--- In [email protected], "walsuparmo" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Salam,
> Ini ada pendapat lain:
> Pendidikan keras ala SPARTA itu maksudnya MENGGEMBLENG PARA PRAJA 
> menjadi BAJA dan bukan bersikap MAKNYAI.

L: Maksud pak Wal setelah dipukul dadanya (mis. di antara dua 
kancing, pukulan paling populer di IPDN/STPDN), maka tulang yang 
sering terkena pukulan tsb bisa menjadi kuat seperti BAJA? Bahkan 
kalau memukulnya pakai batu (BATA?) seperti yang saya lihat di 
ulang2 gambarnya di TV, tulang rusuk di dada tsb bisa benar2 jadi 
BAJA?

> Dalam praktek lurah, camat dsb harus bisa 
> menghadapi masyarakat desa yang sekarang makin
> berani dan bahkan BRUTAL. 

L: Kalo begitu, kasihan mayoritas lurah2 dan camat2 yang bukan 
lulusan STPDN/IPDN, sebab tulang rusuknya belum sekuat baja atau 
belum menjadi baja beneran (setelah ditempa pukulan2 dg batu bata) :-
). 

> Memang penghidupan itu adalah "suvival of the
> fittist" dan ini hukum alam.

L: Segelintir siswa2 IPDN/STPDN itu menganut paham "survival of the 
strongest", yaitu menganut hukum rimba (bukan hukum alam).

"The fittest" itu belum tentu, bahkan hampir semuanya bukan "the 
strongest". Contohnya Dinosaurus jaman dulu itu mungkin 
termasuk "the strongests", tetapi karena tak bisa 'fit' dengan 
perubahan alam lingkungan, punahlah mereka. 

Heran, yang perlu dibina di IPDN kok cuma praja2 baru, tengah malam 
lagi pembinaannya. Sedangkan praja2 senior cuma jadi 'pembina' sebab 
tulang rusuk praja2 senior sudah tahan banting sekuat baja.

> Dalam negara demokrasi, pendapat ini juga harus dihormati.

L: Pak Wal, saya menghormati pendapat anda lho :-), walaupun 180 
derajat tak setuju.

Mungkin benar bahwa pemberitaan media massa terkesan memojokkan 
IPDN, bahkan seolah-olah merupakan propaganda yang menjelek-jelekkan 
IPDN. Tetapi pihak IPDN seharusnya juga menyadari bahwa pemberitaan 
media massa tersebut bisa pula dianggap sebagai propaganda anti-
kekerasan oleh banyak pihak-pihak lain.

Apabila pihak IPDN tidak ingin dipojokkan sebagai satu-satunya 
kambing hitam kekerasan dalam kampus IPDN, maka salah satu cara 
terbaik yang bisa dilakukan oleh IPDN untuk meringankan `dosa-dosa'-
nya (tanpa harus bersikap `denial' dan tetap mengaku bersalah) 
bukanlah dengan cara mengingkari adanya kekerasan di IPDN, melainkan 
dengan menunjukkan bahwa sesungguhnya budaya kekerasan bukan cuma 
dimiliki oleh para praja IPDN, tetapi secara hampir merata juga 
dimiliki oleh unsur-unsur mahasiswa di banyak perguruan-perguruan 
tinggi lain, bahkan oleh unsur-unsur masyarakat di berbagai sektor 
dan di berbagai organisasi.

Salam

Kirim email ke