Pak Edi,
   
  Dengan menerangkan secara jelas hadis-hadis yang telah "DIHAPUSKAN" demi 
kepentingan kaum laki-laki, maka saya percaya (Insya Allah) anda akan menjadi 
salah satu penghuni Surga.
   
  Membaca penjelasan pak Edi dibawah ini, kami kaum perempuan sudah merasa 
berada di Surga karena ke-Salehan seorang Laki-laki. Penjelasan yang 
menenangkan dan juga menyejuk-kan, dan begitulah gambaran tentang Surga bagi 
saya.
   
  Hormat saya,
  Yuli
  

edi_fa87 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bung Iwan,
saya, walaupun laki-laki, termasuk yang tidak "sreg" dengan bunyi
hadis yang Anda sebut-sebut itu. 

Di bawah ini, saya sertakan sebuah tulisan lama dari Jalaluddin
Rakhmat, berjudul: Bidadari itu "Perempuan Shaleh", yang dimuat di
Tempo, 6 November 1993, yang--sedikit banyak--membahas hadis yang Anda
kutip itu.

Bidadari itu: "Perempuan Shaleh"
Dr. Jalaluddin Rakhmat

"Benarkah hadis yang mengatakan bahwa kebanyakan penghuni neraka itu
perempuan?" tanya seorang murid kepada Imam Ja'far. Fakih besar abad
kedua hijrah itu tersenyum. "Tidakkah anda membaca ayat Al-Qur'an -
Sesungguhnya Kami menciptakan mereka sebenar-benarnya; Kami jadikan
mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta dan berusia sebaya (QS
56:36-37). Ayat ini berkenaan dengan para bidadari, yang Allah
ciptakan dari perempuan yang saleh. Di surga lebih banyak bidadari
daripada laki-laki mukmin." Secara tidak langsung, Imam Ja'far
menunjukkan bahwa hadis itu tidak benar, bahwa kebanyakan penghuni
surga justru perempuan.

Hadis yang 'mendiskreditkan' perempuan ternyata sudah masyhur sejak
abad kedua hijrah. Tetapi sejak itu juga sudah ada ahli agama yang
menolaknya. Dari Imam Ja'far inilah berkembang mazhab Ja'fari, yang
menetapkan bahwa akikah harus sama baik buat laki-laki maupun
perempuan. Pada mazhab-mazhab yang lain, untuk anak laki-laki
disembelih dua ekor domba, untuk anak perempuan seekor saja. Mengingat
sejarahnya, mazhab Ja'fari lebih tua, karena itu lebih dekat dengan
masa Nabi daripada mazhab lainnya. Boleh jadi, hadis-hadis yang
memojokkan perempuan itu baru muncul kemudian: sebagai produk budaya
yang sangat maskulin ?

Karena banyak ayat turun membela perempuan, pada zaman Nabi para
sahabat memperlakukan istri mereka dengan sangat sopan. Mereka takut,
kata Abdullah, wahyu turun mengecam mereka. Barulah setelah Nabi
meninggal, mereka mulai bebas berbicara dengan istri mereka (Bukhari).
Umar, ayah Abdullah, menceritakan bagaimana perempuan sangat bebas
berbicara kepada suaminya pada zaman Nabi.

Ketika Umar membentak karena istrinya membantahnya dengan perkataan
yang keras istrinya berkata: Kenapa kamu terkejut karena aku
membantahmu? Istri-istri Nabi pun sering membantah Nabi dan sebagian
malah membiarkan Nabi marah sejak siang sampai malam. Ucapan itu
mengejutkan Umar: Celakalah orang yang berbuat seperti itu. Ia segera
menemui Hafsah, salah seorang istri Nabi: Betulkah sebagian di antara
kalian membuat Nabi marah sampai malam hari? Betul, jawab Hafsah
(Bukhari).

