukan lagi (walau tampaknya kita 
semua pun cemas sebab "when Soeharto goes, everything will have to be 
reinvented", demikian kata Goenawan Mohamad). Khususnya ketika 
gerakan fundamentalisme yang bukan saja antisekularisme, tetapi juga 
anti-Kristen menyeruak masuk ke tengah ruang publik di negeri ini. 
Sebagian umat Kristen memperkuat dan berteduh dalam benteng lama 
(gereja-gereja suku) buatan zending, sebagian lagi bahkan 
mengembangkan teologi defensif sambil mencari jiwa-jiwa demi 
pertambahan daftar anggota gereja. 

Mungkin kaum sekular Kristen Indonesia kini sedang mencoba bermanuver 
dan, melalui lembaga swadaya masyarakat (ornop), memasuki kancah masa 
kini. Ariel Heryanto sudah mewanti-wanti hal ini (dalam tulisannya 
Mengais Hikmah di antara Puing Gereja: 1997) dengan menuntut agar 
orang Kristen merumuskan kembali peran sosialnya di tengah masyarakat 
Indonesia yang sedang bergejolak (khususnya saat pembakaran ratusan 
gereja dan peristiwa 27 Juli 1996). Ia juga mengingatkan bahwa 
terjadi kemarau dalam kekristenan sebab jarang sekali muncul tokoh 
pembaruan sosial dari dalam dirinya. Bahkan, ia menyebut nama Asmara 
Nababan selaku contoh yang bisa menjadi panutan baru, seorang yang 
bukan pejabat gereja, tak pernah sekolah agama, tetapi aktivis 
pergerakan sekular. 

Tampaknya kini kekristenan perlu menemukan lagi potongan sekularisme 
dirinya itu. Menarik mencatat cerita mutakhir mengenai bencana di 
Indonesia sebab di Aceh dan Yogyakarta, GKI (Gereja Kristen 
Indonesia) tampak sedemikian aktif ikut membantu rehabilitasi di 
sana. Suatu saat orang-orang Muslim di Aceh bertanya, "Organisasi apa 
itu GKI?" Serta-merta ide sekular yang muncul membantu menjawab: GKI 
adalah Gerakan Kemanusiaan Indonesia. 





Kirim email ke