Ah....mas Andi ini bagaimana sich? Ntar "kebijakan" uang kembalian diganti 
permen jadi "bubrah" gitu loch, kalau harga-harga dibulatkan seperti pendapat 
anda. Dengan kebajikan harga-harga yang aneh tersebut, maka bisa menggantinya 
dengan permen, bukan?
   
  Rekan saya yang memiliki "wartel" mengatakan bahwa uang-uang kembalian yang 
biasanya di "halalkan" tidak diberikan kembali kepada para "customers" (antara 
Rp.50 s/d rp.100), jika dihitung-hitung bisa cukup lumayan dalam waktu satu 
minggu. Nach loch...?!
   
  Salam,
  Yuli

si_andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bukan karung, Pak. Ember cucian seperti pilihan mantan Kabulog kita, 
hahaha.

Saya pernah baca bahwa Turki baru saja melakukan hal ini. Mata uang 
Turki yang sempat bernilai 1.65 juta Lira per Dolar AS akhirnya 
diganti dengan New Turkey Lira. 1 Lira baru senilai dengan 1,000,000 
Lira baru. Jadi mereka memangkas 6 nol.

Yang dilakukan pemerintah bukan revaluasi, tapi menerbitkan uang 
baru yang konversinya seribu kali atau sejuta kali uang lama.

Kalau tidak salah baca juga, mata uang kita ini masuk sepuluh besar 
mata uang paling tidak bernilai di dunia. Kawannya mata uang Laos, 
Vietnam, dan Zimbabwe. Saya senang juga kalau kita memotong 3 nol, 
jadi mata uang kita tidak malu-maluin lagi. Cuma saya sudah 
membayangkan jawabannya: "Di tengah kondisi bangsa yang masih 
terpuruk ini apakah tidak ada prioritas lain?". Kalau sudah begitu 
terpaksalah awak diam seribu bahasa.

Balik lagi ke urusan kembalian supermarket, apa sulitnya sih 
memasang harga yang bulat ke ratusan terdekat. Mengapa sabun cuci 
mesti dijual seharga Rp16,475 dan bukan Rp16,400 atau Rp16,500 saja?

Andi

-

Kirim email ke