Dear Moderator, Sekali-sekali "negarawan" dan Orang yg (patut) dihormati seperti Jalaludin Rakhmat diberi waktu untuk berbicara kepada lebih banyak orang di negeri ini. Rasanya, saya belum pernah bertemu beliau, kecuali membaca beberapa pandangannya. Selain Fazhul Rachman, misalnya, Jalaludin Rakhmat adalah negarawan-negarawan yang dihormati, namun media belum cukup kritis dan lebih "tebang-pilih" untuk promosi figur.
Adalah Jalaludin Rakhmat yang berani mengatakan, "Wajah kekerasan dengan warna keagamaan di seputar JABODETABEK (kurang lebih 6 bulan silam), dikendalikan militer!". Hal ini dikatakan ketika, di mana-mana FPI atau beberapa kelompok keagamaan melakukan kegiatan yang melanggar hak beribadah kelompok keagamaan berbeda. Pernyataan itu yang antara lain dikutip KOMPAS itu, termasuk berani dan memperkuat figurnya. Asumsi itu bersesuaian dengan temuan di lapangan, bahwa FPI atau FBR misalnya, adalah hanyalah kelompok orderan dengan kepentingan ekonomis bagi para pelaku, sementara pengorder mempunya target berbeda. Agama juga yang dibawa-bawa. Pernyataan negarawan yang dilakukan dengan berani di depan publik adalah langkah untuk ditemukan di negeri "Tidak Mandiri" ini. Selain oleh Gus Dur yang berani berbicara ceplas-ceplos tentang Jenderal sektarian, tokoh Maluku Utara Thamrin Amal Tomagola adalah figur seperti Jalaludin Rakhmat, yang sebaiknya dipromosi Indonesia, supaya negara ini segera pulih dalam segala aspeknya. Kalau pemimpin sektarian, maaf Guntoro, seperti SBY-JK, sebaiknya sudah dipersiapkan untuk dikandangkan. Ada promosi di sini? Ada, tapi untuk kepentingan bangsa. Ya, bangsa yang mandiri dan bermartabat. Hubungannya apa dengan KEMANDIRIAN RI? Bagaimana mandiri, dalam negeri kita yang lagi hancur! Mencari negarawan, selain tiga figur pemberani yang disebut tadi, sudah hampir tidak ada. Mbah Marijan dan Chris John cuma iklan. Yang menguat adalah politisi, birokrat dan militer menjadi sektarian. Kalau nasionalis pun, sembunyi-sembunyi. Berjiwa Penakut! Ya takut tidak populer. Tidak kebagian kursi. Tapi, tidak takut bahwa negara ini sebenarnya sudah hadi rongsokkan sektarian dan secara ekonomis sudah bangkrut. (Kalau, negara RI diaudit, sebenarnya sudah collapse. Anda tahu konsekuensi suatu badan hukum yang bangkrut.) Di situ, kemandirian ditentukan oleh negara yang memberi pinjaman. Jangankan memberi, baru mengiming-imingi saja, kita sudah "menjual diri" untuk medapatkan apa saja yang mereka mau. Di mana mandirinya... Yang ada, Bank Mandiri yang berkamuflase sebagai bank berwajah pro rakyat, tapi isinya para kapitalis yang bernegosiasi untuk merampok apa saja lagi yang masih dapat dirampok. Dan sayang, tidak ada negarawan. Apa kita semua dididik saja jadi petinju seperti Chris John saja? Cepat dapat uang. Diminta komentar setelah menang pun, perlu dilatih bahasa publik yang enak didengar penonton. Ini perlu manajer Tinju profesional. Dan, jadi petinju? Takut parkinsonlah... Koruptor dijadikan sand-sack? Setuju! wassalam, berthy b rahawarin --- Agus Hamonangan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Diakui, Peranan Indonesia di Kancah Internasional > Tak Menonjol > http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/08/nasional/3440339.htm > ========================= > > Bandung, Kompas - Kemandirian dan kepercayaan diri > bangsa Indonesia > dalam berbagai bidang kehidupan, baik secara > politik, ekonomi, maupun > sosial, digugat. Kebijakan pemberian dukungan > resolusi PBB mengenai > sanksi Iran dianggap bukti ketidakberdayaan > Indonesia menghadapi > pengaruh kekuatan negara adikuasa. > > Gugatan ini muncul dalam seminar "Quo Vadis > Kemandirian Indonesia" di > Sasana Budaya Ganesha, Sabtu (7/4). Hadir sebagai > pembicara tokoh > reformasi nasional Amien Rais, pengamat komunikasi > ____________________________________________________________________________________ The fish are biting. Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing. http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php
