Ya betul, jaman sekarang bukan jamanya suwargo nunut neraka katut ( suarga ikut dan ke neraka pun ikut). Perempuan seyogyanya menjadi pendamping suami agar suami kelak masuk surga bersama-sama. Perempuan bukannya pasive dan hanya menerima apa yang diberikan oleh suami walau itu hasil korupsi. Selamatkan suami agar istri dan keluarga selamat dunia akherat. Dan tentu saja surga yang didambakan. Bukan kemewahan duniawi. Dan yang penting perempuan tidak lagi dicap sebagai penyebab suami melakukan korupsi . Salam Bu Reni ----- Original Message ---- From: si_andi <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] Sent: Wednesday, April 11, 2007 11:37:33 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: perempuan calon penghuni neraka
Pengamatan saya, tidak semua orang paham mana yang korupsi mana yang tidak. Mungkin kalau suaminya terima sogokan (untuk membelokkan aturan, umpamanya) terus didukung isterinya, ya kebangetan kalau lantas isterinya yang disalahkan. Wong sudah jelas begitu masih nanya. Tapi kan ada juga korupsi yang abu-abu. Apakah menerima uang terima kasih yang tidak pernah dijanjikan sebelumnya, diberikan setelah transaksi selesai, dan transaksinya sendiri berjalan sesuai aturan termasuk korupsi? Mungkin buat sebagian besar kita hal ini jelas sekali, sejelas hitam dan putih. Tapi percaya saya, ketika saya beri contoh soal tersebut ke beberapa orang yang saya kenal kuat moralnya, mereka jatuh ragu menilai apakah itu korupsi atau tidak. Seorang suami dalam keragu-raguan begitu kemungkinan besar akan minta pertimbangan isterinya; dan kalau isterinya cenderung ke "the dark side", maka sama-sama masuk juranglah mereka, dan BEGITU JUGA SEBALIKNYA (kalau peranannya dibalik). Jadi sebelum saya dituduh mendukung perempuan sebagai calon penghuni neraka, pendapat saya adalah: dalam hal korupsi saya percaya pasangan kita (ya suami, ya isteri) memegang peranan besar dalam mendorong atau menarik kita dari kejahatan. Andi
