Dear Pak Dwiyatno,
Saya juga melihat acara yang dibawakan Rosiana tersebut tadi malam di SCTV.
Saya juga sependapat dengan anda bahwa sebenarnya IPDN/STPDN itu adalah sebuah
institut yang sangat BOROKAN dan sudah "acute" banget borok nya.
Yang saya kurang paham mengapa jika Bapak Ryas Rasyid mempunyai sedikit
pengetahuan betapa BOBROK nya IPDN tersebut, kok tidak pernah menyinggung
sedikitpun, misalnya bisa menulis lewat koran ataupun tulisan tersamar, bukan?
Pantas Indonesia ini system pemerintahan nya dan Hukum nya sangat BOBROK.
Soalnya orang-orang yang menjabat dalam pemerintahan dipusat maupun didaerah
mendapatkan pendidikan yang sangat merendahkan MARTABAT anak bangsa di IPDN.
Dan para ahli hukum nya diteror untuk menuruti kemauan pemegang pemerintahan
tersebut. Jika tidak menurut... dibunuh.
Jika setiap hari dididik dengan cara-cara yang tidak bermoral dan tidak
bermartabat, maka gambaran pemerintahan Indonesia yang ada sekarang ini, ya
karena dihasilkan dari institusi yang amat tidak bermartabat dan bermoral
tersebut.
Setiap hari sudah didera untuk BERBOHONG; MENGELABUI; dan bertindak BEJAT -
dengan PEMBUNUHAN berselubung (menyuntikan formalin kebadan jenazah, agar tidak
terlihat bahwa tubuh tersebut sudah habis dipukuli disekujur badan nya, ber
ramai-ramai).
Dan jika didepan WAPRES Yusuf Kalla (dan disorot camera) saja berani
berbohong, apalagi dengan rakyat kecil yang tidak punya wewenang dalam
pemerintahan, dan tidak terlihat kasat mata.
Jadi apa gunanya Indonesia ini mempunyai PRESIDEN dan WAKIL PRESIDEN, jika
para bawahan nya yang akan menjalankan tugas-tugas pemerintahan, selalu
berbohong dalam menjalankan tugas-tugas yang datangnya dari Presiden dan Wakil
Presiden?!
Pendidikan mereka setiap hari harus berbohong, KORUPSI itu juga BERBOHONG,
bukan? Jadi latihan kebohongan itu sudah diterapkan selama bertahun-tahun dalam
pendidikan para Praja tersebut.
Makanya INDONESIA ini adalah NEGARA NOMER SATU DIDUNIA DALAM HAL KORUPSI,
sekarang saya tahu darimana sumber keahlian untuk menjalankan korupsi itu
didapatkan!
Dan lucunya, para PREMAN yang berani nya hanya ber ramai-ramai menghajar satu
orang tersebut, pada menutupi wajahnya dari "camera" sewaktu dibawa kekantor
polisi. Kok punya rasa MALU ya?! Masya Allah...mau menjadi negara yang
bagaimana Indonesia ini?
Salam prihatin,
Yuli
Dwiyatno Rumlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Kalau saya sangat sebal dengan kebohongan publik yang telah dilakukan
IPDN/STPDN. Di wawancara yang dipandu Rossi itu baru saya tahu bahwa dimalam
setelah Clif ketahuan meninggal dianiaya itu, hampir saja terjadi perang besar
antara praja nindya dan praja madya, yang untungnya bisa dicegah oleh pembina.
Dengan fakta ini, berarti seluruh praja dan pembina, bahkan saya yakin rektor
juga, sudah tahu bahwa Clif meninggal karena dianiaya. Lha kenapa kok statemen
yang keluar katanya Clif sakit lever ?! Ini benar2 kebohongan publik yang
dilakukan oleh sekolah yang dibiayai negara .......... Luar Biasa. Entah siapa
yang mengeluarkan statemen bahwa clif meninggal karena lever tersebut harus
mempertanggungjawakan ucapanya, kalau memang niatnya menipu publik, harus ada
hukumanya ..............
Berarti pula, praja yang diwawancari wapres itu juga terbukti berbohong, wong
katanya dia tidur dan tidak tahu apa-apa ..............
salam