Kalau saya .. memperbaiki diri sendiri..mulai dari diri sendiri jelas O K Tetapi mencoba mendorong perubahan nilai juga O K... namanya juga usaha...
Nggak repot kok.., Salam Haniwar At 03:24 PM 4/9/2007, you wrote: >Persoalan dengan perubahan nilai selalu klise: banyak pihak sudah sampai >bibir garing menyerukan dilakukan perubahan nilai, menunjukkan nilai-nilai >mana yang tidak membawa dampak positif, serta nilai-nilai baru seperti apa >yang perlu disosialisasikan. Sudah banyak juga diajukan berbagai macam >strategi kebudayaan, strategi perubahan sosial, dan milis FPK ini adalah >saksinya. > >Tapi, mereka yang berteriak-teriak bagai anjing menggonggong di padang >gurun itu "cuma" pemerhati dan intelektual sosial/budaya yang tidak berada >pada posisi untuk menggariskan kebijakan dan mengimplementasikannya. >Seruan mereka paling banter adalah seruan moral. Mereka tak bisa jadi >polisi yang memaksa setiap warga negara untuk melaksanakan apa-apa ang >mereka serukan itu. > >Siapa "polisi"-nya? Ya yang punya kuasa alias pemerintah. Jika pemerintah >bergeming saja, dan tak ada tindak lanjut terhadap seruan perubahan itu >(akibat tiadanya kemauan politik untuk berubah), maka apa lagi jalan >keluarnya? Ya tiap-tiap orang yang percaya pada seruan moral itulah yang >harus menerjemahkan suatu gagasan moral ke dalam wujud konkret berupa >perilaku individual dan sosial. > >Kalo tunggu presiden, atau DPR, atau pengadilan, ya sampai kiamat nggak >akan ada perubahan. Wong mereka itu justru yang diuntungkan dengan keadaan >sekarang ini kok, jadi ngapain berubah? > >Lalu? Ya kembali ke kita-kita ini yang tiap hari getol baca Kompas dan >liat 1001 seruan untuk perubahan nilai. Kita mau nggak melaksanakan itu >semua dalam hidup kita masing-masing sebagai individu, anggota keluarga, >dan warga masyarakat? > >Gimana kalo cuma kita sendiri yang mau, sementara orang lain cuek aja? Ya >biarin aja. Itu urusan dia. Namanya juga sikap moral. Yang penting diri >kita bener, dan kita bisa ajak orang-orang terdekat di lingkungan kita >untuk berubah menjadi lebih baik. Kalo Anda seorang ayah, Anda bisa mulai >dari keluarga Anda. Kalo Anda seorang atasan dikantor, Anda bisa mulai >dengan bahwahan Anda. Kalo Anda ketua RT di kampung Anda, mulailah dengan >warga RT Anda. > >Yang penting ada yang mulai, dan nggak terus-terusan tunggu pemerintah, >atau jerit-jerit menuntut pemerintah ubah nilai, tapi ya cuma jerit-jerit >aja dan diri kita sendiri tidak mulai melakukan apa-apa yang lebih nyata. > >Kalo Anda baca riwayat hidup orang-orang besar, akan selalu terlihat pola >konsisten dalam proses perkembangan mereka: mereka senantiasa terinspirasi >oleh orang lain yang melakukan suatu hal baik, sesepele apapun hal >tersebut. Mereka belajar dari teladan orang lain, bukan dari wahyu atau >aturan hukum. Maka ketika di sekitar kita teladan yang baik langka >dijumpai, diri kitalah yang bisa jadi pemberi teladan itu. Perbuatan dan >sikap positif kita, betapapun kecilnya status dan peran kita dalam >masyarakat, selalu akan memotivasi orang lain untuk melakukan hal positif >yang sama. > >Situasi paling konkret seperti apa yang bisa mewujudkan situasi di atas? >Tak lain dan tak bukan adalah keluarga di rumah. Kalo anak saya brengsek, >itu sebab saya tak mampu jadi teladan yang baik buat dia. Kalo dia tumbuh >jadi orang baik, itu karena dia melihat orang tuanya juga senantiasa >melakukan hal-hal baik. > >Contohnya apa? Nggak bergunjing tentang orang lain di depan anak; nggak >bertengkar dan memakai kata-kata tak pantas di depan anak; tak mengajari >anak berbohong dengan menyuruhnya bolos sekolah untuk alasan sepele; tak >bersikap malas dan menunda-nunda pekerjaan di depan anak; tak berangkat >kerja telat setiap pagi; tak jor-joran dengan tetangga soal pemilikan ini >dan itu, dsb. Intinya, di rumah orang tua mesti jaga mulut, jaga sikap, >jaga kelakuan...smile. > >manneke
