Hi..hi..buangan ya Pak. Saya pribadi setuju dengan model liberal yang anda 
sebutkan tapi permasalahannya bukan model-model mana yang lebih baik dan cocok 
yang dipakai—saya pribadi akan seneng sekali karena saya termasuk orang malas 
untuk belajar seabrek-abrek mata pelajaran apalagi mata pelajaran yang hafalan. 
Sebenarnya di kelas satu semua masih sama mendapatkan pelajaran yang sama, lalu 
penjurusan. Nah penjurusan ini ada banyak cara yang dilakukan oleh sekolah—ada 
yang dengan tes intelegensi, ada dengan DAT (Differential Aptitude Test), dan 
lain-lain...(mungkin sudah ada yang menerapkan konsultasi dengan mendengarkan 
apa yang jadi minat peserta didik sehingga tes menjadi tidak mutlak)..soale 
jamanku SMA hanya berdasarkan skor IQ saja..jadi kalau tidak memenuhi level IQ 
tertentu untuk masuk A1 (ilmu-ilmu fisika) maka ya tidak boleh masuk ke A1. 
Jadinya yang betul memang bahwa yang masuk ke Ilmu-ilmu Bahasa itu orang 
buangan (meski ada juga yang berniat serius lho..). Dari
 pengalaman memang menyedihkan dengan pembagian seperti itu—akhirnya timbul 
gradasi dan favoritsm yang tidak bisa dihindari, yang A1 dianggap paling hebat, 
kemudian A2, dstnya...dan efeknya ternyata tidak berhenti di situ tapi sampai 
pada pembentukan pola berpikir peserta didik.

  Sudah agak lama beberapa waktu lalu saya diskusi dengan pak Fuad Hasan 
mengenai pendidikan dasar sampai menengah--memang tidak ada jalan yang mudah 
untuk memasuki era baru--di persimpangan tempat kita berdiri, hanya ada jalan 
yang sulit bagi pendidikan dan terutama untuk menciptakan kesepakatan bersama. 
Dalam proses ini, sekolah dapat dan harus menunjukkan kepemimpinan. Melalui 
kajian masyarakat dan permasalahannya, sekolah harus mengabdikan diri bagi 
pengembangan generasi muda yang peka, berpikiran jernih, punya keberanian dan 
percaya diri, dapat memahami kehidupan Indonesia sebagaimana terlihat saat ini 
dan mempunyai determinasi untuk melahirkan peradaban besar bagi mereka dan 
keturunannya. Untuk itu kehidupan dan program sekolah harus dirancang langsung 
dari kebudayaan masyarakat, bukan dari kurikulum yang selama ini diterapkan 
(ala klasik--selalu saja membandingkan dengan negara-negra maju yang sudah 
sekian puluh langkah di depan kita..)---ini yang masih luput dari
 tim nya BSNP-menurut saya. Sekarang bukan saatnya membangun sekolah yang 
berpusat pada mata pelajaran, tapi sekolah yang berpusat pada masyarakat dan 
sekolah yang berpusat pada peserta didik—student centered ini yang sudah di 
akomodasi oleh BSNP dalam merancang standar-standar yang mereka buat—tinggal 
implementasi di lapangan nya seperti apa...dan masihkah dengan pola lama tidak 
tuntas melaksanankannya lalu main potong ganti lagi..ganti lagi...

  -CI-


manneke budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Bukan cuma peminat jurusan bahasa atau A3 sedikit, Bu Cornelia. Tapi, 
memang jurusan itu isinya anak-anak "buangan" yang nggak fit masuk IPA ataupun 
IPS. Contohnya, ya saya sendiri. He he he. Saya dulu masuk Bahasa. Awalnya 
terpaksa, tapi lama-lama demen. Akhirnya saya malah merasa at home di jurusan 
bahasa, sedang teman-teman lain terus saja menyesali nasib kenapa sampai masuk 
ke jurusan buangan.

Tapi Anda benar bahwa kalo sastra cuma diajarkan di jurusan Bahasa (yang 
anak-anaknya rata-rata malah benci sastra), ya sami mawon.

Sistem penjurusan di SMU ini juga ternyata ada problemnya. Siswa jadi sangat 
terkotak-kotak bahkan sebelum mereka duduk di bangku universitas. Yang jurusan 
Bahasa nggak ngerti biologi dan fisika sama sekali, yang jurusan IPS cuma 
ngerti IPS dan ekonomi, sedang yang jurusan IPA sama sekali tak bersentuhan 
dengan sastra dan sejarah.

Apakah perlu diperkenalkan sistem pendidikan liberal yang memungkinkan siswa 
memperoleh sejumlah mata pelajaran dasar (tak peduli apapun jurusannya), 
seperti matematika, ilmu sosial, ilmu alam, seni dan bahasa?

manneke

Kirim email ke