Bukankah ini gambaran dari "Pamong Praja" di Indonesia? Berbohong;
Menutup-nutup-i; Mempersulit hal-hal yang dapat dikerjakan dengan mudah.
Jadi tidak ada transparansi dalam menjalankan tugas-tugas dikantor-kantor
Pamong Praja.
Untuk mengetahui dan mencernak-an apa artinya:"Good Governance" pasti sangat
sulit, karena tidak ada dikamus para lulusan dari IPDN/STPDN tersebut.
Sunnguh ironik bukan, bahwa Presiden Indonesia membawahi orang-orang yang
jiwanya pada sakit? Maka korupsi tetap berjalan terus di pemerintahan Indonesia
ini, dikarenakan para petugas ABDI NEGARA-nya jiwanya tidak stabil. Lha wong
lulus nya saja dari institut PREMANISME, ya cara bekerjanya pun tetap preman.
Salam,
Yuli
Dwiyatno Rumlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kita memang tidak tahu sepenuhnya apa yang terjadi di IPDN/STPDN.
Semua praja seakan tutup mulut (kecuali dipaksa) untuk menutupi aib ini. Coba
dilihat sewaktu wapres berkunjung ke barak tempat penyikasaan clif muntu. Salah
seorang praja yang saat kejadian itu juga berada dikamar itu, saat ditanya
wapres didepan kamera, katanya sudah tidur dan tidak mengetahui kejadian itu,
ini kesaksian didepan wapres lho. Secara logika, susah saya menerima keterangan
praja ini. Sepulas-pulasnya orang tidur, kalau sebelahnya ada orang ribut dan
digebukin ramai-ramai sampai meninggal, secara logika, mustinya ya mendengar
lah.
Jadi sepertinya, ada sebuah code yang ditanamkan ke masing-masing praja untuk
tidak membuka apa yang terjadi di IPDN/STPDN ini ke-publik. Sementara sekolah
itu dibiayai negara sebesar 150 Milyard setahun (kata salah satu anggota DPR),
itu baru yang dari pusat lho . Semua kejadian seakan-akan ditutup-tutupi,
rumangsanya IPDN/STPDN itu sebuah sekolah ekslusif yang tidak boleh diketahui
oleh orang lain. Ini naif sekali, yang lebih konyol lagi, hanya sebagian kecil
dari staf dan pengajar yang menyadari kenaifan ini. Luar biasa ...... Harusnya
masuk rekor Muri .....
Saya bukan seorang psikolog, namun melihat kenyataan ini, saya melihat ada
perlunya semua lulusan IPDN/STPDN yang sekarang sudah menjabat, untuk dilakukan
semacam test psikology, untuk memastikan bahwa kejadian dan apa yang dialami
selama masa kuliah dulu, secara psikology tidak menimbulkan dampak negatif bagi
pekerjaan dan keluarganya, ini usul saja, demi kebaikan bersama.
Salam