Menurut riwayat lain, sejak itu Umar diam setiap kali istrinya
memarahinya. Aku membiarkannya, kata Umar, karena istriku memasak,
mencuci, mengurus anak-anak, padahal semua itu bukan kewajiban dia.
Anehnya, sekarang, di dunia Islam, pekerjaan itu dianggap kewajiban
istri. Ketika umat Islam memasuki masyarakat industri, berlipat
gandalah pekerjaan mereka. Berlipat juga beban dan derita mereka.
Untuk menghibur mereka para mubalig (juga mubalighat) bercerita
tentang pahala buat wanita saleh yang mengabdi (atau menderita) untuk
suaminya: Sekiranya manusia boleh sujud kepada manusia lain, aku akan
memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya (hadis 1). Bila
seorang perempuan menyakiti suaminya, Allah tidak akan menerima
salatnya dan semua kebaikan amalnya sampai dia membuat suaminya senang
(hadis 2). Siapa yang sabar menanggung penderitaan karena perbuatan
suaminya yang jelek, ia diberi pahala seperti pahala Asiyahbinti
Mazahim (hadis 3). Setelah hadis-hadis ini, para khatib pun
menambahkan cerita-cerita dramatis. Konon, Fathimah mendengar Rasul
menyebut seorang perempuan yang pertama kali masuk surga. Ia ingin
tahu apa yang membuatnya semulia itu. Ternyata, ia sangat menaati
suaminya begitu rupa, sehingga ia sediakan cambuk setiap kali ia
berkhidmat kepada suaminya. Ia tawarkan tubuhnya untuk icambuk kapan
saja suaminya mengira service-nya kurang baik.

Cerita ini memang dibuat-buat saja. Tidak jelas asal-usulnya. Tetapi
hadis-hadis itu memang termaktub dalam kitab-kitab hadis. Hadis 1:
diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud. Tetapi Bukhari (yang lebih tinggi
kedudukannya dari Abu Dawud) dan Ahmad meriwayatkan hadis sebagai
berikut: Ketika Aisyah ditanya apa yang dilakukan Rasulullah di
rumahnya, ia berkata: "Nabi melayani keperluan istrinya menyapu rumah,
menjahit baju, memperbaiki sandal, dan memerah susu." Anehnya, hadis
ini jarang disebut oleh para mubalig. Karena bertentangan dengan
'kepentingan laki-laki' ?

Hadis-hadis lainnya ternyata dipotong pada bagian yang merugikan
laki-laki. Setelah hadis 2, Nabi berkata,"Begitu pula laki-laki
menanggung dosa yang sama seperti itu bila ia menyakiti dan berbuat
zalim kepada istrinya." Dan sebelum hadis 3, Nabi berkata, "Barang
siapa yang bersabar (menanggung penderitaan) karena perbuatan istrinya
yang buruk, Allah akan Memberikan untuk setiap kesabaran yang
dilakukannya pahala seperti yang diberikan kepada Nabi Ayyub." Tetapi,
begitulah, kelengkapan hadis ini jarang keluar dari khotbah Mubalig (
yang umumnya laki-laki ).

Maka sepeninggal Nabi, perempuan disuruh berkhidmat kepada laki-laki,
sedangkan laki-laki tidak diajari berkhidmat kepada perempuan. Fikih
yang semuanya dirumuskan laki-laki menempatkan perempuan pada posisi
kedua. Beberapa gerakan Islam yang dipimpin laki-laki menampilkan
ajaran Islam yang 'memanjakan' laki-laki. Ketika sebagian perempuan
muslimat menghujat fikih yang mapan, banyak laki-laki saleh itu
berang. Mereka dituduh agen feminisme Barat, budak kaum kuffar. Mereka
dianggap merusak sunnah Nabi. Nabi saw berkata, "Samakanlah ketika
kamu memberi anak-anakmu. Bila ada kelebihan, berikan kelebihan itu
kepada anak perempuan." Ketika ada sahabat yang mengeluh karena semua
anaknya perempuan, Nabi berkata, "Jika ada yang mempunyai anak
perempuan saja, kemudian ia memeliharanya dengan sebaik-baiknya, anak
perempuan itu akan menjadi pengahalang baginya dari api neraka (Muslim).

Pendeknya, dahulukan perempuan, kata Nabi dahulu. Pokoknya utamakan
laki-laki, teriak kita sekarang.

Kirim email ke